HIV; Penyebab, Gejala dan Penanganan

HIV

 

 

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang dapat menyebar melalui pertukaran cairan tubuh dan menyerang system kekebalan tubuh, terutama sel CD4 atau yang sering disebut sel-T. Seiring dengan berjalannya waktu, virus ini dapat menghancurkan sel-T dalam jumlah besar.

GoDok- HIV- Siapa sih yang tidak menganal HIV? Selain kondang karena sifatnya yang mematikan, banyak yang menakuti penyakit ini karena  dikenal sebagai penyakit yang belum ditemukan obatnya. Yuk, bentengi diri Anda dan keluarga dari penyakit yang satu ini dengan menyimak penjelasan lengkap khas Go Dok berikut ini!

Mengenal HIV

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang dapat menyebar melalui pertukaran cairan tubuh dan menyerang system kekebalan tubuh, terutama sel CD4 atau yang sering disebut sel-T. Seiring dengan berjalannya waktu, virus ini dapat menghancurkan sel-T dalam jumlah besar. Akibatnya, tubuh tidak dapat menghalau infeksi bakteri dan virus pemicu beragam penyakit, seperti penyakit kulit, TBC, gangguan pencernaan, dsb.

Bagaimana penyakit ini menginfeksi tubuh? Awalnya, virus HIV akan menempel pada sel sistem kekebalan yang disebut sel limfosit CD4 (berfungsi untuk melindungi tubuh dari berbagai bakteri, virus, dan kuman lainnya). Lalu, secara perlahan virus akan memasuki sel CD4 dan memanfaatkannya untuk bereplikasi. Nah, virus baru yang terbentuk kemudian akan meninggalkan sel CD4 dan menyerang sel lain. Proses ini terus berlanjut sampai akhirnya jumlah sel CD4 turun drastis dan memicu berhentinya kerja sistem kekebalan tubuh Anda.

Perlu diketahui bahwa sekali tubuh terinfeksi HIV, maka virus ini akan selalu ada dan tidak akan pernah bisa hilang sepenuhnya. Karenanya, sebagian pasien HIV akan turut mengidap AIDS. Tapi, tanang! Berkat kecanggihan dunia medis, telah dikembangkan terapi antiretroviral (ART) yang memungkinkan penderitanya hidup selama bertahun-bertahun lamanya sebelum berlanjut mengembangkan AIDS, atau malah tidak terjangkit AIDS sama sekali.

Epidemiologi

Di Indonesia, jumlah kumulatif kasus penyakit ini yang dilaporkan dari pertama kali ditemukan (1987) sampai dengan Desember 2016 berjumlah 232.323 orang. Sedangkan jumlah kumulatif AIDS sampai dengan Desember 2016 sebanyak 86.780 orang. Jika ditilik dari pembagian wilayah, maka dapat disimpulkan bahwa jumlah infeksi  tertinggi terjadi di DKI Jakarta, diikuti Jawa Timur, Papua, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Penyebab

Virus HIV dapat menular melalui pertukaran cairan tubuh -misalnya sperma, darah, sumsum tulang belakang, dan cairan vagina (termasuk darah menstruasi). Cara penularannya pun sangat beragam, meliputi:

  • Hubungan seks dengan orang yang mengidapnya, kebiasaan bergonta ganti pasangan, serta kecenderungan berhubungan seks tanpa menggunakan alat pelindung (kondom)
  • Transfusi darah atau kontak dengan darah/luka yang sudah tercemar virus HIV
  • Penggunaan jarum suntik, jarum tindik, atau peralatan jarum suntik tato/body piercingsecara bersamaan atau bergantian dengan orang yang terinfeksi
  • Penularan virus HIV dari ibu ke bayi yang dikandungnya.

Cairan tubuh lainnya seperti air liur, keringat, dan urin tidak cukup banyak mengandung virus; sehingga penyakit ini tidak menular melalui:

  • Bersin dan meludah
  • Gigitan nyamuk atau binatang lain
  • Bersalamanatau berpelukan dengan pasien
  • Berciuman
  • Makan bersama
  • Tinggal serumahserta menggunakan toilet atau kolam renang berbarengan
  • Resusitasi mulut ke mulut
Gejala

Jika ditelaah dengan seksama, maka gejalanya  dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  • Gejala infeksi dini

