Sepsis; Gejala, Penyebab dan Penanganan

sepsis

Sepsis merupakan respon tubuh lebih lanjut terhadap infeksi di mana toksin atau agen biologis dilepaskan ke dalam sirkulasi darah sehingga terjadi proses peradangan. Sepsis juga merupakan keadaan klinis yang behubungan dengan manifestasi klinis SIRS (Systemic Inflamatory Response Syndome).

GoDok – Sepsis- Pernahkah Anda menderita infeksi pada paru-paru, usus, atau saluran kemih? Jika pernah, atau justru sedang menderita, waspadalah pada kondisi yang disebut sepsis. Tidak main-main, kondisi ini dapat membuat rusaknya fungsi organ tubuh tertentu, serta tekanan darah rendah. Untuk mencegahnya terjadi, kenali lebih dekat mengenai gejala, penyebab, dan penanganan sepsis berikut ini.

Mengenal sepsis

Sepsis merupakan respon tubuh lebih lanjut terhadap infeksi di mana toksin atau agen biologis dilepaskan ke dalam sirkulasi darah sehingga terjadi proses peradangan. Sepsis juga merupakan keadaan klinis yang behubungan dengan manifestasi klinis SIRS (Systemic Inflamatory Response Syndome).

Sepsis berat adalah sepsis yang disertai dengan rusaknya fungsi organ, penurunan aliran darah pada organ tertentu, tekanan darah rendah, keluaran urin yang sedikit hingga penurunan kesadaran. Sementara itu, sepsis dengan tekanan darah rendah terjadi jika tekanan darah sistolik Anda <90 mmHg atau penurunan tekanan darah sistolik >40 mmHg dengan tidak ditemukannya penyebab lain.

Hal yang cukup meresahkan dari terjadinya sepsis, adalah syok septik. Syok sendiri merupakan keadaan gangguan sirkulasi pada tubuh yang menyebabkan jaringan tubuh kekurangan oksigen, sehingga akhirnya mengganggu metabolisme sel maupun jaringan. Penyebab syok bermacam – macam, seperti perdarahan, kelainan jantung (infark miokard), emboli paru, dan sepsis. Saat disebabkan oleh datangnya sepsis, kondisi ini akan disebut syok septik, yang merupakan keadaan gawat darurat dan memerlukan pertolongan segera. Semakin cepat ditangani, syok akan semakin cepat teratasi, meningkatkan keberhasilan pengobatan, dan meminimalisir terjadinya kerusakan organ.

Berdasarkan data di Amerika Serikat, diperkirakan lebih dari 1.000.000 orang terkena sepsis sejak tahun 1997 hingga 2000. Selain itu, penelitian lain pun melaporkan angka kejadian penyakit ini dan syok septik meningkat dari 13 menjadi 78 kasus per 100.000 orang di antara tahun 1998 dan 2009. Terakhir, berdasarkan data internasional, angka kejadian sepsis secara global adalah 437 per 100.000 pada tahun 1995 hingga 2015.

Gejala

SIRS adalah respon tubuh terkait dengan infeksi yang mencakup 2 atau lebih keadaan berikut :

  • Suhu tubuh >38oC atau <36oC
  • Frekuensi jantung >90 kali/menit
  • Frekuensi napas >20 kali/menit atau PaCO2<32 mmhg
  • Leukosit darah > 12.000/mmatau <4000/mm3 atau batang >10%

Bila tidak segera ditangani,  hal ini menyebabkan syok septik yang ditandai dengan :

  • Tekanan darah menurun dengan cepat
  • Tubuh menjadi dingin
  • Otot penderita merasakan sakit yang luar biasa
  • Penurunan denyut jantung
  • Penurunan produksi urin
  • Penderita terlihat bingung
  • Mual dan muntah
  • Penurunan kesadaran
Penyebab

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sepsis merupakan respon tubuh terhadap suatu infeksi. Adapun, infeksi yang memicunya antara lain adalah :

  • Infeksi pada paru-paru
  • Infeksi pada lapisan perut bagian dalam
  • Infeksi pada usus
  • Infeksi pada saluran kemih

Infeksi yang lama dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang dapat membuatnya menyebar ke seluruh tubuh. Hal ini membuat sistem kekebalan tubuh tidak dapat mengendalikan fungsi tubuh sebagaimana mestinya. Akhirnya, timbulah peradangan pada seluruh tubuh, yang  disebut sebagai sepsis. Keadaan ini juga membuat organ – organ pada tubuh kekurangan oksigen akibat kurangnya pengiriman oksigen ke seluruh tubuh. Terjadilah kerusakan organ dan tentunya kondisi ini dapat menyebabkan kematian.

Faktor risiko

Berikut adalah beberapa keadaan serta kondisi tubuh maupun usia yang dapat memicu terjadinya sepsi sataupun syok septik :

  • Penderita yang berada di ICU (Intenssive Care Unit) terlalu lama

Diperkirakan 50% kasus sepsis terjadi pada pasien yang terlalu lama di rawat di ICU. Hal ini juga merupakan faktor risiko yang tinggi untuk terjadinya penyakit ini.

