Sindrom Nefrotik; Gejala, Penyebab, dan Penanganan

sindrom nefrotik

Sindrom nefrotik (SN) adalah penyakit pada ginjal yang menyebabkan tubuh terlalu banyak membuang protein lewat urin. Penyakit ini disebabkan oleh dua faktor; yaitu faktor primer (dari ginjal) dan sekunder (di luar ginjal dan biasanya bersifat sistemik).

Go Dok- Pernahkah Anda mendengar sindrom nefrotik? Apakah itu dan bagaimana cara menanganinya? Simak pemaparannya melalui artikel khas Go Dok berikut ini!

Mengenal Sindrom Nefrotik

Sindrom nefrotik (SN) adalah penyakit pada ginjal yang menyebabkan tubuh terlalu banyak membuang protein lewat urin. Penyakit ini dapat dialami oleh siapa saja. Namun, umumnya pertama kali diketahui pada anak- anak dengan puncak insiden pada usia 2- 5 tahun.

Ginjal memiliki bagian bernama glomerulus yang bertanggung jawab menyaring darah. Normalnya, bagian ini akan menyaring elektrolit dan sisa-sisa metabolit yang ada di dalam darah untuk dikeluarkan melalui urin dan meninggalkan protein untuk tetap di dalam darah.

Gangguan pada glomerulus akan mengakibatkan protein albumin dapat melewati membran basal dan celah-celah yang terbentuk antar sel podosit. Protein akan melewati celah antar sel podosit tersebut dan keluar melalui urin.Berkurangnya protein albumin dalam pembuluh darah akan mengganggu tekanan onkotik pembuluh darah sehingga menyebabkan cairan dalam pembuluh darah ‘merembes’ keluar ke jaringan sekitar.

Tidak hanya itu, ginjal juga akan mengeluarkan natrium untuk mengimbangi tekanan onkotik yang turun. Hal ini menyebabkan tekanan darah meningkat. Tekanan darah yang meningkat juga semakin membuat cairan dalam pembuluh darah merembes semakin banyak ke jaringan. Kedua hal ini lah yang menyebabkan penderita SN akan mengalami pembengkakan yang menyeluruh (edema anasarka) pada tubuhnya.

Gejala

Penderita sindrom nefrotik akan merasa gejala seperti:

  1. Lemas.
  2. Urin yang berbusa.
  3. Kehilangan nafsu makan.
  4. Hipertensi.
  5. Garis putih pada kuku (Muehrcke’s band) merupakan tanda hipoalbuminemia.
  6. Edema anasarka (generalisata) menyebabkan pertambahan berat badan.
  7. Pada urinalisis dapat ditemukan oval fat bodies.

Jika diuji secara klinis dan laboratoris, gejala yang tampak pada penderita SN adalah:

  1. Proteinuria masif >3,5 g/ 24 jam, 
  2. Hiperlipidemia,
  3. Edema anasarka, dan
  4. Hipoalbuminemia < 3,5 g/dL.
Penyebab

Sindrom nefrotik disebabkan oleh dua faktor; yaitu faktor primer (dari ginjal) dan sekunder (di luar ginjal dan biasanya bersifat sistemik).

Penyebab primer yang paling banyak ditemukan adalah:

  • Minimalchange nephropathy,
  • Focal glomerulosclerosis,
  • Membranous nephropathy
  • Hereditary nephropathies.

