Benarkah Sabun Antiseptik Efektif Membunuh Kuman dan Bakteri?

sabun antiseptik efektif membunuh kuman
Sabun antiseptik efektif membunuh kuman dan bakteri, benarkah?  Faktanya, justru beberapa penelitian menemukan bahwa kandungan tersebut tidak lebih efektif dibandingkan sabun biasa dalam membasmi kuman. Yuk, simak penjelasan lengkapnya!

GoDok – Dewasa kini, banyak dari Anda yang merasa lebih aman jika mandi menggunakan sabun antiseptik ketimbang mandi dengan menggunakan air dan sabun biasa. Pasalnya, masih banyak pula masyarakat yang percaya bahwa penggunaan produk berlabel antiseptik -baik sabun mandi, cairan antiseptik, tisu basah, maupun semprotan anti-kuman- mampu secara efektif membunuh bakteri penyebab penyakit. Kandungannya, yaitu triclosan (TCS), digadang-gadang dapat membasmi kuman dan bakteri lebih cepat dari kandungan di sabun biasa.

Benarkah demikian ? Tidak juga. Faktanya, justru beberapa penelitian menemukan bahwa kandungan tersebut tidak lebih efektif dibandingkan sabun biasa dalam membasmi kuman. Penasaran? Yuk, simak penjelasannya berikut ini!

Triclosan, bahan dasar produk antiseptik

Sampai dengan saat ini, triclosan masih sering digunakan sebagai salah satu jenis bahan yang digunakan berbagai macam produk seperti pasta gigi, obat jerawat, detergen pembersih rumah dan sabun antiseptik. Triclosan sendiri adalah jenis bahan kimia aktif yang penggunaanya banyak ditemukan sebagai bahan dasar produk antiseptik. Dari banyak merek sabun antibakteri yang beredar luas, 30% di antaranya mengandung triclosan. Sebagian besar produk yang menggunakan triclosan akan mengklaim mampu membunuh bakteri dengan persentase yang cukup tinggi.

Triclosan sebagai bahan dasar sabun antiseptik

Sejatinya, triclosan yang ditambahkan ke dalam pasta gigi, memang terbukti mampu mencegah peradangan pada gusi. Namun sebaliknya, penggunaan triclosan sebagai salah satu bahan dalam produk antiseptik justru akan berdampak buruk pada kesehatan, seperti :

1. Perubahan Hormonal

Efek hormonal mempengaruhi seluruh sistem endokrin, dari pertumbuhan organ vital dan respon terhadap pelepasan bahan kimia penting dalam tubuh. Perubahan hormonal yang terjadi akan memberikan efek jangka panjang bagi kesehatan seperti mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, kesuburan, kehamilan, pubertas terlalu cepat, dan masih banyak lagi.

2. Munculnya penyakit kanker

Ketika triclosan mengalami degradasi oleh tubuh, maka triclosan akan mengalami perubahan menjadi dioksin. Dioksin adalah karsinogen yang dikaitkan sebagai munculnya berbagai jenis kanker. Tidak hanya itu, triclosan dapat memanifestasikan diri ketika masuk ke dalam tubuh sehingga mengakibatkan pertumbuhan sel menjadi tidak terkendali. Hasilnya, penyakit kanker akan timbul tanpa terduga.

(Baca: Katakan Tidak Pada Kanker di Hidup Anda!)

3. Timbulnya alergi

Jarang yang mengetahui bahwa terlalu sering terkena paparan triclosan dapat menimbulkan reaksi alergi pada anak-anak. Sebuah studi di Norwegia meneliti efek dari triclosan pada anak-anak usia 10 tahun. Studi ini menemukan bahwa konsentrasi triclosan dalam sampel urin berhubungan erat dengan sensitivitas alergi. Lebih lanjut, hasil studi lain yang diterbitkan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology juga berhasil menemukan bahwa triclosan dapat menyebabkan mutasi yang dapat menyebabkan reaksi alergi pada jenis makanan tertentu.

4. Resistensi bakteri

Kandungan triclosan pada sabun antibakteri memiliki potensi untuk membuat bakteri memperoleh resistensi. Resistensi adalah proses yang terjadi ketika bakteri terkena triclosan sehingga menyebabkan bakteri akan mengalami mutasi genetik. Mutasi yang terjadi tidak hanya membuat bakteri menjadi kebal terhadap triclosan namun juga akan mengakibatkan bakteri menjadi sulit untuk dibunuh oleh antibiotik.

Lalu, bagaimana efektivitas sabun antiseptik dalam membunuh kuman dan bakteri?

Menurut AS Food and Drug Administration (FDA), tidak ada bukti sah yang menunjukkan bahwa membersihkan tubuh menggunakan sabun antiseptik lebih efektif membunuh kuman dan bakteri dibandingkan membersihkan tubuh menggunakan sabun biasa. Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian sejenis yang diterbitkan dalam Journal of Antimicrobial Chemotherapy dan Oxford Journal of Infectious Disease, yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara sabun antiseptik dan sabun biasa. Kesimpulannya, sabun dan cairan antiseptik sebenarnya tidak lebih efektif dari sabun biasa dalam membunuh kuman dan bakteri sebagai penyebab penyakit.

Comments are closed.