Lupus; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Lupus

 

 

Lupus sejatinya merupakan penyakit autoimun; artinya, sistem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan, bahkan organ yang sehat. Oleh karena itu, banyak bagian tubuh yang bisa terkena dampaknya.

GoDok- Beberapa waktu yang lalu, publik dibuat terhenyak oleh pemberitaan yang mengungkapkan bahwa penyanyi muda berbakat Selen Gomez harus menjalani cangkok ginjal karena penyakit lupus yang dideritanya. Apa itu  dan bagaimana cara menanganinya? Cari tahu lewat penjelasan khas Go Dok berikut!

Mengenal lupus

Lupus sejatinya merupakan penyakit autoimun; artinya, sistem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan, bahkan organ yang sehat. Oleh karena itu, banyak bagian tubuh yang bisa terkena dampaknya, termasuk persendian, kulit, ginjal, jantung, paru-paru, pembuluh darah, dan otak.

Lebih jauh, penyakit dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Discoid Lupus Erythematosus (DLE); jenis iniyang biasanya hanya mempengaruhi kulit, namun tidak menutup kemungkinan organ tubuh lainnya juga bisa terkena dampaknya.
  • Systemic Lupus Erythematosus (SLE); merupakan jenis yang paling umumdan terbukti memengaruhi kulit serta organ tubuh lainnya.
  • Subacute cutaneous lupus; jenis  yang memicu timbulnya luka pada kulit setiap kali pasien terpapar sinar matahari.
  • Drug-induced lupus; dipicu olehpenggunaan obat-obatan.
  • Neonatal lupus; memengaruhi bayi baru lahirdan umumnya disebabkan oleh antibodi tertentu dari ibu.
 Penyebab

Seperti yang telah disinggung di bagian atas, lupus merupakan penyakit autoimun. Artinya, lupus terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan, dan bahkan organ yang sehat. Sayangnya, hingga kini belum diketahui penyebab pasti dari penyakit yang satu ini.

Tunggu dulu! Para ahli percaya bahwa faktor berikut turut memicu penyakit ini:

  • Sinar matahari.Paparan sinar matahari dapat menyebabkan timbulnya lesi kulit dan juga memicu respons internal pada individu tertentu..
  • Nyatanya, infeksi dapat memicu penyakit ini serta meningkatkan risiko gejalanya ‘kambuh’ kembali.
  • Obat-obatan. Terakhir, para ahli percaya bahwa konsumsi beberapa jenis obat -seperti obat antikejang, obat tekanan darah, dan antibiotik- turut memicu penyakit ini.
 Gejala

Berikut beberapa gejala dan tandanya yang paling umum:

  • Demam
  • Nyeri, kaku, dan bengkakpada persendian
  • Ruam berbentuk kupu-kupu pada wajah; umumnya ruam ini menutupi pipi dan hidung
  • Lesi kulit yang timbul atau memburuk setelah terkena paparan sinar matahari (photosensitivity)
  • Jari tangan dan kaki yang menjadi putih atau biru saat terkena flu, atau selama masa stres (fenomena Raynaud)
Faktor risiko

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terkena penyakit ini:

  • Jenis kelamin.Penyakit ini lebih seringnya menimpa kaum wanita; namun, tidak menutup kemungkinan bagi pria untuk menderita penyakit yang sama.
  • Mayoritas penderita lupus berusia antara 15-40 tahun (usia produktif). Namun, statistik menunjukkan bahwa ada sebagian kecil kasus lupus yang menimpa anak-anak.
Diagnosis

Bukanlah hal mudah untuk mendiagnosis lupus; karena gejala dan tanda yang muncul pada masing-masing individu sangatlah beragam. Selain itu, hingga kini belum ditemukan pemeriksaan yang bisa benar-benar mendiagnosis penyakit ini. Namun, kombinasi dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang -seperti pemeriksaan darah dan  urine-  dapat mengarahkan dokter untuk mendiagnosa kondisi pasiennya.

