Klamidia (Chlamydia); Gejala, Penyebab, dan Penanganan

Klamidia

 

 

Klamidia merupakan penyakit menular seksual yang dapat menginfeksi pria maupun wanita. Penyakit ini bisa diobati dengan mudah; namun, bila disepelekan dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ reproduksi wanita yang pada akhirnya membuatnya sulit atau bahkan tidak bisa hamil.

Go Dok- Pernahkah Anda mendengar istilah klamidia? Salah satu jenis penyakit menular seksual (PMS) ini ternyata dapat merusak organ reproduksi. Lantas, apa itu  dan bagaimana cara menanganinya? Simak pemaparannya melalui artikel khas Go Dok berikut ini!

Mengenal Klamidia 

Klamidia merupakan penyakit menular seksual yang dapat menginfeksi pria maupun wanita. Penyakit ini bisa diobati dengan mudah; namun, bila disepelekan dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ reproduksi wanita yang pada akhirnya membuatnya sulit atau bahkan tidak bisa hamil. Penyakit ini  juga dapat menyebabkan kehamilan ektopik (kehamilan yang terjadi di luar rahim) yang berpotensi fatal.

Gejala

Tidak semua penderita klamidia akan menunjukkan gejala, karena pada beberapa kasus gejala tidak akan muncul sampai beberapa minggu pasca hubungan seksual. Namun, umumnya penyakit ini menunjukkan beberapa gejala khas, seperti:

  • Munculnya keputihan dari vagina
  • Rasa terbakar saat buang air kecil
  • Tidak mampu menahan kencing
  • Kencing nanah pada pria
  • Nyeri dan pembengkakan pada salah satu atau kedua buah zakar
  • Perdarahan di luar jadwal menstruasi
  • Nyeri perut dan demam (khusus pada wanita dengan riwayat radang panggul)
  • Infeksi berupa nyeri atau perdarahan pada anus (jika melakukan anal seks).

Sementara itu, pada bayi yang baru lahir, gejala yang akan muncul adalah:

  • Pada bayi berusia 1-3 bulan, akan tampak gejala seperti demam, batuk, pilek, dan sesak napas seperti pneumonia
  • Pada bayi yang berusia 1-2 minggu, biasanya akan muncul lendir putih kekuningan pada salah satu mata maupun keduanya
  • Mata merah.
Penyebab

Klamidia biasanya disebabkan oleh 2 jenis Chlamydiae, yaitu Chlamydia (salah satu spesiesnya Chlamydia trachomatis) dan Chlamydophila (misalnya, Chlamydophila pneumoniae dan Chlamydophila psittaci). Chlamydiae trachomatis adalah spesies yang paling sering menjadi penyebab penyakit menular seksual.

Penyakit ini dapat menular melalui hubungan seks, baik secara vaginal, anal, atau oral. Berikut 3 kemungkinan penularannya:

  1. Klamidia tetap dapat menular meskipun  pria yang menderita klamidia tidak mengalami ejakulasi.
  2. Seseorang dengan riwayat penyait ini pun masih bisa terinfeksi lagi, jika ia berhubungan seks tanpa kondom dengan penderita penyakit yang sama.
  3. Wanita hamil yang mengidap penyakit ini dapat menularkannya ke bayi pada saat proses persalinan.

Seperti yang sudah dibahas di bagian atas, penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri C. trachomatis. Faktanya, bakteri ini dibagi menjadi 18 jenis serovar yang berbeda, yaitu:

  • Serovars D-K –sering dikaitkan dengan infeksi saluran genital
  • Serovars L1-L3 – Limfogranuloma venereum (LGV), yang dikaitkan dengan penyakit ulkus kelamin di negara tropis
  • Infeksi trachomatis-umumnya mempengaruhi serviks uretra, uterus, nasofaring, dan epididimis. Ini adalah penyakit menular seksual yang paling umum dilaporkan di Amerika Serikat dan penyebab utama kemandulan pada wanita. Infeksi C. trachomatisjuga menyebabkan penyakit lain, termasuk konjungtivitis, pneumonia atau pneumonitis, dan sindrom pneumonia afebris (pada bayi yang lahir dari ibu positif mengidap klamidia).
Faktor Risiko

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang berisiko terjangkit penyakit ini, seperti:

  • Seks multipartner
  • Seks bebas tanpa menggunakan kondom
  • Wanita > 25 tahun yang aktif secara seksual
  • Higienitas pribadi yang buruk
  • Sosial ekonomi yang buruk
  • Riwayat PMS sebelumnya
  • Bayi yang lahir dari seorang ibu yang positif mengidap klamidia.
Diagnosis & Pemeriksaan

Untuk dapat mendiagnosa penyakit ini, dokter biasanya akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan, dokter juga akan mengambil sampel cairan keputihan untuk diobservasi di bawah mikroskop. Tidak menutup kemungkinan dokter dapat pula melakukan pemeriksaan melalui analisis urin.

Penanganan

Tenang! Dengan perawatan medis yang tepat, klamidia bisa disembuhkan. Biasanya, dokter akan memberikan antibiotik minum, seperti golongan tetracycline, macrolide, dan quinolone. Menurut rekomendasi CDC, antibiotik yang baik diberikan adalah jenis azithromycin dan doxyxyxline.

Infeksi berulang penyakit ini merupakan hal yang umum. Karenanya, seseorang yang dinyatakan selesai menjalani pengobatan harus melakukan uji laboratorium lagi sekitar tiga bulan setelah dirawat. Selain itu, mereka juga dilarang hubungan seksual terlebih dahulu sampai masa pengobatan berakhir.

Mengingat bahaya penyakit ini, sudah sepatutnya Anda mencegah penyebaran penyakit ini sejak dini. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah rutin melakukan tes klamidia setiap tahun (khususnya wanita > 25 tahun yang aktif secara seksual dan kelompok berisiko lainnya—seperti gay dan biseksual).

Komplikasi

Penyakit ini yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan beberapa komplikasi, seperti:

  • Penyakit radang panggul
  • Kemandulan
  • Kehamilan ektopik.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari Smartphone. Download aplikasinya di sini.

 

NY/PJ/MA

Referensi