Malaria; Gejala, Penyebab, dan Penanganan

malaria

Malaria adalah salah satu penyakit tropis yang dapat mengancam jiwa. Kondisi tersebut ditandai dengan keadaan menggigil yang diikuti dengan demam dan keringat yang banyak. Selain itu, penderita juga akan menunjukkan beberapa gejala lain.

Go Dok- Anda tentu pernah mendengar istilah malaria, bukan? Penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk ini dapat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani secara tepat. Lantas, apa saja bahayanya dan bagaimana cara menanganinya? Simak pemaparannya melalui artikel khas Go Dok berikut ini!

Mengenal malaria

Malaria adalah salah satu penyakit tropis yang dapat mengancam jiwa. Data dari WHO tahun 2015 menunjukkan bahwa 91 negara di dunia memiliki wilayah endemis masing-masing dengan tingkat penularannya yang tinggi.

Di Indonesia, pada tahun 2001 tercatat 15 juta kasus penyakit ini dengan 38.000 kematian setiap tahunnya. Bahkan, sekitar 35% penduduk lndonesia tinggal di daerah endemis, seperti Kalimantan, Sulawesi Tengah sampai Utara, Maluku, Irian Jaya, Lombok, hingga Nusa Tenggara Timur.

Gejala

Gejala-gejala yang tampak dari penyakit ini disebut dengan Trias Malaria. Kondisi tersebut ditandai dengan keadaan menggigil yang diikuti dengan demam dan keringat yang banyak. Selain itu, penderita juga akan menunjukkan beberapa gejala lain, seperti:

1. Demam

Pasien akan mengalami demam periodik, yaitu demam yang terjadi secara berkala. Pada malaria yang disebabkan oleh parasit P. falciparum, biasanya demam akan terjadi setiap hari, karena Plasmodium dalam sel darah merah akan matang dalam 36-48 jam. Sementara itu, jika penyebabnya adalah P. vivax dan P. ovale, demam akan terjadi setiap 3 hari sekali (tertiana) akibat pematangan Plasmodium dalam jangka waktu 48 jam. Sedangkan, jika disebabkan oleh P. malariae, demam akan timbul setiap 4 hari sekali (kuartana).

2. Splenomegali

Gejala splenomegali terjadi pada penderita malaria kronis. Pada kondisi ini, limpa mengalami penyumbatan, menghitam, dan mengeras akibat timbunan hancuran sel darah merah, parasit, pigmen, sel radang, dan jaringan ikat.

3. Anemia

Anemia terjadi akibat pecahnya eritrosit. Khusus untuk kasus yang disebabkan oleh P. falciparum, anemia bisa bertambah parah karena parasit terbukti menyebabkan penurunan masa hidup eritrosit dan mengganggu pembentukan sel baru akibat depresi eritropoesis dalam sumsum tulang.

4. Ikterus

Ikterus, atau penyakit kuning, dapat terjadi karena hancurnya sel darah merah serta terganggunya sel hati.

5. Malaria berat 

Malaria berat disebabkan oleh parasit P.falciparum. Spesies ini menyerang sel darah merah yang matang sehingga menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Gejala akan terjadi pada beberapa organ tubuh, seperti:

  • Sistem saraf pusat: terjadi penurunan kesadaran, disorientasi, koma, atau kejang
  • Saluran cerna: terjadi muntah, diare hebat, perdarahan, dan malabsorbsi 
  • Ginjal: terjadi gagal ginjal akut
  • Hati: terjangkit penyakit ikterus (kuning), billous remittent fever dengan muntah hijau empedu
  • Paru: menyebabkan edema paru (tertimbunnya cairan pada paru)
  • Lain-lain: anemia, malaria hiperpireksia, hipoglikemia, dan black water fever.
Penyebab

Penyebab utama penyakit ini adalah Plasmodium. Parasit ini menular melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Meskipun ragamnya banyak, Plasmodium penyebab penyakit ini utamanya dibagi menjadi 5 spesies, yaitu:

  • P. falciparum; parasit yang umum ditemukan di Afrika ini merupakan jenis yang paling berbahaya, karena P. falciparum bertanggung jawab atas sebagian besar kematian terkait malaria di seluruh dunia.
  • P. vivax dan ovale; adalah parasit malaria yang mendominasi negara luar sub-Sahara Afrika. Kedua Plasmodium ini merupakan spesies yang menyebabkan malaria kronis. Alasannya tidak lain karena ‘telur’ Plasmodium dapat tidur di dalam sel-sel hati selama bertahun-tahun dan dapat menetas kapan saja.
  • P. malariae; dipandang sebagai spesies yang memicu malaria ringan, karena gejala yang timbul umumnya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa perlu diobati. 
  • P. knowlesi; yaitu spesies endemis yang hanya terdapat di Asia Tenggara, terutama di Kalimantan. Parasit ini dapat menular dari kera yang terinfeksi ke manusia melalui gigitan nyamuk. 