Banyak pasien HIV tidak menunjukkan gejala apapun selama beberapa bulan,  bahkan sampai bertahun-tahun setelah terinfeksi. Namun dalam kasus lainnya,   bisa saja ditandai dengan gejala mirip flu, yaitu:

  1. Demam
  2. Panas dingin
  3. Nyeri sendi
  4. Sakit otot
  5. Sakit tenggorokan
  6. Berkeringat (terutama di malam hari)
  7. Kelenjar membesar
  8. Ruam merah
  9. Kelelahan
  10. Penurunan berat badan yang tidak disengaja
  • Gejala infeksi stadium akhir

Jika tidak segera diobati, maka penyakit ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Dampaknya, pasien menjadi sangat rentan terhadap penyakit serius. Berikut beberapa gejala stadium akhir:

  1. Penglihatan kabur
  2. Diare, biasanya bersifat persisten atau kronis
  3. Batuk kering
  4. Demam di atas 100 ° F (37 ° C) yang berlangsung berminggu-minggu
  5. Berkeringat di malam hari
  6. Kelelahan permanen
  7. Sesak napas (dyspnea)
  8. Kelenjar bengkak yang bertahan selama berminggu-minggu
  9. Penurunan berat badan yang tidak disengaja
  10. Bintik putih di lidah atau mulut
Diagnosis

Tes utama untuk mendiagnosisnya meliputi:

  • Tes ELISA. Merupakan singkatan dari enzyme-linked immunosorbent assay, tes ELISA digunakan untuk mendeteksi infeksi HIV. Jika terbukti positif, maka pasien biasanya akan diarahkan untuk turut mengambil tes Western Namun, jika hasil ELISA terbukti negatif-tapi tetap berpikir bahwa Anda mungkin mengidap HIV-, maka  Anda dapat mengujinya lagi dalam 1-3 bulan.
  • Tes Viral Load. Tes iniditujukan untuk mengukur jumlah HIV dalam darah. Selain itu, tes ini juga digunakan untuk memantau kemajuan pengobatan atau mendeteksi infeksi HIV dini. Terdapat tiga jenis teknologi viral load yang dapat dicoba, yaitu  RT-PCR, bDNA dan NASBA.
  • Western Blot. Ini adalah tes darah yang sangat sensitif dandigunakan untuk mengkonfirmasi hasil tes ELISA positif.
  • Tes air liur.Tes ini melibatkan pengujian sampel air liur dari pipi bagian dalam. Hasil yang positif harus dikonfirmasi dengan tes darah.
  • Alat tes HIV dirumah yang dijual bebas.
Penanganan

Hingga kini belum ditemukan obat atau vaksin yang dapat digunakan untuk menyembuhkannya. Obat ART (antiretroviral) yang selama ini banyak digunakan nyatanya tidak dapat mematikan semua virus yang sudah terlanjur ada dalam tubuh. Karena sejatinya ART hanya efektif untuk menghambat pertumbuhan virus atau menghentikan virus agar tidak memperbanyak diri saja.

Pencegahan

Mengingat dampaknya yang mematikan, tidak berlebihan rasanya jika Anda melakukan beragam langkah pencegahan, seperti:

  1. Menerapkan perilaku seks yang sehat. Misalnya, dengan tidak berhubungan seks di luar nikah, tidak berganti-ganti pasangan, dan menggunakan alat pengaman
  2. Tidak mengkonsumsi narkoba, terutama narkoba jenis suntik.
  3. Sunat atau khitan pada laki-laki terbukti dapat mengurangi risiko terkena penyakit ini  hingga 60%.
  4. Bagi tenaga medis, gunakan alat pelindung diri(sarung tangan, dll) saat menolong pasien.
  5. Penggunaan alat-alat medis yang steril atau sekali pakai, misalnya jarum suntik, pisau bedah, atau alat tindik/tato.
  6. Mempertahankan sistem kekebalan tubuh yang kuat dengan pemeriksaan medis yang teratur
  7. Menerapkangaya hidup sehat dengan makan teratur, istirahat yang cukup, dan rajin
Kapan waktu yang tepat untuk tes HIV?

Perlu diketahui bahwa sistem kekebalan tubuh baru akan membentuk antibodi tiga minggu- tiga bulan setelah infeksi masuk ke dalam tubuh. Inilah yang disebut dengan istilah masa jendela (window period). Jadi, jika Anda merasa telah terpapar HIV, maka disarankan untuk menunggu dulu selama tiga bulan pasca peristiwa berisiko sebelum melakukan tes HIV.

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.