Filariasis; Penyebab, Gejala dan Penanganan

filariasis

Filariasis merupakan penyakit infeksi pembuluh getah bening yang disebabkan oleh tiga spesies cacing yaitu, Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori.

GoDok- Anda tentunya sering mendengar nama penyakit ‘kaki gajah’. Dikenal dengan istilah ‘filariasis’ di dunia medis, penyakit ini ternyata memicu beragam komplikasi jika tidak ditangani dengan segera. Tidak ingin hal tersebut terjadi bukan? Karenanya, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Mengenal Filariasis

Sejatinya, filariasis merupakan penyakit infeksi pembuluh getah bening yang disebabkan oleh tiga spesies cacing yaitu, Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Untuk cara penyebarannya sendiri, cacing di atas  dapat menginfeksi manusia lewat gigitan nyamuk.

Perlu diketahui bahwa mayoritas kasus penyakit ini disebabkan oleh infeksi cacing Wuchereria biancofii; sedangkan sisanya disebabkan oleh cacing Brugia malayi. Lantas, bagaimana dengan Brugia Timori? Faktanya, filariasis akibat cacing ini hanya ditemukan di Indonesia, khususnya Indonesia bagian Timur.

Setelah masuk ke tubuh manusia, cacing pemicu penyakit ini kemudian akan tinggal di pembuluh getah bening -atau ujungnya-. Inilah yang menyebabkan pelebaran dan penebalan pembuluh getah bening. Jika tidak segera ditangani, sistem imun tubuh akan menunjukkan gejala perlawanan berupa penyumbatan pembuluh getah bening; kondisi inilah yang memicu timbulnya keluhan kaki bengkak serupa kaki gajah.

Selain kaki gajah, paseinnya juga bisa mengalami pembengakakan di bagian tubuh lain, semisal lengan, tangan, dan alat kelamin. Malahan, filariasis akut terbukti dapat meningkatkan risiko pasien terkena gangguan ginjal. Mengerikan!

Penyebab

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Penyebab penyakit ini adalah infeksi cacing yang termasuk famili Filaridae. Setelah menginfeksi tubuh pasien, cacing jenis ini dapat ditemukan di dalam peredaran darah, limfe, otot, jaringan ikat, atau rongga serosa pada tulang belakang.

Fliariasis yang banyaknya dipicu oleh infeksi cacing Mikrofilaria W. brancofti nyatanya ditularkan melalui gigitan nyamuk Culex quinquefasciatus di daerah perkotaan; dan nyamuk Anopheles/Aedes di daerah pedesaan. Awas! Nyamuk ini dapat bertahan dalam tubuh manusia hingga 5 tahun, lho!

Berikut siklus hidup cacing Mikrofilaria yang harus Anda ketahui:

  1. Mikrofilia akan masuk lambung nyamuk, melepaskan kulit, dan menembus dindingnya untuk kemudian bersarang di otot dada.
  2. Mikrofilaria kemudian berkembang menjadi larva stadium I. Larva stadium I bertukar kulit 2 kali menjadi larva stadium II dan kemudian larva stadium III yang sangat aktif.
  3. Larva yang aktif kemudian akan bermigrasi sampai ke alat penusuk nyamuk. Melalui gigitan nyamuk, larva stadium III masuk tubuh manusia dan bersarang di saluran getah bening.
  4. Larva terus berkembang menjadi larva stadium IV dan V (cacing dewasa). Nah, cacing fase inilah yang menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah dan limfa.
  5. Cacing dewasa memproduksi mikrofilaria. Nantinya, mikrofilaria akan meninggalkan cacing induk dan menembus dinding pembuluh limfe menuju pembuluh darah terdekat.

Lantas, bagaimana dengan penularan cacing Mikrofilaria B.malayi dan B. timori? Faktanya, cacing B.malayi yang hidup pada manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris, sedangkan yang hidup pada manusia dan hewan ditularkan oleh nyamuk Mansoni. Cacing B.timori sendiri ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles barbirostris. Kedua cacing tadi dapat hidup di tubuh nyamuk selama 10 hari; dan bertahan di tubuh manusia selama 3 bulan. Fase perkembangannya serupa dengan W.brancofti.

Faktor risiko

Mereka yang tinggal di daerah endemis penyakit ini tentunya sangat berisiko terinfeksi mikrofilaria. Namun, perlu diketahui bahwa diperlukan gigitan nyamuk berulang selama beberapa bulan -bahkan bertahun tahun- sebelum mikrofilarial menjad infeksius di dalam tubuh manusia. Jadi, kecil kemungkinannya bagi turis yang bepergian ke daerah endemis untuk terinfeksi penyakit ini.

