Kanker Payudara; Gejala, Penyebab dan Penanganan

kanker payudara

Kanker payudara merupakan jenis kanker yang menyerang jaringan payudara, di mana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak terkontrol dari sel-sel (jaringan) payudara

Mengenal kanker payudara

Kanker payudara merupakan jenis kanker yang menyerang jaringan payudara, di mana terjadi pertumbuhan berlebihan atau perkembangan tidak terkontrol dari sel-sel (jaringan) payudara. Berdasarkan data dari Center of Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, kanker payudara merupakan jenis kanker penyebab kematian terbesar pada wanita, dengan hampir 1,7 juta kasus tercatat pada tahun 2012. Meskipun begitu, kaum pria juga berpotensi terkena kanker ganas ini, meskipun kemungkinannya lebih kecil, yaitu 1 di antara 1000 orang.

Secara umum, kanker jenis ini dapat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu :

  • Kanker payudara noninvasive, jenis kanker payudara ini terjadi pada kantung susu dan puting payudara yang secara medis disebut ‘ductal carcinoma in situ‘ (DCIS). Pada jenis ini, kanker belum menyebar ke bagian luar jaringan kantung susu.
  • Kanker payudara invasive, pada jenis ini, kanker payudara dapat menyebar keluar dari bagian kantung susu dan menyerang jaringan lain di sekitarnya.Tak hanya itu, penyebaran (metastase) pada tahap ini juga dapat merambah ke bagian tubuh lainnya seperti kelenjar lympa dan juga melalui peredaran darah.
Gejala

Pada dasarnya, penyakit ini dapat menimbulkan beberapa gejala yang berbeda pada setiap orang. Namun, terdapat pula ciri dan gejala umum yang dapat Anda perhatikan, yaitu :

  1. Teraba benjolan atau penebalan di sekitar area payudara
  2. Keluar cairan berupa darah dari puting susu
  3. Perubahan ukuran, bentuk, atau tampilan dari payudara
  4. Puting susu tertarik ke dalam
  5. Mengelupasnya kulit yang lebih gelap di sekitar puting susu (areola) atau kulit payudara
  6. Kulit di sekitar payudara menjadi berpori‐pori atau berkerut-kerut seperti kulit jeruk
  7. Rasa nyeridi ketiak atau payudara yang tampaknya tidak berhubungan dengan siklus menstruasi wanita
  8. Pembengkakan (benjolan) di salah satu ketiak
Penyebab

Hingga saat ini, penyebab timbulnya penyakit ini belum diketahui secara jelas. Namun, secara umum diketahui terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi tingkat risiko terkena kanker payudara, seperti:

1. Faktor reproduksi

Beberapa kondisi yang terkait dengan faktor reproduksi dapat meingkatkan risiko terjadinya kanker payudara. Kondisi-kondisi tersebut adalah nuliparitas, menarche (waktu menstruasi pertama kali) pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan kehamilan pertama pada umur tua.

2. Faktor usia

Semakin tua seorang wanita, akan semakin tinggi risiko ia terkena kanker payudara. Lebih dari 80% dari keseluruhan kasus kanker payudara wanita terjadi pada perempuan yang berusia di atas 50 tahun (atau setelah menopause).

3. Penggunaan hormon pengganti

Seorang wanita yang menggunakan obat-obatan hormon pengganti {hormone replacement therapy (HRT) seperti hormon estrogen akan dapat menyebabkan peningkatan resiko mendapat penyakit kanker payudara.

4. Riwayat keluarga dan faktor genetik

Secara medis, terdapat 2 jenis gen yang memiliki kaitan erat dengan tingkat risiko kanker payudara, yaitu BRCA1 dan BRCA2. Dalam keadaan normal, kedua gen ini memproduksi protein penekan tumor yang membantu memperbaiki DNA yang rusak dan menstabilkan DNA pada sel tubuh Anda. Namun, suatu mutasi pada keduanya dapat diwariskan dan meningkatkan risiko seorang wanita terkena kanker payudara. Sehingga jika ibu atau saudara wanita Anda mengidap kanker payudara, maka kemungkinan Anda memiliki risiko kanker payudara 2 kali lipat lebih tinggi dibandingkan wanita lain yang dalam keluarganya tidak ada penderita satu pun.

5. Penyakit fibrokistik

Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, ada peningkatan risiko terjadinya kanker payudara.

6. Obesitas

Wanita yang telah mengalami menopause (post-menopausal) dengan berat badan yang berlebih (obese dan overweight), memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker payudara. Hal ini dikarenakan wanita tersebut akan memiliki kadar estrogen yang lebih tinggi, yang akan memperbesar risikonya terkena kanker payudara.

7. Radiasi

Terpapar dengan radiasi ionisasi (sinar Alfa, Beta, dan Gamma) selama atau sesudah pubertas juga dapat meningkatkan terjadinya risiko kanker ganas ini.

