Moluskum Kontagiosum; Gejala, Penyebab dan Penanganan

Moluskum kontagiosum

Moluskum kontagiosum adalah penyakit yang disebabkan oleh virus poks yang menginfeksi sel epidermal (sel permukaan kulit).

Go Dok- Istilah ‘moluskum kontagiosum’ mungkin masih terdengar asing di telinga Anda. Padahal, kondisi medis yang termasuk ke dalam penyakit menular seksual ini harus diwaspadai sejak dini. Yuk, cari tahu lewat paparan lengkap khas Go Dok berikut ini!

 Mengenal moluskum kontagiosum

Moluskum kontagiosum adalah penyakit yang disebabkan oleh virus poks yang menginfeksi sel epidermal (sel permukaan kulit). Penyakit ini utamanya menyerang anak-anak, meskipun terdapat kasus di mana penyakit mendera orang dewasa dan individu dengan gangguan sistem kekebalan tubuh (HIV). Dikelompokkan ke dalam penyakit menular seksual (khusus kasus yang menyerang pasien dewasa), penyakit ini dapat menular melalui kontak langsung dengan agen penyebab.

Epidemiologi
  • Di Amerika Serikat, setidaknya tercatat 1% kasus moluskum contagiosum dari total penyakit kulit didiagnosa.
  • National Disease and Therapeutic Index Survey mengemukakan bahwa terjadi peningkatan jumlah kunjungan pasienpenyakit ini  pada tahun 1969-1983.
  • Tingkat prevalensi pada pasien HIV dilaporkan sebanyak 5-18%; dan jika jumlah CD4 kurang dari 100/μL, maka prevalensi moluskum kontagiosum dilaporkan setinggi 33%.
  • Meksipun umum terjadi di seluruh belahan dunia, namun virus penyakit inibanyaknya ditemukan di daerah tropis.
  • Di Indonesia, penyakit ini umum terjadi di Papua.
  • Studi epidemiologis menunjukkan bahwa penularan penyakit initerkait dengan faktor kebersihan dan cuaca / iklim yang buruk (kering dan lembap).
Penyebab

Virus moluskum kontagiosum dapat menginfeksi kulit yang mengalami trauma ringan, contohnya trauma akibat mencukur bulu. Selain itu, virus juga dapat menular melalui kontak langsung antara anak-anak yang berbagi bak mandi; atau antar atlet yang berbagi peralatan olahraga. Bahkan, data menunjukkan bahwa beberapa kasus penyakit ini terjadi karena penggunaan bersama kolam renang sekolah.

Setelah menginfeksi tubuh, virus memerlukan waktu 2-7 minggu sebelum akhirnya memunculkan gejala. Waspada! Penyebaran virus ini ke kulit terjadi ketika pasien tanpa sadar memegang atau menggaruk kulit sehat sehabis memegang kulit yang sudah terinfeksi.

Faktor risiko

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terkena penyakit ini:

  • Usia masih kanak-kanak, meskipun tidak menutup kemungkinan penyakit juga menyerang orang dewasa.
  • Memiliki riwayat penyakit penurunan sistem kekebalan tubuh.
  • Menerapkan pola seks bebas /seks multipartner.
  • Berbagi alat mandi atau alat olahraga.
 Gejala

Pada fase awal, penyakit ini umumnya tidak menunjukkan gejala apapun. Pasien baru akan datang berobat jika mulai muncul bintil bintil sebesar biji jagung berwarana putih lilin -dikenal dengan istilah ‘moluska’. Berbeda dengan bintil karena kondisi medis lain, bintil akibat moluskum kontagiosum sering digambarkan berbentuk seperti kubah yang pada bagian tengahnya terdapat lekukan dan apabila dipijat akan keluar massa yang berwarna putih seperti nasi.

Seringnya, moluska muncul di daerah muka, badan, ketiak, dan kaki tangan (namun jarang pada telapak kaki tangan). Sedangkan untuk kasus yang menimpa orang dewasa, moluska  bisa muncul di daerah perut bawah, tulang kemaluan, lipat paha,  pantat, alat kelamin, bahkan muka (khusus pada pasien dengan riwayat HIV).

Diagnosis

Untuk mendiagnosa kondisi pasien penyakit ini, dokter cukup melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik saja. Selain itu, dokter juga umumnya akan mencari tahu tentang riwayat berbagi alat mandi atau seks bebas pasien.

Jika pasien ternyata memiliki riwayat HIV, maka ia akan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan penunjang berupa  pemeriksaan CD4 dan viral load.

Penanganan

Untuk mengobati penyakit ini, dokter akan mengeluarkan massa yang mengandung badan moluskum dengan menggunakan alat, seperti ekstraktor komedo, jarum suntik, atau alat kuret kulit. Karena virus hanya berkembang sebatas permukaan kulit saja, maka perlu diketahui bahwa penyakit ini jarang menimbulkan jaringan parut; kecuali bila lesi terinfeksi.

Selain dengan menerapkan langkah pengobatan di atas, pasien juga akan dianjurkan untuk:

  • Menjaga kebersihan.
  • Menghindari kontak langsung dengan anggota keluargaatau kerabat yang sehat.
Komplikasi

Lesi dapat mengalami infeksi sekunder. Contohnya, jika moluskum mengenai  kelopak mata (jarang terjadi), maka hal ini dapat memicu konjungtivitis kronis. Pada individu dengan AIDS, moluskum seringkali tidak mudah dikenali, banyak, dan penatalaksanaannya membutuhkan ketrampilan khusus.

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.