Myocardial Infarction; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Myocardial Infarction

Myocardial Infarction atau serangan jantung mengacu pada kondisi di mana sel  otot jantung mati akibat kekurangan pasokan oksigen (iskemia) yang berkepanjangan. 

GoDok- Tentunya, Anda sudah tidak asing lagi dengan istilah ‘serangan jantung’. Namun, akrabkah Anda dengan penyebabnya, serta bagaimana cara menanganinya? Yuk, cari tahu lebih dalam mengenal kondisi medis yang satu ini lewat penjelasan khas Go Do berikut!

Mengenal Myocardial Infarction

Serangan jantung -atau yang dikenal dengan istilah ‘infark miokard’ (Myocardial infarction, disingkat  MI) di dunia medis- mengacu pada kondisi di mana sel  otot jantung mati akibat kekurangan pasokan oksigen (iskemia) yang berkepanjangan.

Ingat! Serangan jantung berbeda dengan kondisi di mana jantung Anda tiba-tiba berhenti. Karena sejatinya serangan jantung mendadak terjadi saat gangguan listrik mengganggu aktivitas pemompaan jantung; akibatnya, darah berhenti mengalir ke seluruh tubuh Anda.

Gejala

Yang perlu diperhatikan pada kasus Myocardial Infarction adalah tidak khasnya gejala yang timbul; inilah alasannya mengapa banyak kasus serangan jantung telat mendapatkan penanganan karena pasien mendapatkan diagnosa yang salah.

Lebih lanjut, perlu juga dipahami bahwa tidak semua pasien serangan jantung menunjukkan tingkat keparahan gejala yang sama. Ada yang mengalami gejala yang  ringan saja; namun, ada pula yang mengalami gejala parah, semisal sakit dan nyeri berlebih di area dada.

Meskipun begitu, para ahli dan dokter menarik kesimpulan bahwa setidaknya ada 9 gejala umum serangan jantung, yaitu:

  • Tekanan, sesak napas, nyeri di dada kiri
  • Mual, gangguan pencernaan, sakit maag atau sakit perut
  • Keringat dingin
  • Sakit kepala ringan atau pusing mendadak

Khusus untuk nyeri dada; keluhan ini menandakan serangan jantung, jika:

  • Intens dan tidak henti-hentiselama 30-60 menit
  • Dirasakan didalam rusuk; dan menjalar ke leher, bahu, rahang, dan di lengan kiri
  • Biasanya digambarkan sebagai sensasi tekanan di dada seperti rasa diperas, sakit, terbakar, atau bahkan nyeri yang tajam
  • Pada beberapa pasien, gejalanya bersifat epigastrik(sensasi tidak nyaman pada saluran pencernaan, mirip seperti  penuh sesak oleh gas)
  • Batukdan nafas berbunyi. Dalam beberapa kasus, pasien bisa mengeluarkan dahak yang  berbusa.

Memang, banyak kejadian serangan jantung menyerang secara tiba-tiba. Tapi, tidak sedikit pula kasus yang menunjukkan bahwa pasien telah menunjukkan tanda dan gejala peringatan berjam-jam, berhari-hari, atau berminggu-minggu sebelumnya. Peringatan dini bisa saja berupa nyeri dada berulang (dikenal dengan istilah angina).

Setelah mengenali gejala umum serangan jantung, ada baiknya Anda juga mengetahui beberapa gejala tidak khasnya, seperti:

  • Kelelahan
  • Dada tidak nyaman
  • Rasa tidak enak
Penyebab

Penyebab paling umum dari Myocardial Infarction adalah terbentuknya bekuan darah (trombosis)di dalam arteri koroner -atau salah satu cabangnya- yang mengakibatkan terhambatnya aliran darah ke bagian jantung yang lain.

Bekuan darah sendiri bisa terbentuk apabila terdapat lapisan lemak atau plak yang mengendap di dalam arteri -kondisi ini dikenal dengan istilah Atheroma.  Agar lebih mudah dimengerti, bayangkan saja kondisi pembuluh darah dengan atheroma ini seumpama  pipa air yang mudah pecah. Mengerikan, bukan?

