Ejakulasi Dini; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Ejakulasi dini

Ejakulasi dini -atau dikenal juga dengan istilah premature ejaculation (PE)- dapat dipahami sebagai disfungsi seksual yang menimpa pria.

GoDok- Dari sekian banyak permasalahan medis yang menimpa kaum pria, ejakulasi dini tetap menjadi momok tersendiri. Yuk, cari tahu lebih lengkap mengenai keluhan medis ini; dan cara menanganinya lewat penjelasan Go Dok di bawah!

Mengenal ejakulasi dini

Berdasarkan pengertian dari  The International Society for Sexual Medicine (ISSM), ejakulasi dini -atau dikenal juga dengan istilah premature ejaculation (PE)- dapat dipahami sebagai disfungsi seksual yang menimpa pria dan ditandai dengan: 1) Ejakulasi yang selalu atau hampir selalu terjadi sebelum/1 menit setelah penetrasi ke vagina, dan 2) Ketidakmampuan untuk menunda ejakulasi setelah sebagian/seluruh bagian penis memenetrasi vagina.

Dilihat dari jenisnya, ejakulasi dini dibagi menjadi 2, yaitu:

  • Primer; PE primer ditandai dengan ketidakmampuan pria menahan ejakulasi sejak pertama kali berhubungan seksual.  
  • Sekunder; meskipun sama-sama ditandai dengan ketidakmampuan pria untuk menahan ejakulasi, namun PE sekunder terjadi secara bertahap. Artinya, kemampuan penis berereksi akan perlahan menurun seiring dengan berjalannya waktu.
Penyebab

Setelah menyimak penjelasan di atas, mungkin Anda bertanya-tanya, “Apa sih penyebab ejakulasi dini?”. Sejatinya, dengan semakin bertambahnya usia dan pengalaman masturbasi, pria harusnya semakin matang dalam menahan ejakulasi. Namun, studi terakhir menunjukkan bahwa tetap saja terdapat dua faktor utama yang membuat pria tidak bisa ‘menunaikan tugasnya’ dengan sempurna. Apa saja faktor yang dimaksud? Berikut poin lengkapnya:

1. Faktor biologis

  • Keabnormalan kadar hormon dalam tubuh
  • Keabnormalan zat kimia dalam otak (dikenal juga dengan istilah ‘neurotransmitter’)
  • Peradangan dan infeksi pada prostat/uretra

2. Faktor psikologis

  • Pengalaman seksual dini
  • Pelecehan seksual
  • Citra tubuh yang buruk
  • Depresi
  • Khawatir tentang ejakulasi dini
  • Perasaan bersalah yang membuat pria cenderung terburu-buru dalam berhubungan seksual

Selain dua faktor di atas, ternyata masih terdapat penyebab yang lain, seperti:

  • Disfungsi ereksi.
  • Mempunyai masalah dengan pasangan.
  • Gelisah berlebih. Faktanya, banyak penderitanya yang memiliki kegelisahan tersendiri tentang banyak hal, sebut saja gelisah akan performa seksualnya hingga gelisah tentang permasalah yang lain.
Gejala

Seperti yang telah disinggung di bagian sebelumnya, ejakulasi dini umumnya ditandai dengan:

  • Air mani yang selalu atau hampir selalu keluar sebelum/1 menit setelah penetrasi ke vagina
  • Ketidakmampuan untuk menahan keluarnya air manisetelah sebagian/seluruh bagian penis memenetrasi vagina.

Selain poin di atas, perlu diketahui pula bahwa penderita kondisi ini hanya memerlukan rangsangan minim untuk mengalami ejakulasi. Jadi, bisa dibayangkan betapa frustasinya wanita ketika mengetahui si pria sudah ‘keluar’, padahal gairahnya masih belum tertuntaskan.

Diagnosis

Untuk mendiagnosa pasien dengan keluhan ejakulasi dini, dokter biasanya akan melakukan berbagai langkah pemeriksaan. Pertama; pemeriksaan riwayat medis dan seksual pasien. Jika hasilnya dirasa kurang komprehensif, maka dokter dapat pula melakukan pemeriksaan tambahan, seperti tes fisik menyeluruh. Langkah ini dilakukan untuk menentukan apakah ejakulasi di sebabkan oleh kondisi medis tertentu, atau tidak.

Penanganan

Anda, atau pasangan, terbukti menderita ejakulasi dini? Tidak usah khawatir, karena kini telah ditemukan berbagai teknik untuk menangani keluhan ini!

Teknik pertama dikenal juga dengan istilah behavioural technique.  Umunya dianjurkan untuk penderita PE primer, behavioural technique menekankan 2 jenis latihan, yaitu ‘stop-start’ dan ‘squeeze’.

Pada teknik ‘stop-start’ yang pertama kali dikenalkan oleh Semans, istri diarahkan untuk merangsang penis suami hingga ia merasakan sensasi ingin ejakulasi. Pada titik ini, suami akan menyuruh pasangannya untuk menghentikan rangsangan. Ia kemudian akan menunggu beberapa saat hingga sensasi ingin ejakulasi lewat; dan mengulangi proses ini dari awal.

Hampir serupa dengan teknik ‘stop-start’, teknik ‘squeeze’ juga membutuhkan kerjasama yang baik antara suami-istri. Namun, bedanya adalah pada teknik ‘squeeze’, istri diarahkan untuk menekan penis suami lewat cara manual glans sesaat sebelum ejakulasi.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pasangan dianjurkan untuk mengulangi teknik di atas sebanyak 3 kali sebelum benar-benar mengalami orgasme. Nyatanya, kedua teknik di atas didasarkan pada hipotesa yang menyebutkan bahwa ejakulasi dini disebabkan oleh ketidaktahuan/ketidakpekaan pria akan sensasi puncak yang muncul saat akan ejakulasi. Dengan mengulangi teknik tersebut, pria diharapkan dapat memperlambat responnya terhadap rangsangan yang diberikan pasangan sehingga durasi bercintapun dapat bertahan lebih lama.

Lalu, adakah terapi obat-obatan yang dapat dicoba untuk mengobati ejakulasi dini? Hingga kini, BELUM ada obat untuk ejakulasi dini yang diterima oleh EMEA (European Medicines Agency ) atau FDA (Food and Drug Administration). Karenanya, belum ada indikasi apakah terapi obat-obatan dapat digunakan untuk mengobati ejakulasi dini atau tidak.

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.