Fimosis; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Fimosis

Fimosis adalah sebuah kondisi di mana kulit khitan tidak dapat diretraksi (dibuka) melewati glans penis.  fimosis diklasifikasikan menjadi dua; yaitu fimosis fisiologis dan patologis.

GoDok- Pernahkah Anda mendengar istilah ‘fimosis’? Nyatanya, kondisi medis yang menimpa kaum pria ini masih jarang diketahui oleh khalayak umum. Yuk, kenali penyakit ini lebih dalam lewat penjelasan khas Go Dok berikut ini!

Mengenal fimosis

Fimosis adalah sebuah kondisi di mana kulit khitan tidak dapat diretraksi (dibuka) melewati glans penis. Lengkapnya, fimosis dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

  • Fimosis fisiologis; Jenis ini banyak menimpa bayi dan anak-anak. Dalam kondisi normal, preputium seharusnya bisa diretraksi. Namun, pada sebagian kasus preputium tetap lengket pada glans penis sehingga ujungnya mengalami penyempitan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat mengganggu proses berkemih.
  • Fimosis patologis; Jenis ini terjadi akibat peradangan atau cedera pada preputium. Dampaknya, timbulah jaringan parut kaku yang menghalangi retraksi.

Sebuah studi terakhir mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor medis yang biasanya mendasari pria menjalani prosedur khitan,yaitu: fimosis (46,5%), nyeri saat berhubungan seksual/dyspareunia (17,8%), infeksi batang penis/balanitis (14,4%), dan fimosis disertai balanitis (8,9%).

Penyebab

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, penyakit ini diklasifikasikan menjadi dua; yaitu fimosis fisiologis dan patologis.

Nah, jika fimosis fisiologis umumnya menimpa anak-anak atau bayi baru lahir, maka fimosis patologis biasanya terjadi pada pria yang telah melewati masa pubertas -di mana sebelumnya kulit khatan dapat dibuka. Lebih lanjut, pada kasus fimosis fisiologis umum sekali terjadi perlengketan antara bagian dalam kulit khatan dengan lapisan sel kulit glan penis. Namun, perlengketan ini dapat lepas dengan sendirinya dengan ereksi dan usaha membuka kulit khatan secara berkala. Inilah alasannya mengapa pasien fimosis jenis ini seringnya sembuh dengan sendirinya.

Jangan anggap remeh! Sebab, jika tidak ditangani dengan segera, pasien berisiko besar terkena parafimosis (kondisi di mana kulit khatan yang sudah ditarik tidak dapat dikembalikan ke posisi semula). Mengerikan, bukan?

Faktor risiko

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terkena penyakit ini:

  • Hygiene yang buruk
  • Usia; seiring dengan bertambahnya usia, pria lebih rentan terkena fimosis karena berkurangnya frekuensi ereksi serta kulit yang perlahan kehilangan tingkat elastisitasnya.
  • Episode berulang radang batang penis (balanitis atau balanoposthitis) serta riwayat trauma pada kulit khatan.
  • Penis yang belum dikhitan; sebuah studi mengungkapkan bahwa 1% pria yang tidak menjalani khitan terkena penyakit ini.
Gejala

Perlu diketahui bahwa keluhan umum penyakit ini adalah terganggunya aliran urin. Lengkapnya, simak daftar lengkap berikut ini!

  • Nyeri saat buang air kecil
  • Mengejan saat buang air kecil
  • Pancaran urin mengecil
  • Menggelembungnya ujung preputium saat berkemih
  • Kencing berdarah
  • Nyeri saat ereksi
  • Benjolan lunak (umumnya berwarna kemerahan) di ujung penis akibat penumpukan smegma.
  • Kulit kathan tidak dapat diretraksi 
Diagnosis

Untuk mendiagnosa kondisi pasien, dokter umumnya akan melakukan sesi wawancara medis dan pemeriksaan fisik biasa saja. Namun, jika pasien datang dalam kondisi demam, maka dokter bisa saja menyarankan tes penunjang lainnya, seperti  pemeriksaan darah lengkap.

Penanganan

Sebenarnya, penyakit ini bukanlah kasus gawat darurat. Karenanya, untuk menangani kondisi ini dokter umumnya akan menganjurkan prosedur khitan. Namun, jika khitan tidak dapat dilakukan -bisa disebabkan oleh faktor usia atau budaya-, maka fimosis dapat ditangani dengan cara lain, semisal pemberian salep steroid Bethametasone sebanyak 2x/hari selama 2- 8 minggu. Tapi, ingat! Langkah pengobatan konservatif ini terhitung kurang efektif. Selain itu, dokter dan para ahli juga percaya bahwa langkah tersebut bisa meningkatkan risiko pasien terkena  infeksi pada preputium yang nantinya dapat memicu pembentukan jaringan parut.

Selain dengan menjalani prosedur khitan, penanganan penyakit ini juga melibatkan edukasi mengenai cara membersihkan penis -khususnya bagian kepala (gland)- yang benar. Langkah preventif ini tentunya menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Anda para orangtua.

Komplikasi

Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat memicu beragam komplikasi; mulai dari retensi urin hingga parafimosis. Jangan anggap remeh komplikasi terakhir; sebab, parafimosis dapat menyebabkan penekanan pada pembuluh darah di penis. Akibatnya, selain memicu pembengakkan kepala penis, parafimosis juga bisa menyebabkan matinya jaringan penis karena  supplai darah yang berkurang.

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.