Herpes Simpleks; Gejala, Penyebab, dan Penanganan

Herpes simpleks

Herpes simpleks adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks (HSV) tipe 1 atau tipe 2. HSV tipe 1 umumnya menginfeksi tepi bibir (dikenal sebagai herpes labialis / kissing herpes), sedangkan  HSV tipe 2 seringkali mengincar organ intim (dikenal sebagai herpes genitalis).

Go Dok- Pernahkah Anda mendengar istilah herpes simpleks? Salah satu jenis penyakit menular ini menyebabkan peradangan pada kulit. Lantas, apa itu dan bagaimana cara menanganinya? Simak pemaparannya melalui artikel khas Go Dok berikut ini!

Mengenal Herpes Simpleks

Herpes simpleks pertama kali ditemukan di Yunani sekitar 2000 tahun lalu. Istilah ‘herpes’—yang berarti dari “to creep or crawl” (merayap)—mulai digunakan sebagai sebutan untuk peradangan kulit akibat infeksi virus herpes.

Berdasarkan gejala klinis dan jenis virusnya, herpes dibagi menjadi dua, yaitu herpes zoster dan herpes simpleks. Herpes simpleks adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi virus herpes simpleks (HSV) tipe 1 atau tipe 2. HSV tipe 1 umumnya menginfeksi tepi bibir (dikenal sebagai herpes labialis / kissing herpes), sedangkan  HSV tipe 2 seringkali mengincar organ intim (dikenal sebagai herpes genitalis).

Penyakit ini menginfeksi 23 juta warga dunia setiap tahunnya dan lebih sering ditemukan pada wanita. Terlebih lagi, penyakit ini terbukti dapat menyerang anak-anak (khususnya HSV-1). Mengejutkan, bukan?

Gejala

Biasanya, 80% kasus infeksi herpes simpleks tidak menunjukkan gejala (asimtomatik). Infeksi bergejala (simtomatik) ditandai dengan keluhan dan kekambuhan yang signifikan. Sedangkan, pada pasien yang memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh, infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa.

Umumnya, penyakit ini ditandai dengan munculnya lesi kecil (3-6 mm) yang berair dan bergerombol. Gejala tersebut dapat terlihat dalam 2- 20 hari setelah kontak dengan penderita. Selain itu, terdapat juga beberapa gejala lain, seperti:

  • Demam, lemas, penurunan nafsu makan, dan pembesaran kelenjar getah bening. Kemudian muncul lesi gelembung air bergerombol dengan dasar merah yang apabila gelembung pecah dapat menjadi ulkus (borok).
  • Pada HSV-1, lesi muncul pada daerah pinggang ke atas, terutama pada hidung dan mulut
  • Pada HSV-2, lesi muncul pada daerah pinggang ke bawah, terutama pada area genital. Namun, tidak menutup kemungkinan jika HSV-2 bisa ditemukan pada mulut dan HSV-1 ada di daerah genital.

Ingat! Pada kasus penyakit ini, kekambuhan atau infeksi berulang dapat terjadi. Namun, gejala klinis yang ditimbulkan akan lebih ringan (biasanya berupa vesikel berkelompok yang gatal, panas, dan nyeri). Nyatanya, kekambuhan dapat dipicu oleh:

  • Trauma fisik
  • Trauma psikis
  • Sakit
  • Trauma panas
  • Kontak seksual
  • Menstruasi.
Penyebab

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, herpes simpleks dipicu oleh infeksi 2 jenis virus, yaitu HSV-1 dan HSV-2. Keduanya terbukti dapat menular melalui beragam cara; mulai dari pertukaran cairan kelamin/mulut hingga kontak langsung dengan lesi gelembung atau permukaan mukosa pasien.

HSV-1 biasanya menginfeksi pada anak-anak dan menular melalui kontak dengan cairan mulut yang mengandung virus. Jika ditemukan HSV-2 pada anak-anak, hal tersebut dapat mengindikasikan adanya tindakan pelecehan seksual.

HSV-1 dan HSV-2 dapat ditemukan pada mulut atau mukosa genital yang terlihat normal—mengingat kebanyakan kasus herpes tidak bergejala. Inilah mengapa, penularan bisa terjadi melalui kontak dengan individu yang tidak sadar dirinya menderita herpes dan memiliki lesi.

Jika HSV-2 umumnya menular lewat kontak genital, maka HSV-1 dapat menjangkiti individu lain lewat seks oral.

Faktor Risiko

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang berisiko terjangkit penyakit ini, seperti:

  • Berganti-ganti partner seks
  • Tidak menggunakan kondom setiap berhubungan seks.
Diagnosis & Pemeriksaan

Untuk dapat mendiagnosis herpes simpleks, dokter biasanya akan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik dengan cara melihat lesi. Untuk itu, sebaiknya Anda jujur dan terbuka kepada dokter mengenai kehidupan seksual Anda. Bila diperlukan, dokter juga akan melakukan pemeriksaan darah lengkap.

Selain itu, dokter dapat pula menyarankan pemeriksaan Tzanck Tes untuk memastikan keberadaan virus herpes. Pemeriksaan ini ditempuh dengan cara mengambil sampel apusan kulit pada dasar gelembung yang pecah untuk dilihat di bawah mikroskop.

Penanganan

Sampai saat ini, herpes simpleks tidak dapat disembuhkan secara total. Pengobatan dilakukan untuk menghilangkan kekambuhan dan mencegah penularan. Biasanya, penderita akan diberi obat minum berupa Acyclovir selama 5 hari. Selain itu, penderita juga diberikan obat salep yang diaplikasikan pada lesi untuk mengurangi peradangan dan mencegah penularan.

Sebagai langkah pencegahan, hindari hubungan seksual ketika masih terdapat lesi atau sedang muncul gejala prodromal; seperti demam, lemas, atau nafsu makan yang menurun. Sebaiknya, penderita memberi informasi kepada pasangannya bahwa ia memiliki infeksi HSV. Karena, penularan secara seksual dapat terjadi pada masa asimtomatik (tidak bergejala). Apabila pasangan sudah memiliki riwayat herpes, maka sebaiknya kondom harus selalu digunakan untuk menurunkan risiko penularan.

Komplikasi

Jika herpes simpleks tidak segera ditangani secara tepat, beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah:

  • Infeksi bakteri dan jamur pada lesi gelembung yang pecah
  • Infeksi HSV yang menyebar pada mata, gusi, atau tenggorokan
  • Infeksi saluran pencernaan
  • Infeksi saluran napas bagian atas
  • Radang selaput otak
  • Penularan herpes simpleks pada janin lewat plasenta. Selain dapat menimbulkan kecacatan dan kelainan pada janin (ensefalitis. keratokonjungtivitis. dan hepatitis), kondisi ini juga bisa meningkatkan risiko kematian jabang bayi.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.

 

NY/PJ/MA

Referensi