9 Komplikasi Kehamilan yang Harus Anda Waspadai

komplikasi kehamilan
Komplikasi kehamilan; kondisi yang tidak berbahaya bagi janin, tapi juga ibu hamil. Kenali jenis komplikasi kehamilan demi mengetahui cara pencegahnnya!

GoDok Komplikasi Kehamilan – Tak perlu diragukan lagi bahwa kehamilan merupakan fase paling penting dalam kehidupan seorang wanita. Di masa-masa ini, seorang wanita mengalami perubahan psikologis, hormonal, serta perubahan fisiologis tertentu. Nah, jika sebagian besar kehamilan akan berlangsung tanpa kendala sama sekali, sebagian kecil lainnya justru menunjukkan bahwa komplikasi kehamilan dapat menimpa siapa saja.

Sejatinya, ada macam-macam komplikasi yang dapat berkembang selama kehamilan. Macam-macam pula risiko yang kemudian muncul sebagai dampak dari adanya komplikasi-komplikasi tersebut, seperti masalah pada plasenta, rahim, dan leher rahim. Cukup menyeramkan, bukan? Pastinya, sebagai calon ibu, Anda akan merasa butuh untuk memahami gejala dan penanganan hal-hal tersebut. Nah, jika Anda penasaran mengenai penjelasan lengkapnya, yuk simak penjelasan-penjelasan berikut ini :

1. Hipertensi pada kehamilan

Tahukah Anda mengenai hipertensi pada kehamilan? Ini merupakan kondisi di mana tekanan darah ibu hamil melonjak tinggi, pada umunya dapat terjadi pada masa kehamilan pertama dan kehamilan anak kembar. Kondisi ini juga dapat terjadi pada calon ibu yang menderita masalah kesehatan, seperti diabetes, hipertensi kronis, dan lainnya.

(Baca: Bunda, Kenali Makanan Terbaik Untuk Tiap Trimester Kehamilan)

Nah, saat kondisi ini sudah mencapai tingkat yang lebih parah, si calon ibu bisa saja menderita pre-eklamsia atau bahkan eklampsia (bentuk yang parah akibat kehamilan hipertensi). Kondisi ini dapat terjadi di akhir masa kehamilan dan dapat menyebabkan kejang pada ibu hamil. Selain tensi darah tinggi, pada pre-eklampsia biasanya juga disertai dengan kenaikan kadar protein dalam urin (proteinuria) dan pembengkakan pada tungkai kaki. Karena kondisi ini dikenal cukup berbahaya bagi janin, maka kebanyakan penderitanya lebih dianjurkan untuk melahirkan dengan operasi Caesar guna menghindari komplikasi lebih lanjut.

2. Kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik merupakan suatu kondisi kehamilan di mana janin berkembang di luar rahim; yaitu, di saluran tuba fallopi, di mana tidak terdapat cukup aliran darah bagi janin untuk tetap hidup. Karena janin tidak dapat dialihkan ke rahim, kehamilan ini tidak akan bertahan lama dan janin harus digugurkan. Sebab jika dibiarkan saja, lama kelamaan tuba fallopi bisa pecah dan menimbulkan pendarahan dalam. Kehamilan ektopik lebih sering terjadi pada wanita yang memiliki masalah ketidaksuburan, penyakit menular seksual, pernah menjalani operasi pada tuba, dan pengguna intrauterine device (IUD), endometriosis.

(Baca: Hii, Ngerinya Penyakit Menular Seksual!)

3. Pendarahan

Jarang yang mengetahui bahwa pendarahan dari vagina di masa kehamilan merupakan sesuatu yang patut diwaspadai. Sebab, pendarahan seperti ini umumnya mengacu pada pendarahan abnormal, karena bukan bagian dari menstruasi. Jika terjadi pada trimester pertama kehamilan, bisa jadi pendarahan tersebut merupakan tanda dari terjadinya kondisi serius, mulai dari keguguran, perkembangan janin yang abnormal, hingga kehamilan molar (kondisi di mana yang berkembang dalam rahim  bukanlah janin melainkan jaringan tertentu yang dapat berkembang menjadi kanker).

(Baca: Amankah Bercinta di Masa Kehamilan? Yuk, Kenali Faktanya!)