Selain karena keberadaan plak, arteri koroner juga dapat tersumbat karena faktor lain, semisal:

  • Peradangan pada arteri koroner.
  • Tusukan luka ke jantung.
  • Bekuan darah yang terbentuk di area tubuh lain, namun tujuannya tetap ke arteri koroner.
  • Ketergantungan kokain.
  • Komplikasi dari operasi jantung.
  • Penyakitjantung langka lainnya.
Faktor Resiko

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terkena Myocardial Infarction:

  • Faktanya, Andalebih berisiko menderita serangan jantung jika ayah/saudara laki-laki berusia <55 tahun, atau ibu/saudara perempuan <65 tahun, mengalami keluhan yang sama.
  • Usia >50 tahun.
  • Memiliki riwayat tekanan darah tinggidan/atau diabetes.
  • Kelebihan berat badan(obesitas)
  • Kadar kolesterol dalam tubuh tinggi
  • Jarang berolahraga
  • Pola makan yang buruk, seperti sering mengonsumsi junk food. Pola makan yang tidak sehat.
Diagnosis

Pada diagnosa tahap awal, dokter umumnya akan melakukan pemeriksaan jantung dengan menggunakan stetoskop. Berikut beberapa kondisi umum yang umum ditemukan pada diri pasien:

  • Detak jantung pasien meningkat (takikardi) sekunder
  • Denyut nadi mungkin tidak beraturan; bisa jadi lebih cepat, lebih lambat, atau
  • Tekanan darah pasien pada awalnya meningkat karena arteri perifer menyempit akibat respons adrenergik terhadap nyeri dan disfungsi ventrikel.
  • Tekanan darah akan turun, bahkan memicu syok kardiogenik, jika fungsi ventrikel kanan juga terganggu
  • Kecepatan pernafasan dapat meningkat sebagai respons terhadap gangguan fungsiparu-paru.

Lebih lanjut, dokter juga bisa menyarankan beragam pemeriksaan laboratorium, seperti:

  • Biomarker/enzim jantung, yaitu troponin jantung. Dengan mendiagnosa troponin (protein jantung yang dilepaskan hanya ketika terjadi kematian sel jantung), dokter dapat mendiagnosa kondisi pasien dengan pasti.
  • Pemeriksaan darah lengkap
  • Pemeriksaan kadar gula darah puasa dan 2 jam post-prandial (sesudah makan)
  • Profil lipid, meliputi kolesterol total, LDL, HDL dan Trigliserida
  • Elektrokardiografi (EKG). 80% kasus serangan jantung dapat langsung terdiagnosa lewat pemeriksaan ini.
  • Pencitraan jantung (Echocardiografi)
  • Angiografi, digunakan  hanya dalam kasus serangan jantung akut.
Penanganan dan pengobatan

Jika ada anggota keluarga atau kerabat yang terbukti mengalami Myocardial Infarction, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menelepon rumah sakit terdekat. Sambil menunggu pertolongan medis datang, Anda dapat melakukan beberapa langkah pertolongan pertama, seperti:

  • Posisikan tubuh pasien agarbersandar pada dinding dengan lutut ditekuk serta kepala dan bahu yang
  • Jika ada  Aspirin 300 mg, maka arahkan pasien untuk mengunyah obat ini.
  • Pantau teruspernapasan, denyut nadi, dan tingkat respons kesadaran  Jika respons berhenti pada titik tertentu, maka segera praktikkan CPR pada pesien.

Untuk menangani kasus serangan jantung, dokter biasanya akan meresepkan obat-obatan berikut: 

  • Aspirin, digunakan untuk mengurangi kekakuan platelet.
  • Clopidogrel atau Ticagrelor, digunakan sebagai anti-platelet sekaligus untuk mengurangi penggumpalan darah.
  • Heparin suntik, diberikan selama beberapa hari untuk turutmencegah penggumpalan darah lebih lanjut.
  • Morfin, disuntikkan ke pembuluh darah untuk meredakansakit.
  • Oksigen, bekerja untuk mengurangi risiko kerusakan pada otot jantung.

Selanjutnya, beragam terapi juga dapat dicoba demi mengembalikan aliran darah di arteri koroner yang tersumbat. Terapi yang dimaksud meliputi:

  • Angioplasti

Angioplasi adalah dapat dipraktikkan beberapa jam setelah pasien menunjukkan gejala serangan jantung. Dalam prosedur ini, sebuah kawat kecil dengan balon pada ujungnya dimasukkan ke dalam arteri besar di selangkangan atau lengan. Kemudian, dengan menggunakan panduan sinar X kawat ini akan diteruskan ke jantung dan masuk ke bagian arteri koroner yang tersumbat. Balon kemudian diledakkan di bagian arteri tersumbat; tujuannya tidak lain adalah untuk membuka kembali jalur peredaran darah. Terakhir, tim medis akan memasangkan stent (tabung kawat) untuk menopang areti yang telah melebar.

  • Beta-blocker

Obat-obatan jenis beta-blocker bekerja dengan cara menghambat kerja hormon tertentu -seperti adrenalin (epinefrin)- yang ditakutkan dapat memicu irama jantung abnormal.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.