Gejala

Secara umum, manifestasi klinis dari penyakit ini dibagi menjadi 3 stadium: stadium tanpa gejala, stadium peradangan (akut), dan stadium penyumbatan (menahun).

Pada stadium tanpa gejala, pasien yang tinggal di daerah endemis akan mengalami pembesaran kelenjar getah bening (tanpa nyeri) -terutama di lipat paha. Pada stadium ini, pemeriksaan darah biasanya akan menunjukkan keberadaan mikrofilaria dalam jumlah besar disertai peningkatan sel darah putih (khususnya eosinophil).

Pada stadium peradangan (akut), pasien biasanya mengeluhkan bengkak dan nyeri pada kelenjar getah bening, demam, menggigil, sakit kepala, muntah, dan tubuh yang sering terasa lemah. Pada stadium ini, infeksi cacing akan mengganggu fungsi dan kelenjar getah bening di kaki, ketiak, telinga, dada, dan alat kelamin. Khususnya pasien laki-laki, mereka biasanya akan mengalami pembengkakan kantung buah zakar serta kencing yang berwarna putih susu (kyluria). Bahkan, dapat pula ditemukan bercak darah atau busa pada air seni. Gejala lainnya dapat berupa sesak nafas karena tersumbatnya paru-paru akibat respon lmunologik berlebih.

Pada stadium stadium penyumbatan (menahun), gejala yang muncul meliputi hidrokel, limfedema. dan elephantiasis (kaki gajah).

Diagnosis

Untuk mendiagnosa kondisi pasien, dokter biasanya akan melakukan beragam tahap pemeriksaan; mulai dari wawancara medis dan riwayat berpergian ke wilayah endemis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Untuk pemeriksaan fisik, dokter akan mencari tanda- tanda filariasis, seperti seperti pembengkakan (elefantiasis) pada kaki, lengan, kantong buah zakar (skrotum), bibir vagina (vulva), payudara, kencing susu (kiluria), dan sesak napas.

Jika hasil pemeriksaan masih dirasa kurang komprehensif, maka dokter dapat menganjurkan tes penunjang -seperti cek darah lengkap untuk menghitung jumlah sel darah putih; tes apusan darah tepi dan/atau analisis urin untuk menemukan mikrofilaria dalam darah atau urin; serta biopsi kelenjar atau jaringan getah bening untuk menemukan potongan cacing dewasa.

Penanganan

Prinsip utama dari penanganan filariasis adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi dan penularan dari satu individu ke individu lain. Jadi, ada baiknya bagi Anda yang  bepergian ke daerah endemis untuk selalu menggunakan lotion anti nyamuk, tidur di ranjang yang dilengkapi jaring nyamuk, serta mengenakan pakaian dan celana panjang untuk menghindari gigitan nyamuk.

Lantas, bagaimana dengan individu yang sudah terinfeksi? Maka, penyakit ini akan ditangani dengan beragam langkah berikut ini:

1. Perawatan Umum

Beristirahat (terutama di lingkungan yang bersuhu rendah karena dapat mengurangi derajat serangan akut), mengonsumsi obat antibiotik untuk menangani infeksi sekunder dan abses, serta mengikat area tubuh yang membengkak untuk mengurangi pembengkakannya.

2. Medikamentosa

Jika pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil positif, maka pasien akan menerima pengobatan berupa terapi Dietilcarbamazine (DEC) -ditujukan untuk membunuh mikrofilaria dalam darah- selama 12 hari. Pengobatan biasanya diulang 1-6 bulan, atau selama 2 hari per bulan. Namun, perlu diiingat bahwa matinya cacing tidak serta-merta membuat pembengkakan mereda. Pembengkakan tetap bisa terjadi  karena tubuh cacing yang mati akan terkumpul di jaringan pembuluh limfe. Kondisi inilah yang menyebabkan cacat permanen pada pasien.

3. Pembedahan 

Langkah akhir ini ditujukan untuk membebaskan saluran kelenjar getah bening yang tersumbat.

Komplikasi

Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat memicu beragam komplikasi berikut ini:

  • Gangguan ginjal
  • Gangguan saluran napas
  • Infeksi sekunder; disebabkan oleh terganggunyafungsi saluran getah bening.
  • Infeksi kulit

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Konsultasi dokter kini bisa lewat fitur ‘Tanya Dokter’. Download aplikasinya Go Dok di sini.