Sedangkan, penyebab sekunder yang paling umum adalah:

Faktor Risiko

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang berisiko terjangkit sindrom nefrotik, yaitu:

  • Diabetes melitus tipe 1 pada anak-anak
  • Diabetes tipe 2 pada orang dewasa
  • Genetik
  • Riwayat lupus
  • Riwayat infeksi HIV.
Diagnosis & Pemeriksaan

Untuk dapat mendiagnosa penyakit sindrom nefrotik, dokter akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis pasti penyakit ini. Pemeriksaan laboratorium yang biasa dikerjakan meliputi:

  • Darah perifer lengkap
  • Cek albumin dan fungsi ginjal yang direpresentasikan dengan nilai BUN (Blood Urea Nitrogen)
  • Tes fungsi hati (SGOT/SGPT)
  • Profil lipid (LDL, HDL, Trigliserida)
  • Serum elektrolit
  • Gula darah
  • Analisa urin untuk menemukan keberadaan albumin atau sel darah pada sedimen urin
  • Urin dipstick
  • Protein urin kuantitatif 24 jam untuk mengetahui jumlah protein yang terbuang setiap harinya
  • Pemeriksaan titer ANA, Anti dsDNA, C3, C4, HbSAg, Anti HCV, Anti HIV untuk mencari tahu keberadaan infeksi virus
  • Biopsi untuk melihat struktur ginjal dibawah mikroskop.
Penanganan

Terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengobati sindrom nefrotik. Biasanya, penderita akan memerlukan rawat inap dan akan diberikan obat kombinasi diuretik (loop diuretic dan thiazide) untuk mengurangi bengkak. Kemudian, dokter biasanya akan memberikan obat penghambat ACE (Angiotensin-Converting Enzyme) atau ARB (Angiotensin Receptor Blocker) sebagai antiproteinuria dan obat golongan statin untuk mengobati hiperlipidemia.

Penyebab mendasar juga perlu diobati untuk menuntaskan penyakit ini. SN yang disebabkan oleh sebab primer biasanya akan diobati dengan golongan kortikosteroid. Sedangkan, penyebab sekunder akan ditangani sesuai penyakit yang mendasarinya.

Selain cara-cara tersebut, pasien juga ditangani secara nonfarmakologis agar penyakit tidak semakin parah. Penderita SN harus menjaga asupan dietnya. Pola makan yang dianjurkan untuk pasien SN adalah rendah garam (Na <2 g/hari), rendah lemak jenuh serta rendah kolesterol. Asupan protein juga harus ditingkatkan sebanyak 0,8 g/KgBB/hari ditambah dengan ekskresi protein dalam urin selama 24 jam. Jika fungsi ginjal menurun, asupan protein diturunkan menjadi 0,6 g/KgBB/hari ditambah dengan ekskresi protein dalam urin selama 24 jam.

Penderita juga disarankan untuk membatasi asupan cairan untuk membantu mengurangi bengkak. Selain itu. Sebaiknya penderita menghindari obat-obatan yang bersifat merusak ginjal, seperti obat golongan OAINS, antibiotik golongan aminoglikosida, dan sebagainya.

Komplikasi

Terdapat beberapa komplikasi yang disebabkan oleh sindrom nefrotik, yaitu:

  • Hiperkoagulabilitas. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya protein dalam darah menyebabkan terganggunya sistem pembekuan darah. Hal ini dapat menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah dibagian mana saja.
  • Infeksi. Terdapat beberapa infeksi yang sering terjadi, seperti pneumonia, peritonitis, dan selulitis. Infeksi menjadi lebih rentan terjadi karena cairan yang menumpuk di jaringan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri. Kulit penderita juga menjadi rapuh, sehingga kuman pun mudah memasuki tubuh. Ditambah lagi, rendahnya protein pada penderita menyebabkan sistem imunitas menurun.
  • Gangguan fungsi ginjal seperti gangguan ginjal akut dan penyakit ginjal kronis (PGK). Gangguan ginjal akut dapat muncul dari berbagai penyebab pada pasien SN. Pasien SN juga berisiko mengalami penyakit ginjal kronis.
  • Gangguan keseimbangan nitrogen. Keseimbangan nitrogen menjadi negatif karena adanya proeinuria masif. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan massa otot sebesar 10-20% (muscle wasting).
  • Penyakit kardiovaskular. Hal ini dikarenakan kadar lemak darah yang tinggi meningkatkan resiko terjadinya penyumbatan pembuluh darah jantung.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.

NY/NA/MA

Referensi