Jika Anda atau anggota keluarga terbukti mengalami beberapa atau banyak gejala di atas, maka dokter akan menyarankan beragam pemeriksaan laboratorium berikut:

  • Pemeriksaan darah lengkap.Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui jumlah eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), trombosit, dan Selain itu, dilakukan juga pemeriksaan laju endap darah (tingkat sedimentasi eritrosit). Tujuannya? Tidak lain adalah untuk melihat berapa waktu yang dibutuhkan eritrosit agar menetap di dasar tabung reaksi. Apabila waktu yang dibutuhkan eritrosit lebih cepat dari biasanya, maka hal ini dapat mengindikasikan beragam kondisi medis, mulai dari lupus, peradangan, kanker, atau infeksi lainnya.
  • Pemeriksaan ginjal dan hepar (hati).Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai pengaruh lupus terhadap fungsi organ ginjal serta  hepar.
  • Antinuklear Antibody (ANA) test.Jika hasil tes ini positif, maka dapat diasumsikan bahwa ada antibodi yang diproduksi karena terstimulasi oleh sistem imun. Namun, tidak semua orang dengan ANA positif sudah pasti menderita lupus. Karenanya, dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk menjalani pemeriksaan lain yang lebih spesifik.
Penanganan

Berikut beberapa penanganan yang paling umum digunakan pada penderita penyakit ini:

  • Terapi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID). Obat ini dapat digunakan untuk mengobati rasa sakit, pembengkakan, dan demam yang terkait denganpenyakit ini. Namun, perlu diperhatikan efek samping dari NSAID yang biasanya memicu perdarahan lambung, masalah ginjal, dan peningkatan resiko masalah jantung.
  • Terapi obat kortikosteroid. Obat prednison dan jenis kortikosteroid lainnya dapat mengobati peradangan pada penderita penyakit ini. Namun, ingat! Konsumsi yang terlalu sering dan berkepanjangan dapat memberikan beragam dampak buruk, mulai dari peningkatan berat badan dan risiko terkena osteoporosis, diabetes, serta infeksi.
  • Imunosupresan. Obat yang menekan sistem imun tubuh ini biasanya digunakan untuk kasus penyakit ini yang cukup serius. Efek samping yang mungkin timbul meliputi risiko terkena infeksi, kerusakan hati, penurunan kesuburan, hingga kanker.
Komplikasi

Yang mengerikan dari penyakit ini adalah yaitu  dapat mengganggu fungsi beragam organ penting tubuh, seperti:

  • Ginjal; memicu kerusakan dan gagal ginjal.
  • Otak dan sistem saraf pusat; jika otak sudah terkena dampak dari penyakit ini, maka penderita berisiko besar mengalami sakit kepala parah, perubahan perilaku, halusinasi, bahkan kejang.
  • Paru-paru; meningkatkan risiko pasien terkena radang pada lapisan rongga dada (pleuritis) dan pneumonia.
  • Jantung; memicu peradangan pada otot jantung, arteri, atau selaput jantung (pericarditis).

Lebih lanjut, lupus juga meningkatkan risiko pasien terkena:

  • Infeksi. Penderitanya terbukti lebih rentan terkenainfeksi karena melemahnya sistem kekebalan tubuh. Infeksi yang paling sering menyerang meliputi infeksi saluran kemih, infeksi saluran pernapasan, infeksi bakteri, virus, dan jamur lainnya.
  • Kematian jaringan tulang (avascular necrosis).Hal ini terjadi ketika suplai darah ke tulang berkurang.
  • Komplikasi pada kehamilan. Seorang wanita dengan penyakit iniberisiko besar mengalami Selain itu,  juga meningkatkan risiko tekanan darah tinggi selama kehamilan (preeklampsia) dan kelahiran prematur. Untuk mengurangi risiko komplikasi ini, dokter umunya akan menyarankan pasien untuk menunda kehamilan; setidaknya sampai penyakit ini  terkendali.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari Smartphone. Download aplikasinya di sini.