Selain ketujuh hal di atas, terdapat beberapa faktor lain yang diduga dapat menyebabkan kanker payudara yaitu; menggunakan implan payudara, tidak menikah, menikah tetapi tidak mempunyai anak, tidak pernah menyusui anak, melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun, dan mengalami kondisi stres atau gangguan jiwa.

Pemeriksaan

Screening kanker payudara dilakukan pada wanita sehat untuk dapat mendeteksi kanker payudara sedini mungkin, dengan asumsi deteksi dini dapat meningkatkan hasil akhir dalam terapi. Untuk mendeteksi adanya kanker payudara, seseorang dapat menjalani berbagai macam tes dan pemeriksaan. Di bawah ini adalah contoh dari tes diagnostik dan prosedur untuk screening kanker payudara:

1. Pemeriksaan fisik

Saat pasien diperiksa dengan cara ini, dokter akan melakukan pemeriksaan langsung pada kedua payudara. Pasien akan diminta untuk duduk/berdiri dengan kedua tangan di posisi yang berbeda, seperti di atas kepala dan dengan sisi tubuh.

2. Pemeriksaan darah

Pada pemeriksaan ini, pasien akan diambil sampel darahnya dengan tujuan untuk memeriksa substansi tertentu yang dikeluarkan oleh organ dan jaringan tubuh ke dalam darah (misalnya pemeriksaan kadar CA 15-3 dalam darah). Jika pada hasil pemeriksaan ditemukan kadar yang tidak normal (lebih tinggi atau lebih rendah dari normal), hal ini dapat menjadi tanda adanya suatu penyakit.

3. X-ray (mammogram)

Pada umumnya, pemeriksaan ini digunakan untuk screening kanker payudara jika sesuatu yang tidak biasa ditemukan oleh dokter. Pemeriksaan ini akan dianjurkan oleh dokter ketika seorang wanita berusia diatas 40 tahun.

4. USG Payudara

Hasil USG pada daerah payudara dan sekitarnya dapat membantu dokter untuk  memutuskan apakah benjolan atau kelainan yang terdapat pada payudara pasien merupakan massa padat atau kista berisi cairan.

5. Biopsi

Biopsi dilakukan dengan mengambil sampel jaringan sel payudara yang mengalami pembenjolan atau kelainan secara langsung. Dengan cara ini, ada atau tidaknya kanker payudara pada tubuh pasien dapat diketahui dengan pasti. Selain itu, dapat diketahui pula jenis pertumbuhan sel yang terkena kanker payudara, dan apakah kanker bersifat tumor jinak atau tumor ganas (kanker).

6. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Hasil scanning dengan menggunakan MRI dapat menentukan sejauh mana kanker menyebar. Selain itu, MRI juga memberikan informasi yang berguna untuk mengetahui respon dari kemoterapi pra-operasi.

Penanganan

Ada beberapa faktor yang dapat digunakan untuk menentukan terapi dan pengobatan pada penderita kanker payudara. Faktor-faktor ini meliputi tipe, stadium, ukuran kanker payudara, sensitivitas sel kanker terhadap hormon, serta kondisi kesehatan penderita secara umum. Berikut adalah cara pengobatannya:

1. Mastektomi

Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara, yang secara umum dibagi menjadi 3 tipe, yaitu:

  • Modified Radical Mastectomy, merupakan operasi pengangkatan seluruh jaringan payudaradi tulang iga, tulang selangka dan tulang dada, serta pengangkatan benjolan di daerah
  • Total (Simple) Mastectomy, merupakan operasi pengangkatan seluruh payudara, yang tidak disertai dengan pengangkatankelenjar pada
  • Radical Mastectomy, merupakan operasi pengangkatan sebagian dari payudara(atau lumpectomy), yaitu pada jaringan yang mengandung sel kanker, dan bukan keseluruhan Biasanya, operasi ini dikombinasikan pula dengan radioterapi.

2. Radiasi

Radiasi merupakan proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan menggunakan  sinar gamma dan sinar X. Hal ini bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker yang masih tersisa di payudara setelah pasien menjalani operasi.

3. Kemoterapi

Kemoterapi merupakan proses pemberian obat-obatan anti-kanker yang bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker melalui mekanisme kemotaksis pada tubuh pasien.

4. Terapi Hormonal

Pengobatan jenis ini dikenal pula sebagai ‘terapi anti-estrogen’ yang sistem kerjanya memblokir fungsi hormon estrogen dalam menstimulus perkembangan kanker pada payudara.

Nah, itu dia informasi seputar kanker payudara. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Merasa kesehatan Anda terganggung? Segera chat dokter untuk tanya jawab seputar permasalahan kesehatan Anda, langsung dari Smartphone. GRATIS! Download aplikasinya di sini.

Comments are closed.