Iktiosis; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Iktiosis

Iktiosis merupakan gangguan pembentukan keratin pada kulit sehingga permukaan kulit menjadi sangat kering dan berskuama (bersisik). Gangguan kesehatan kulit ini biasanya terjadi pada lapisan epidermis yang merupakan lapisan terluar kulit manusia.

GoDok- Iktiosis – Permukaan kulit tentu merupakan bagian yang amat penting bagi tubuh Anda, sebab perlindungannya mencegah bakteri secara langsung masuk ke dalam tubuh. Namun, Anda harus tahu bahwa terdapat beberapa kelainan kulit yang menyebabkan rusaknya fungsi kulit. Salah satunya adalah Iktiosis, suatu penyakit kulit yang tergolong amat langka. Penderita penyakit ini, baik dewasa maupun anak-anak, akan memiliki kulit yang amat kering, bersisik seperti ikan, dan mudah mengelupas. Mau tahu lebih banyak tentang Iktiosis? Ayo simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Mengenal iktiosis

Iktiosis merupakan gangguan pembentukan keratin pada kulit sehingga permukaan kulit menjadi sangat kering dan berskuama (bersisik). Gangguan kesehatan kulit ini biasanya terjadi pada lapisan epidermis yang merupakan lapisan terluar kulit manusia. Kata iktiosis sendiri (“ik-thee-o-sis”) berasal dari Bahasa Yunani, “Ichthys (Greek) : fish (ikan)-mengacu pada kulit yang kering dan bersisik menyerupai ikan.

Umumnya, penyakit ini sudah dapat terlihat sejak kelahiran melalui suatu kondisi yang dikenal dengan istilah bayi kolodion (baby with collodion membrane). Pada kondisi ini, kulit seorang bayi yang baru lahir sudah dilapisi membran transparan yang tegang, mengkilat-seperti dibungkus plastik. Membran ini mudah retak dan akan mengelupas saat si bayi berusia 10-14 hari.

Sejatinya, penyakit ini lebih sering ditemukan pada orang-orang Mongolia, Asia, dan suku asli Amerika. Bahkan, berdasarkan hasil penelitian oleh Dr. Leonard Milstone, Ketua Medis dan Ilmiah Dewan Penasehat dari Yale University, dalam Archives of Dermatology edisi September 2012, ditemukan bahwa setidaknya 200 bayi lahir dengan penyakit iktiosis setiap tahunnya di Amerika Serikat.

Penyebab

Para peneliti telah menyatakan bahwa penyebab dari penyakit ini adalah terjadinya mutasi gen. Untuk memastikan mutasi gen ini, dapat dilakukan analisis kromosom. Namun, pemeriksaan ini membutuhkan biaya yang besar, di samping itu hasil pemeriksaan tidak mengubah penanganan pasien maupun prognosis penyakit.

Diagnosis dan Klasifikasi

Diagnosa terhadap mereka yang penderitanya dilakukan berdasarkan pengamatan pada gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Biasanya, penderita penyakit ini dapat langsung diketahui lewat pengamatan langsung pada kulit. Setelah terdiagnosa, dokter akan menentukan jenis iktiosis apa yang Anda atau anak Anda derita. Umumnya, penentuan ini berdasarkan pola pewarisan, berat-ringannya penyakit, tampilan klinis dan histopatologi. Setiap tipe iktiosis memiliki gejala dan tingkat bahaya yang berbeda. Berikut adalah 3 klasifikasi yang biasanya digunakan oleh para ahli medis :

1. Iktiosis Vulgaris (Ringan)

Pada jenis ini adalah yang paling umum ditemukan baik pada penderita dewasa maupun bayi dan anak-anak. Faktanya, sekitar 95% orang yang didiagnosa iktiosis, menderita iktiosis tipe vulgaris. Menurut data di Departemen Kulit dan Kelamin sub-bagian Dermatologi Anak FKUI/RSCM, sejak tahun 2001 sampai hingga Mei 2006 terdapat 10 kasus iktiosis vulgaris. Lebih lanjut, iktiosis vulgaris dapat dibagi menjadi dua yaitu inherited dan acquired, yang secara umum dapat dijabarkan seperti berikut :

 – Iktiosis vulgaris inherited merupakan jenis iktiosis vulgaris yang muncul sejak seseorang lahir. Bayi yang baru lahir dapat terkena penyakit ini karena mewarisi gen pembawa iktiosis dari orangtua mereka. Meskipun begitu, orangtua tidak harus menderita iktiosis untuk mewariskan gen ini, dan peran mereka hanya sebatas carrier (pembawa).

 – Iktiosis vulgaris acquired merupakan jenis iktiosis vulgaris yang muncul saat seseorang telah memasuki usia dewasa, namun ini sangat jarang. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang menderita penyakit yang menjadi pemicu iktiosis vulgaris, seperti penyakit kanker, gagal ginjal, dan Human Immunodeficiency Virus (HIV).

