Leptospirosis; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Leptospirosis

 

 

Leptospirosis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme dari genus Leptospira. Penyebabnya karena infkesi kuman Leptospira interrogan dari genus Leptospira dan famili treponemataceae.

GoDok- Dari sekian banyak penyakit yang mengincar Anda dan keluarga, akrabkah Anda dengan Leptospirosis? Yuk, kenali kondisi medis ini lebih dalam lewat penjelasan khas Go Dok berikut ini!

Mengenal Leptospirosis

Leptospirosis -atau dikenal juga dengan istilah swamp fever, mud feverinfectious jaundice, cane cutter fever, dan field fevermerupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme dari genus Leptospira. Karena mikroorganisme ini utamanya menginfeksi hewan, maka penyebarannya ke manusia biasanya melalui kontak langsung urin hewan dengan luka atau lecet pada kulit; atau melalui selaput lendir mulut, hidung dan mata.

Lebih lanjut, penyakit ini banyak menjangkiti warga dari negara berkembang. Mirisnya, Indonesia menempati peringkat utama sebagai negara dengan angka penderita paling tinggi (mengutip data dari Intemational Leptospirosis Society). Biasanya, jumlah kejadian akan meningkat seiring dengan frekuensi musibah banjir; dan umum sekali menjangkit individu yang berprofesi sebagai petani, peternak, pekerja tambang, pekerja rumah potong hewan, penebang kayu, dan dokter hewan.

Penyebab

Leptospirosis disebabkan oleh infkesi kuman Leptospira interrogan dari genus Leptospira dan famili treponemataceae. Mikroorganisme berbentuk spiral, tipis, dengan panjang 5-15 pm dan lebar O,1-0,2 mm ini nyatanya terdiri dari beragam jenis, sebut saja L.icterohaemorrhagica dengan reservoir (pembawa) tikus, L.canicola dengan reservoir anjing, dan L.pomona dengan reservoir babi dan sapi.

Lantas, bagaimana caranya kuman ini menginfeksi manusia? Seperti yang telah disinggung sebelumnya, penularan dapat terjadi jika air kemih binatang berkontak langsung dengan luka pada kulit atau selaput lendir manusia. Selain itu, beberapa kasus juga menunjukkan bahwa penularan dapat terjadi melalui konsumsi air minum yang terkontaminasi.

Apa yang terjadi jika Leptospira berhasil masuk ke tubuh manusia? Awalnya, kuman ini akan membelah diri dan menyebar ke organ serta jaringan tubuh melalui darah. Setelah itu, barulah ia akan mencederai dinding pembuluh darah kecil dan menyebabkan radang pembuluh darah (dikenal dengan istilah ‘vasikulitis’). Nah, vaskulitis inilah yang kemudian menyebabkan kebocoran plasma serta ekstravasasi sel -kondisi di mana cairan (plasma) dari pembuluh darah merembes ke jaringan sekitar sehingga memicu pengentalan darah. Jika dibiarkan terus berlanjut, kondisi ini dapat memicu beragam komplikasi pada organ penting dalam tubuh, seperti:

  • Ginjal, memicunefritis interstisial, tubular nekrosis akut, dan gagal ginjal.
  • Hatimemicu nekrosis sentilobuler fokal, infiltrasi sel limfosit. proliferasi sel Kupfer, dan
  • Jantung, memicu kelainan epikardium, endokardium, miokardium berupa edema interstisial, dan infiltrasi sel radang:
  • Otot rangka, memicunekrosis, vakuolisasi, kehilangan striata, dan nyeri otot akibat invasi langsung.
  • Mata, memicu uveitis.
  • Pembuluh darah, memicu vaskulitis.
  • Susunan saraf pusat, memicu meningitis.
Faktor resiko

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan seseorang rentan menderita penyakit ini:

  • Mengalami musibah banjir
  • Tinggal di lingkungan padat penduduk
  • Tinggal bersebelahan dengansungai yang tercemar
  • Berprofesi sebagai pekerja ladang, petani, pekerja pet shop, dokter hewan, pekerja selokan, pekerja rumah potong hewan, penangan daging, dan personil militer
  • Sering terlibat dengan aktivitas air (berenang, rafting, arung jeram, dll)
Gejala

Leptospirosis seringkali sulit didiagnosis secara klinis karena gejalanya mirip dengan penyakit lain, seperti demam berdarah, tipus, dan hepatitis. Selain itu, meskipun kebanyakan kasus dapat sembuh dengan sendirinya, namun 5-15% kasus yang tidak diobati dapat berlanjut ke tahap yang lebih berat -bahkan berpotensi fatal.

Berikut beberapa gejala yang biasa muncul di fase awal penyebaran penyakit, atau 4-9 hari sejak kuman menginfeksi tubuh:

  • Kuman Leptospira ditemukan dalam darah.
  • Tubuh yang tiba-tiba demam dan menggigil.
  • Nyeri pada kepala bagian depandan otot betis.
  • Kulit yang terasa kebas dan ditumbuhi ruam kemerahan.
  • Mata merah .

Biasanya (tidak selalu), setelah 7 hari mengalami demam, suhu tubuh pasein akan kembali normal selama 1-3 hari sebelum kemudian kembali demam. Nah, fase inilah yang disebut dengan fase imun ; umumnya ditandai dengan peningkatan titer antibodi, demam hingga 40o celsius, tubuh menggigil dan terasa lemah, nyeri pada leher, perut, otot kaki; serta kerusakan pada beberapa organ penting tubuh, seperti ginjal dan hati. Waspada! Pada fase ini pasien rentan sekali menderita radang selaput otak.

Diagnosis

Untuk  mendiagnosa kondisi pasien, dokter umumnya akan melakukan wawancara medis, melakukan pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang lainnya. Tes laboratorium yang biasa diusulkan oleh dokter meliputi pemeriksaan darah lengkap, analisa urin, rontgen dada, serta pemeriksaan kimia darah untuk mengetahui fungsi hati dan ginjal. Lebih lanjut, pada kasus berat dokter dapat mengusulkan pemeriksaan kultur spesimen darah/cairan otak dan test serologi.

Penanganan

Untuk menangani Leptospirosis, dokter biasanya akan menyarankan tindakan medis yang ditujukan untuk mencegah dehidrasi, hipotermi, perdarahan, dan  gagal ginjal. Selain itu, obat-obatan jenis antibiotik (doksisiklin, ampisilin, amoksilin, atau eritromisin pada kasus ringan, injeksi antibiotic pada kasus berat) juga umum diberikan demi mempercepat penyembuhan. Antibitotik minum seperti

Ingat! Anda juga bisa mencegah penularannya dengan melakukan langkah preventif berikut ini:

  • Khusus bagi individu yang memiliki profesi rentan Leptospirosis, maka dianjurkan untuk mengenakan pakaian khusus agar telindung dari kontak langsung dengan bahan-bahan yang terkontaminasi air seni binatang pembawa.
  • Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus.
  • Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.
  • Mencuci tangan, kaki, serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah, kebun, sampah, tanah, selokan, dan tempat yang tercemar lainnya.
Komplikasi

Jika tidak segera ditangani, maka penyakit ini dapat memicu beragam komplikasi berikut:

  • Meningitis
  • Gangguan pernapasan
  • Gagal ginjal, hati, dan jantung

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.