Juvenile Rheumatoid Arthritis; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Juvenile rheumatoid arthritis

Juvenile rheumatoid arthritis adalah jenis arthritis yang paling umum dijumpai pada anak-anak di bawah usia 17 tahun. Penyakit ini terbukti dapat menyebabkan nyeri sendi persisten, pembengkakan, dan kekakuan.

GoDok- Rheumatoid Arthritis -atau yang lebih dikenal dengan istilah rematik- merupakan keluhan medis yang seringnya disangkutpautkan dengan manula. Padahal, ada pula jenis RA yang bisa menimpa remaja. Tidak percaya? Yuk, simak penjelasan lengkap khas Go Dok mengenai Juvenile rheumatoid arthritis berikut ini!

Mengenal Juvenile Rheumatoid Arthritis

Juvenile rheumatoid arthritis adalah jenis arthritis yang paling umum dijumpai pada anak-anak di bawah usia 17 tahun. Penyakit ini terbukti dapat menyebabkan nyeri sendi persisten, pembengkakan, dan kekakuan. Jika dalam sabagian kasus gejala penyakit ini hanya bertahan selama beberapa bulan saja, maka pada kasus yang lain gejala serupa dapat berlangsung selama-lamanya. .

Waspada! Beberapa jenis juvenile rheumatoid arthritis dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti masalah pertumbuhan dan radang mata. Untuk penanganannya sendiri, dokter umumnya akan fokus pada terapi yang bermanfaat untuk mengendalikan rasa sakit, memperbaiki fungsi, serta mencegah kerusakan sendi.

Penyebab

Sama halnya dengan kasus rheumatoid arthritis, juvenile rheumatoid arthritis juga disebabkan oleh ganggaun autoimun -sebuah kondisi di mana sisitem kekebalan tubuh malah menyerang balik sel dan jaringannya sendiri. Tidak diketahui pasti mengapa hal ini bisa terjadi, namun banyak ahli berasumsi bahwa kondisi ini disebabkan oleh faktor keturunan dan lingkungan.

Gejala

Berikut beberapa tanda dan gejala yang paling umum dialami pasien:

  • Rasa sakit. Pasien mungkin tidak akan mengeluhkan sakit pada sendi secara langsung. Namun, orangtua sebaiknya waspada ketika melihat anak remaja mereka tampak berjalan pincang -terutama di pagi hari atau setelah tidur siang.
  • Pembengkakan; umumnya  terjadi pada persendian yang besar, seperti lutut.
  • Kekakuan pada sendi.

Selain berdampak buruk pada kondisi serta fungsi sendi, banyak kasus menunjukkan bahwa penyakit ini juga bisa memengaruhi fungsi organ seluruh tubuh, seperti menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening, memicu ruam, hingga demam.

Diagnosis

Perlu diketahui bahwa diagnosis penyakit ini tidaklah mudah ditegakkan. Mengapa? Karena nyeri sendi bisa saja disebabkan oleh berbagai kondisi medis. Inilah alasannya mengapa pasien seringkali dianjurkan untuk menjalani beragam tes penunjang demi menyingkirkan probabilitas lain. Berikut tes penunjang yang dimaksud:

  • Tes darah. Berikut beberapa jenis tes darah yang paling umum dilakukan:
    • Tingkat sedimentasi eritrosit (ESR). Peningkatan nilai pada tes ini mengindikasikan adanya peradangan.
    • Protein C-reaktif. Tes darah ini ditujukan untuk mengukur tingkat peradangan umum di tubuh ; skalanya berbeda dengan ESR.
    • Faktor reumatoid. Antibodi ini biasa ditemukan pada darah anak-anak yang menderita rheumatoid arthritis.
    • Peptida citrullinated siklis (PKC). Seperti faktor rheumatoid, PKC adalah antibodi lain yang mungkin ditemukan pada darah anak-anak dengan rheumatoid arthritis.
  • Pemeriksaan sinar X. Pemeriksaan ini ditujukan untuk menyingkirkan faktor pemicu lain, sepertifraktur, tumor, infeksi, cacat bawaan, dll.
Penanganan

Penanganan juvenile rheumatoid arthritis difokuskan untuk membantu penderita –yang umumnya adalah anak-anak dan remaja- dalam mempertahankan tingkat serta fungsi aktivitas fisik & sosialnya. Untuk mencapai hal tersebut, dokter biasanya akan mengombinasikan beragam strategi demi mengurangi rasa sakit, meredakan pembengkakan, mempertahankan gerakan dan kekuatan penuh, sekaligus mencegah komplikasi. Berikut strategi yang dimaksud:

  • Obat-obatan. Bagi beberapa penderita, penghilang rasa sakit mungkin satu-satunya obat yang dibutuhkan. Obat tipikal yang dapat digunakan meliputi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) –digunakan untuk mengurangi rasa sakit dan pembengkakan. Namun, waspadai efek samping obat ini, yaitu gangguan perut dan masalah hati. 
  • Terapi fisik. Dokter mungkin menyarankan penderita agar mengikuti terapi fisik (fisioterapi). Tujuannya adalah untuk mempertahankan kondisi & fungsi sendi agar tetap fleksibel sekaligus demi mempertahankan jangkauan gerak dan tonus otot.
  • Pada kasus  yang sangat parah, pembedahan mungkin diperlukan untuk memperbaiki posisi sendi.
  • Support dari keluarga/orang serumah.Anggota keluarga memainkan peran penting dalam hal ini. Perlakukan penderita sebisa mungkin seperti layaknya anak-anak lain. Selain itu, semangati pula mereka untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik.
Komplikasi

Berikut beberapa komplikasi medis yang dipicu oleh juvenile rheumatoid arthritis:

  • Masalah mata. Faktanya,penyakit ini  dapat menyebabkan peradangan pada mata (uveitis). Jika kondisi ini tidak diobati, maka pasien berisiko besar menderita katarak, glaukoma, bahkan kebutaan.
  • Masalah pertumbuhan.Penyakit ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tulang penderita. Hal ini dapat disebabkan juga karena efek samping pemberian obat kortikosteroid.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.