Kanker Serviks – Gejala, Penyebab dan Penanganannya

Kanker serviks
Kanker serviks merupakan jenis kanker yang menjangkit bagian leher rahim wanita, penyakit ini biasanya menyerang wanita yang aktif berhubungan seksual. Yuk, kenali gejala, penyebab dan penangan kanker serviks

GoDokKanker serviks akhir-akhir ini tengah menjadi sorotan masyarakat Indonesia, khususnya kaum hawa. Banyak wanita yang kemudian merasa was-was akan infeksi penyakit mematikan yang satu ini. Lalu, apa sebenarnya kanker serviks itu? Apa saja gejala yang ditimbulkan dan bagaimana cara menanganinya? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini:

Mengenal kanker serviks

Kanker serviks merupakan jenis kanker yang menjangkit bagian leher rahim wanita -sebuah jaringan berserat dan berotot yang menghubungkan vagina dengan rahim. Penyakit ini biasanya menyerang kaum hawa yang aktif secara seksual. Meskipun awalnya hanya tumbuh di bagian permukaan leher rahim, namun seiring dengan berjalannya waktu, kanker serviks dapat menyerang bagian leher rahim yang lebih dalam beserta jaringan lain di dekatnya.

Menurut data WHO tahun 2012, setiap tahunnya terdapat 530.000 kasus kanker serviks yang terjadi di dunia, dan 270.000 di antaranya berujung pada kematian. Di Indonesia sendiri, terdapat ±41 kasus kanker serviks yang terjadi setiap harinya; di mana 20 pasien kanker harus meregang nyawa karenanya.

(Baca: Semangat! Ini Dia 5 Kisah Inspiratif Dalam Melawan Kanker)

Gejala 

Pada stadium awal, umumnya penderita kanker rahim tidak menunjukkan gejala apapun. Namun, Anda harus mulai waspada jika mulai muncul gejala-gejala seperti :

  • Perdarahan setelah hubungan seksual,
  • Perdarahan setelah menopause,
  • Perdarahan di antara periode menstruasi,
  • Nyeri perut bawah (area sekitar rahim),
  • Nyeri saat berhubungan seks,
  • Keputihan yang berbau dan disertai dengan darah.
Penyebab

99,7% penyebab kanker serviks adalah Human Papiloma Virus (HPV) yang menular melalui kontak seksual yang bersifat vaginal, anal, maupun oral. Jika ditarik garis besar, maka terdapat dua kategori resiko ketika HPV menyerang daerah genital, yaitu resiko rendah dan resiko tinggi. Pada resiko rendah, biasanya virus HPV tidak menyebabkan kanker, namun dapat memicu timbulnya kutil kelamin (kondiloma akuminata). Sedangkan pada resiko tinggi, virus HPV berpotensi besar menyebabkan kanker. Dari semua tipe HPV, tipe 16 dan 18 lah yang berpotensi besar memicu timbulnya kanker serviks. Lalu, kebiasaan apa sajakah yang dapat meningkatkan risiko infeksi HPV? Berikut poin lengkapnya:

1. Berganti-ganti pasangan seksual

Berhati-hatilah jika Anda termasuk orang yang memiliki lebih dari satu pasangan, sebab tipe HPV 16 dan 18 dapat menular melalui hubungan seksual. Meskipun laki-laki tidak dapat terkena kanker rahim, namun mereka dapat membawa HPV dalam tubuhnya.

(Baca:Ini Akibatnya Jika Anda Gemar Gonta-Ganti Pasangan Seksual)

2. sejak usia muda

Penelitian yang dilakukan oleh British Journal of Cancer menyimpulkan bahwa wanita yang memulai hubungan seksual sejak usia dini lebih berisiko terkena kanker serviks dibandingkan wanita yang mulai berhubungan seks di usia dewasa

3. Merokok

Penelitian yang dilakukan di Sweden’s Karolinska Institute oleh Anthony S. Gunnell dan rekannya menduga adanya keterkaitan antara merokok dengan kanker serviks. Hal ini didasarkan pada bukti bahwa merokok membantu HPV berkembang lebih cepat sebab sel-sel imun tubuh yang semula sehat kemudian mengalami kerusakan akibat paparan zat-zat karsinogen dalam rokok.

4. Riwayat keluarga

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa wanita yang memiliki ibu atau saudara   perempuan (kakak/adik) penderita kanker serviks memiliki risiko lebih besar terkena penyakit ini dibanding wanita yang berasal bukan dari keluarga dengan riwayat kanker serviks.

Deteksi Dini (Screening)

Kanker serviks dapat dideteksi dengan melakukan tes Papanicolaou atau yang lebih dikenal dengan sebutan PAP smear dan IVA test.

1. PAP smear test

PAP smear direkomendasikan untuk wanita yang berusia 21 – 65 tahun. PAP smear dilakukan dengan cara mengambil sampel berupa sel serviks. Tujuannya tidak lain untuk mengobservasi apakah ada kemungkinan perubahan pada sel serviks yang mengarah ke kondisi pra-kanker.

2. IVA test.

Pada pemeriksaan Inspeksi Visual dengan Aplikasi Asam Asetat (IVA test), leher rahim akan dipulas dengan asam asetat 3-5% selama ±1 menit. Bila hasil pemeriksaan ini positif (+) pada sel pra-kanker, maka akan terlihat bercak  berwarna putih yang disebut Aceto White Epitelium.

Diagnosis

Apabila ditemukan hasil positif sel pra-kanker pada deteksi dini, biasanya dokter akan menyarankan tindakan biopsi (pengambilan sampel sel) pada leher rahim untuk menegakkan diagnosa.

Komplikasi

Apabila tidak segera ditangani, kanker dapat bermetastasis (menyebar) hingga ke dinding pelvis, kandung kemih, dan rektum. Selain itu, organ tubuh lain, seperti hati, paru-paru, dan tulang juga berisiko tinggi terkena imbas penyebaran kanker.

Penanganan

Perlu diketahui bahwa langkah penanganan kanker serviks sangat bergantung pada stadium, ukuran (besar/kecilnya kanker), serta umur penderita. Pada stadium awal, penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan menghilangkan sel-sel penyebab kanker menggunakan laser. Jika sudah menginjak stadium lanjut, pasien akan disarankan untuk melakukan prosedur operasi pengangkatan rahim secara menyeluruh, atau yang disebut dengan Histerektomi. Sedangkan pada stadium yang sudah lebih parah, penanganan dapat dilakukan dengan terapi kombinasi yang melibatkan kemoterapi dan radioterapi (radiasi).

Pencegahan

Kanker serviks dapat dicegah dengan berbagai cara, seperti tidak melakukan hubungan seksual sejak usia muda, tidak berganti-ganti pasangan seksual, melakukan pemeriksaan PAP smear minimal setahun sekali, dan menjaga pola hidup dan makan agar kekebalan tubuh meningkat.

(Baca: Manfaat Pepaya untuk Kesehatan Tubuh Anda)

Selain itu, tindakan pencegahan juga dapat dilakukan dengan mendapatkan vaksin HPV guna menstimulus tubuh untuk memproduksi antibodi. Pada umumnya, vaksin HPV bekerja sangat efektif karena berisi virus-like particles (VLPs) yang bersifat immunogenik (meningkatkan produksi antibodi dalam tubuh).

 

Comments are closed.