4. Plasenta previa

Plasenta previa merupakan suatu kondisi di mana plasenta -yang menyetor nutrisi dan zat-zat penting pada janin dan berfungsi sebagai barrier– berada sangat dekat atau menutupi bagian pembukaan rahim. Akibatnya, akan terjadi perdarahan di bagian bawah rahim atau area plasenta yang menutupi bagian pembukaan rahim tersebut. Faktor risiko lain dari kondisi ini termasuk letak plasenta yang tidak pada tempatnya, menjadi lambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur, cacat lahir dan serta terjadinya infeksi selama kehamilan. Bagi Anda calon ibu yang merupakan perokok, mengandung di usia tua, serta pernah melahirkan anak kembar atau yang lebih banyak, waspadalah sebab kondisi ini umumnya terjadi pada kehamilan yang beresiko tinggi.

(Baca: Amankah Bepergian dengan Pesawat Ketika Hamil?)

5. Diabetes gestasional

Gestational diabetes merupakan kondisi meningkatnya glukosa darah serta gejala diabetes lain yang mulai muncul selama kehamilan pada seorang wanita yang belum pernah sebelumnya didiagnosis diabetes. Gejala yang muncul di antaranya adalah meningkatnya kadar gula dalam darah ibu hamil secara signifikan, pandangan mengabur, limbung, muntah, haus berkepanjangan serta meningkatnya frekuensi buang air kecil. Biasanya, gejala-gejala diabetes tersebut akan menghilang setelah melahirkan.

(Baca: Berniat Memiliki Anak Lagi?; Perhatikan Dulu 4 Hal ini!)

6. Intrauterine Growth Restriction

Intrauterine Growth Restriction (IUGR), atau disebut juga sebagai gangguan pertumbuhan janin, merupakan suatu kondisi di mana perkembangan janin kurang dari yang diharapkan. Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh kurangnya asupan nutrisi dan oksigen yang sejatinya dibutuhkan untuk perkembangan organ-organ janin. Jika menderita kondisi ini, ada kemungkinan bayi yang sedang dikandung lahir prematur sebelum 37 minggu.

7. Premature Rupture of Membranes

Premature Rupture of Membranes (PROM) adalah kondisi di mana ketuban pecah sebelum proses persalinan dimulai, dan umumnya terjadi sebelum kehamilan berumur 37 minggu. Kondisi ini biasanya terjadi karena adanya infeksi pada rahim, penyakit menular seksual pada ibu, perawatan yang salah sebelum melahirkan,  pendarahan vagina, atau kebiasaan yang tidak sehat seperti merokok dan mengnosumsi minuman keras.

(Baca: Bahaya Rokok bagi Ibu Hamil dan Janin)

8. Penyakit Rhesus

Penyakit Rhesus atau Rh sebenarnya merupakan kondisi yang jarang terjadi, dan hanya muncul ketika ada ketidakcocokan antara jenis darah ibu dan bayi. Kasus ini bisa terjadi jika Anda -yang memiliki RhD negatif- mengandung bayi yang memiliki RhD positif (mungkin dari ayahnya) dan terdapat sel-sel darah si janin yang masuk ke dalam sistem peredaran darah Anda. Ketika hal ini terjadi, mungkin saja sistem imun Anda akan bereaksi terhadap antigen-D dalam darah si janin dengan memperlakukannyaa sebagai hal asing dan melepaskan antibodi untuk menyerangnya. Yang berbahaya adalah ketika antibodi Anda kemudian masuk ke dalam plasenta dan turut menyerang sel-sel darah janin, sebab hal ini bisa saja menyebabkan anemia, gagal jantung, dan penyakit kuning pada bayi yang Anda kandung.

(Baca: Ini Dia Pola Makan yang Baik Saat Mengandung Si Kembar!)

9. Keguguran

Disebut juga dengana aborsi spontan atau miscarriage, keguguran merupakan kondisi berakhirnya kehamilan sebelum berusia 20 minggu. Persentase dari terjadinya kondisi ini cukup besar, yaitu sekitar 10-15% dari semua kehamilan. Anda harus behati-hati jika keguguran terjadi secara berturutan (sampai 2 kali atau lebih), dan pergilah ke dokter kandungan untuk pemeriksaan lebih lanjut pada kondisi ini.

(Baca: Water Birth, Tren Baru di Dunia Persalinan)

Setelah mengenal lebih jauh beberapa komplikasi yang berpotensi menyertai kehamilan, maka komplikasi manakah yang harus Anda waspadai? Jawabannya, semua. Karena itulah, tetap jaga kesehatan kandungan Anda dengan selalu memberikan asupan nutrisi serta istirahat yang cukup bagi Anda dan janin.

Semoga bermanfaat!

Comments are closed.