Osteoporosis; Penyebab, Gejala dan Penanganan

osteoporosis

Osteoporosis merupakan suatu kondisi di mana massa tulang seseorang berkurang secara nyata yang berakibat pada rendahnya tingkat kepadatan tulang, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.

GoDok- Osteoporosis- Anda tentu sudah tak asing lagi dengan istilah ini. Kondisi yang menyebabkan kerapuhan pada tulang ini biasanya dialami oleh mereka yang sudah berusia di atas 45 tahun. Meski begitu, bukan tidak mungkin kondisi ini dapat terjadi pada Anda yang berada di luar usia tersebut. Untuk mencegahnya terjadi, mari kenali gejala, penyebab, serta langkah penanganannya berikut ini.

Mengenal osteoporosis

Osteoporosis merupakan suatu kondisi di mana massa tulang seseorang berkurang secara nyata yang berakibat pada rendahnya tingkat kepadatan tulang, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Penyakit ini disebut pula sebagai penyakit tulang rapuh atau tulang keropos. Selain itu, penyakit ini juga diistilahkan sebagai penyakit silent epidemic, karena penderita seringkali tidak menunjukkan gejala apapun sehingga akhirnya terjadi fraktur (patah) pada tulang.

Para ahli tulang Indonesia sepakat bahwa dengan meningkatnya harapan hidup rakyat Indonesia, penyakit terkait kerapuhan tulang justru akan sering dijumpai. Sejak tahun 1990 hingga 2025, akan terjadi kenaikan jumlah penduduk Indonesia sampai 41,4% dan penyakit ini selalu menyertai usia lanjut baik wanita maupun laki-laki.

Secara medis, penyakit ini dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu :

1. Osteoporosis Primer

  • Osteoporosis primer tipe 1 adalah osteoporosis pasca menopause.
  • Osteoporosis primer tipe II adalah osteoporosis senilis yang biasanya terjadi lebih dari usia 50 tahun.
  • Osteoporosis tipe III adalah osteoporosis idiopatik merupakan osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui.

2. Osteoporosis sekunder

Osteoporosis sekunder terjadi karena adanya penyakit tertentu yang dapat mempengaruhi kepadatan massa tulang dan gaya hidup yang tidak sehat.

Penyebab

Secara umum, terdapat dua kondisi yang dapat menjadi penyebab utama penyakit ini, yaitu :

-Pembentukan massa puncak tulang selama masa pertumbuhan

-Meningkatnya pengurangan massa tulang setelah menopause.

Perlu Anda ketahui bahwa massa tulang akan meningkat secara konstan dan mencapai puncaknya pada usia 40 tahun pada pria, dan pada usia 30 – 35 tahun pada wanita. Meski demikian, tulang yang hidup tidak pernah beristirahat dan akan selalu mengadakan remodelling serta memperbaharui cadangan mineralnya.

Proses remodelling ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

+Faktor lokal. Di mana protein mitogenik merangsang preosteoblas supaya membelah menjadi osteoblast.

+Faktor hormonal. Di mana proses remodelling akan ditingkatkan oleh hormon paratiroid, hormon pertumbuhan, dan vitamin D.

Sedangkan yang menghambat proses remodelling adalah kalsitonin, estrogen, dan glukokortikoid. Proses-proses yang mengganggu remodelling tulang inilah yang menyebabkan osteoporosis. Selain gangguan pada proses remodeling, faktor lainnya adalah pengaturan metabolisme kalsium dan fosfat. Faktor lain yang berperan adalah hormon tiroid, glukokortikoid dan insulin, vitamin C dan inhibitor mineralisasi tulang.

Faktor risiko

Berikut adalah beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami ini :

-Usia. Tiap peningkatan 1 dekade, resiko meningkat

-Jenis kelamin. Wanita > pria; Insiden penykit ini lebih tinggi pada wanita dibandingkan laki-laki dikarenakan problema pada wanita pascamenopause.

-Lingkungan, dan lainnya. Defisiensi kalsium, aktivitas fisik kurang, obat-obatan (kortikosteroid, anti konvulsan, heparin, siklosporin), merokok, konsumsi alkohol, riwayat terjatuh (gangguan keseimbangan, licin, gangguan penglihatan)

-Hormonal dan penyakit kronik. Defisiensi estrogen, androgen, tirotoksikosis, hiperparatiroidisme primer, hiperkortisolisme, penyakit kronik (sirosis hepatis, gangguan ginjal, gastrektomi).

Gejala

Tanda klinis atau gejala utama dari penyakit ini adalah fraktur pada tulang belakang (vertebra), pergelangan tangan, pinggul, humerus, dan tibia. Selain itu, gejala yang paling umum dari adalah munculnya rasa nyeri pada punggung dan deformitas pada tulang belakang.

Dalam proses diagnosis, seorang dokter umumnya akan menjadi waspada terhadap kemungkinan terjadinya penyakit ini jika didapatkan tanda-tanda berupa :

  • Patah tulang akibat trauma yang ringan.
  • Perawakan tubuh yang semakin pendek, kifosis dorsal bertambah, dan adanya nyeri tulang.
  • Gangguan otot (kaku dan lemah)
  • Secara kebetulan ditemukan gambaran radiologik yang khas.
Diagnosis

Biasanya, diagnosis penyakut ini menjadi sulit dinilai secara klinis, karena tidak ada rasa nyeri pada tulang saat penyakit ini terjadi, meskipun sudah memasuki fase tingkat lanjut. Khususnya pada wanita-wanita menopause dan pasca menopause, akan muncul rasa nyeri di daerah tulang dan sendi yang seringkali dihubungkan dengan rasa nyeri akibat defisiensi estrogen.

Selain itu, tinggi serta berat badan juga harus diukur pada setiap penderitanya. Penilaian juga harus dilakukan pada gaya berjalan penderita, gejala deformitas tulang, serta nyeri spinal. Penderita penyakit ini seringkali menunjukkan kifosis dorsal atau gibbus dan penurunan tinggi badan. Jika diperlukan, dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan pada densitas tulang Anda.

Penanganan

Terapi pada osteoporosis sejatinya terbagi menjadi dua, dengan mempertimbangkan dua hal yang menyertainya. Terapi yang pertama adalah terapi pencegahan, yang pada umumnya bertujuan untuk menghambat hilangnya massa tulang. Hal ini dilakukan dengan cara memperhatikan asupan makanan, latihan fisik (senam pencegahan osteoporosis), serta pola hidup yang aktif. Selain itu, penderita sebaiknya juga menghindari obat-obatan dan jenis makanan yang dapat meningkatkan risiko bertambah parahnya penyakit ini, seperti alkohol, kafein, diuretika, sedatif, dan kortikosteroid.

Selain pencegahan, tujuan dari terapi osteoporosis adalah meningkatkan massa tulang dengan melakukan pemberian obat-obatan, seperti hormon pengganti (estrogen dan progesterone dosis rendah), kalsitrol, kalsitonin, bifosfat, raloxifene, dan nutrisi seperti kalsium serta senam beban. Jika penderita mengalami fraktur -terutama fraktur panggul-, maka umumnya akan dilakukan prosedur pembedahan pada penderitanya.

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari Smartphone. Download aplikasinya di sini.