Penasaran bagaimana Plasmodium bisa menyebabkan malaria? Setelah ditularkan melalui gigitan nyamuk, Plasmodium akan masuk ke dalam aliran darah dan terbawa hingga ke sel hati untuk berkembang biak di dalamnya. Proses tersebut berlangsung dalam waktu kurang lebih dua minggu. Khusus P. vivax dan P. ovale, sebagian Plasmodium akan tetap tertinggal di dalam hati sehingga menyebabkan infeksi yang terjadi secara berulang.

Setelah berkembang cukup banyak, Plasmodium akan pecah dan berhamburan masuk ke dalam pembuluh darah untuk menyasar sel darah merah sebagai tempat berkembangbiaknya. Proses tersebut juga akan terulang pada sel darah merah yang ditempati. Akibatnya, lama-kelamaan Plasmodium akan menyebar ke seluruh tubuh.
Hanya dalam kurun waktu selama 36-72 jam, Plasmodium akan berkembang biak dengan pesat dan memicu pecahnya sel darah merah. Kondisi inilah yang menjadi memicu demam pada pasien. Singkatnya, semakin banyak sel darah merah yang terinfeksi, maka semakin tinggi pula demam yang diderita.

Faktor Risiko

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang berisiko terjangkit penyakit ini, seperti:

  • Riwayat menderita malaria
  • Tinggal di daerah endemis
  • Pernah mengunjungi daerah endemis selama 1-4 minggu
  • Riwayat mendapat transfusi darah.
Diagnosis & Pemeriksaan

Demi mendiagnosanya, dokter biasanya akan melakukan wawancara medis. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengetahui gejala yang dirasakan oleh pasien, riwayat berpergian/tinggal di daerah endemis, serta riwayat sakit dan konsumsi obat malaria.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik, seperti kondisi tubuh, pernapasan, dan warna air seni. Setelah itu, dokter perlu melakukan pemeriksaan penunjang, yaitu:

  • Pemeriksaan darah tebal dan tipis dengan mikroskop untuk menentukan keberadaan, jenis spesies, tingkat stadium, dan kepadatan Plasmodium.
  • Diagnosis cepat (RDT-Rapid Diagnostic Test) untuk mendeteksi HRP-Z (Histidine Rich Protein-Z) dan p-LDH (Parasite Lactate Dehydrogenase).
  • Pemeriksaan untuk malaria berat, seperti cek darah lengkap, kimia darah, EKG, foto toraks, analisis cairan serebrospinais, biakan darah dan uji serologi, serta urinalisis.
Penanganan

Penyakit ini memang bisa menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan benar. Namun, tenang saja! Penyakit ini bisa diobati dengan obat-obatan antimalaria; seperti kombinasi obat Dihydroartemisinin (DHA) dan Piperakuin (DHP) untuk 3 hari, serta obat primakuin untuk membunuh Plasmodium yang tertinggal di sel hati selama 14 hari.

Selain pengobatan, diperlukan juga tindakan pencegahan—terutama untuk individu yang akan pergi ke wilayah endemis. Berikut beberapa langkah preventif yang dimaksud:

  • Mengonsumsi antibiotik Doksisiklin 2 hari sebelum pergi dan 4 minggu setelah pulang dari daerah endemis.
  • Menggunakan kelambu atau repellen
  • Menggunakan celana dan baju berlengan panjang saat berkunjung ke daerah endemis
  • Menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari.
Komplikasi 

Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan beberapa komplikasi, seperti:

  1. Malaria serebral.
  2. Anemia berat.
  3. Gagal ginjal akut.
  4. Edema paru atau ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome).
  5. Hipoglikemia.
  6. Gagal sirkulasi atau syok.
  7. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, alat pencernaan dan/atau disertai gangguan koagulasi intravaskular.
  8. Kejang berulang > 2 kali/24 jam pendingan pada hipertermia.
  9. Asidemia (pH darah <7.25) atau asidosis (biknat plasma < 15 mmol/L).
  10. Makroskopik hemoglobinuria karena infeksi malaria akut.

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.

 

NY/NA/MA

Referensi