 2. Iktiosis Lamellar (Sedang)

Saat menderita iktiosis lamellar, kulit penderita akan menjadi kering dan retak karena adanya penyumbatan kelenjar keringat pada permukaan kulit. Gejala lain yang kemudian timbul adalah terdapatnya bagian kulit bersisik (skuama) yang berwarna kecokelatan, tampak kasar, dan biasanya terdapat di seluruh bagian tubuh, terutama di daerah fleksor. Selain itu, akan tampak pula penebalan kulit pada telapak tangan dan kaki (palmoplantar keratoderma), ektropion, eklabium, distrofi kuku, serta alopesia sikatrik pada daerah berambut (alis dan kepala).

Jika ditemukan gambaran klinis seperti yang sudah disebutkan, umumnya dokter sudah dapat mengatakan bahwa pasien telah terdiagnosis iktiosis lamellar. Namun apabila masih meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa biopsi kulit.

Berbeda dengan kasus iktiosis ringan yang memiliki kemungkinan kecil terjadinya komplikasi, pada kasus iktiosis lamellar terdapat kemungkinan yang cukup besar akan terjadinya hiportemia, sepsis, serta hilangnya cairan akibat adanya gangguan fungsi epidermis pada penderita. Penyakit ini memang dapat dikatakan cukup langka. Di Indonesia sendiri, menurut data dari Departemen Kulit dan Kelamin sub-bagian Dermatologi Anak FKUI/RSCM, hanya didapatkan 6 kasus iktiosis lamellar sejak tahun 2001 sampai dengan bulan Mei 2006.

3. Iktiosis Harlequin (Berat)

Pada kasus iktiosis Harlequin, umumnya bayi lahir prematur dengan penampakan kulit yang tebal, kaku, tegang, berwarna kuning kecoklatan, dan melekat erat di seluruh tubuh sehingga pergerakan bayi menjadi terbatas. Setelah lahir, kulit tebal tersebut akan robek, dan digantikan oleh kulit kemerahan yang menyerupai pola kostum badut Harlequin yang bentuknya menyerupai berlian.

Penyakit iktiosis jenis ini tergolong sangat langka, dan di Indonesia sendiri hanya terdapat beberapa kasus yang pernah dilaporkan. Kasus-kasus tersebut antara lain adalah 1 kasus di RS Hasan Sadikin Bandung (1994), 1 kasus di RSUP Manado (1994), dan 1 kasus di RS dr. Soetomo (2002).

Penanganan

Iktiosis merupakan kelainan kulit yang terjadi pada seluruh tubuh dan hal ini akan berlangsung seumur hidup pada penderitanya. Penyakit ini tidak dapat dicegah dan hingga kini belum ada tindakan penyembuhan yang sempurna untuk iktiosis. Meski begitu, para peneliti dan dokter yang ahli di bidangnya secara konsisten terus mencari cara untuk mengembangkan pengetahuan mereka mengenai penyakit ini.

Walaupun obat untuk iktiosis belum ditemukan, namun ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meringankan kondisi penderita adalah dengan  penanganan yang ditujukan untuk meringankan gejala yang ada, seperti kulit kering, kulit mengelupas, dan bersisik. Biasanya, pada penderita diberikan obat-obatan topikal untuk hidrasi kulit yang mengandung bahan keratolitik, yang bermanfaat untuk mengurangi skuama. Lebih lanjut, untuk mengurangi skuama dapat pula digunakan lotion humektan yang mengandung seramid dan lotion asam laktat 5%, memberikan hasil baik dengan skuama tebal yang banyak berkurang dibandingkan awal perawatan. Selain itu, penderita juga memerlukan penambahan nutrisi dan obat-obatan yang hanya dilakukan per oral sesuai petunjuk dokter yang menangani.

Secara keseluruhan, penanganan iktiosis memerlukan kerjasama beberapa ahli dan bidang ilmu, seperti Bidang Kulit & Kelamin, Ilmu Kesehatan Anak, Mata, THT (Telinga, Hidung & Tenggorokan), serta Bedah Plastik. Selain itu, perlu pula dilakukan edukasi pada masyarakat secara luas bahwa iktiosis bukanlah penyakit menular demi menyelamatkan tingkat kepercayaan diri penderita. Peran serta orangtua pun sangat diperlukan, terutama dalam aspek emosi dan psikososial agar anak-anak tidak merasa dikucilkan dan menjadi rendah diri.

Baca juga:

Merasa kesehatan Anda terganggung? Segera chat dokter untuk tanya jawab seputar permasalahan kesehatan Anda, langsung dari Smartphone. GRATIS! Download aplikasinya di sini.

Comments are closed.