  •  Bakteremia

Bakteremia adalah suatu kondisi di mana terdapat bakteri pada aliran darah. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa sebanyak 95% kasus sepsis didapati hasil tes darah yang positif bakteremia.

  • Usia lebih dari 65 tahun

Berdasarkan data yang ada, diketahui bahwa jumlah kasus sepsis lebih besar pada mereka yang berusia lebih dari 65 tahun. Keadaan ini juga meningkatkan angka kematian karena kondisi imun seseorang pada usia tersebut sudah menurun.

  • Keadaan imun yang lemah

Kondisi ini umumnya terjadi pada keadaan gagal ginjal, gagalnya fungsi hati, maupun AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome)

  • Penyakit lain seperti diabetes dan kanker

Penyakit kencing manis (diabetes) dan kanker memungkinkan sistem kekebalan tubuh menjadi menurun.

  • Penyakit paru-paru

Kondisi ini umumnya ditemukan pada penderita yang mengalami pneumonia dan berkembang menjadi  sepsis berat.

  •  Faktor genetik

Studi ekesperimen dan klinis mengonfirmasi bahwa faktor genetik juga kerap meningkatkan risiko terjadinya infeksi. Hal ini berhubungan pula dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang dan tidak merespon pada mikroorganisme di dalam tubuh.

Diagnosis

Seseorang dapat secara positif terdiagnosis sepsis apabila ia mengalami 2 atau lebih keadaan SIRS yang telah dijabarkan sebelumnya. Untuk mendeteksi keadaan tersebut, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik meliputi tekanan darah, nadi, suhu, dan frekuensi pernapasan. Untuk mencari penyebab terjadinya sepsis pada penderita, dokter akan dilakukan pemeriksaan darah, dahak, sampel urin, dan tinja. Di samping itu, pemeriksaan dengan rontgen, USG, dan CT scan juga akan dilakukan.

Penanganan

Penanganan penyakit ini merupakan penanganan yang berkelanjutan serta berkesinambungan. Tindakan ini dilakukan dengan mengeliminasi kemungkinan penyebab infeksi, sumber infeksi tindakan bedah jika diperlukan, terapi antimikroba yang sesuai, terapi suportif dan imunologi jika terjadi respon imun terhadap infeksi.

Harus diingat bahwa penangannan syok septik pada penderita dengan tekanan darah rendah perlu dilakukan secepat mungkin dan dilakukan secara  intensif selama 6 jam pertama. Untuk lebih lengkapnya, berikut adalah langkah-langkah penanganan syok septik :

1. Pemberian oksigen

Keadaan kekurangan oksigen dapat terjadi pada penderitanya. Hal ini akan berdampak pada fungsi dan gagalnya sistem pernapasan karena gangguan berupa keluar masuknya udara pada sistem tubuh. Akibatnya, pengiriman oksigen ke organ dan jaringan tubuh pun akan terganggu akibat kurangnya cairan. Fungsi jantung juga akan menjadi tidak normal sehingga frekuensi detak jantung menurun. Hal ini harus diatasi dengan pemberian oksigen sebagai upaya meningkatkan jumlah oksigen di darah dan memperbaiki pengaturan jaringan tubuh.

2. Terapi cairan

Tak hanya kekurangan oksigen, keadaan kurangnya cairan dapat pula terjadi pada penderita penyakit ini. Hal ini perlu segera diatasi dengan pemberian cairan melalui infus. Pemberian cairan harus terus dimonitor kecukupannya agar tidak kurang atau berlebihan. Respon dari penatalaksanaan ini dapat terlihat dari perbaikan kesadaran penderita, volume urin, tekanan darah, dan frekuensi jantung.

3. Pemberian obat peningkat tekanan darah dosis kecil

Jika kebutuhan cairan yang dibutuhkan sudah teratasi, maka obat peningkat tekanan darah akan diberikan. Pemberian ini dipertimbangkan melalui kondisi tekanan darah penderita. Jika tekanan darah sistolik penderita <90 mmhg, maka penderita akan diberikan obat peningkat tekanan darah dalam dosis kecil. Hal ini pun akan terus dipantau oleh tenaga medis melalui tingkat kesadaran dan produksi urin yang dapat menggambarkan adanya perbaikan  fungsi organ pada penderita.

4. Nutrisi

Nutrisi merupakan kebutuhan dasar para penderita sepsis. Pada kondisi ini, stres dapat dengan mudah terjadi dan menyebabkan gangguan metabolisme berbagai zat nutrisi. Kebutuhan nutrisi yang meliputi kalori, protein, asam lemak, cairan, vitamin serta mineral perlu diberikan secepat mungkin. Pemberian nutrisi ini akan diusahakan lewat makanan dan minuman. Namun jika tidak memungkinkan, pemberian nutrisi akan dilakukan melalui infus.

6. Pengendalian gula darah

Pengendalian gula darah terbukti bermanfaat terhadap penurunan kondisi pada arah yang lebih berat. Selain itu, proses peradangan dapat pula dikontrol ketika pengendalian gula darah juga terkontrol dengan baik.

Nah, itu tadi penjelasan lengkap seputar SEPSIS. Semoga bermanfaat!

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.