Efusi pleura; Penyebab, Gejala dan Penanganan

efusi pleura

Efusi pleura umumnya disebabkan oleh gagal jantung kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia bakteri.  

GoDok- Efusi Pleura- Dari sekian banyak kondisi medis yang menyerang paru-paru, efusi pleura merupakan jenis yang mungkin masih terdengar asing di telinga masayarakat. Yuk, kenali kondisi medis ini lebih dekat lewat penjelasan Go Dok berikut!

Mengenal efusi pleura

Dalam keadaan normal, jumlah cairan dalam rongga pleura berkisar di nilai 10-20 ml. Namun, karena faktor tertentu cairan ini bisa semakin menumpuk sehingga memicu kondisi yang dikenal dengan istilah efusi pleura.

Nah, penumpukan cairan nyatanya dapat menyebabkan berbagai komplikasi, seperti menurunnya kapasitas paru serta terdorongnya organ-organ mediastinum -termasuk jantung. Akibatnya, terjadilah insufisiensi pernafasan serta risiko terjadinya gangguan pada jantung dan sirkulasi darah.

Ingat, kondisi ini bukanlah sebuah penyakit, tapi tanda suatu penyakit!

Epidemiologi

Di negara-negara barat, efusi pleura umumnya disebabkan oleh gagal jantung kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia bakteri. Sementara itu, pada penduduk dari negara berkembang -termasuk Indonesia- biasanya diakibatkan oleh infeksi tuberkulosis. Lebih lanjut, kondisi ini juga umum menimpa pasien keganasan, seperti kanker paru dan payudara.

Penyebab

Tahukah Anda, bahwa efusi pleura dibagi menjadi beberapa jenis sesuai dengan penyebabnya? Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Hidrotoraks

Hidrotorak dipicu oleh kondisi hipoalbuminemia berat. Akibatnya, transudat sangat mungkin terjadi.

2. Hemotoraks 

Hemotoraks ditandai dengan ditemukannya darah pada rongga pleura. Biasanya, kondisi ini dipicu oleh trauma toraks.

3. Empiema 

Empiema -atau pitoraks- adalah kondisi yang ditandai dengan berubahnya cairan pleura menjadi pus. Penyebabnya bisa dikarenakan infeksi primer/sekunder akibat:

  • Pneumonia
  • Infeksi pada cedera di dada 
  • Pembedahan dada 

4. Chylotoraks 

Chylotoraks adalah suatu keadaan di mana kil/getah bening menumpuk pada rongga pleura. Biasanya, kondisi ini dipicu oleh:

  • Kelainan kongenital
  • Trauma
  • Obstruksi
Gejala

Berikut beberapa tanda dan gejala umumnya:

  • Pneumonia; memicu demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis.
  • Efusi malignan; memicu dispnea dan batuk.
  • Sesak nafas, terutama jika efusi terbukti meluas.
  • Dada terasa nyeri dan berat.
Diagnosis

Demi memeriksa kondisi pasien secara menyeluruh, dokter akan menyarankan beberapa langkah diagnosis, seperti:

1. Rontgen dada

Merupakan langkah pertama yang umum dilakukan, rontgen dada dilakukan untuk mendiagnosis ada atau tidaknya penumpukan cairan.

2. CT-scan Dada

Selain digunakan untuk menunjukkan perbedaan antara densitas cairan dengan jaringan di sekitarnya, CT-sacn juga terbukti bermanfaat untuk menunjukkan adanya komplikasi lain, semisal pneumonia, abses paru, atau tumor.

3. Torakosentesis

Torakosentesis adalah prosedur pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan di antara sel iga ke dalam rongga dada. Nyatanya, langkah ini berguna sebagai sarana diagnostik maupun terapeutik.

4. Biopsi Pleura

Jika penyebab efusi pleura tidak kunjung diketahui -padahal prosedur torakosintesis sudah dilakukan-, maka dokter akan menganjurkan prosedur biopsi di mana contoh lapisan pleura sebelah luar akan dianalisa.

Penanganan

Ingat, kondisi ini haruslah mendapatkan tindakan pengobatan dengan segera! Mengapa? Karena penumpukan cairan pleura dapat menekan organ-organ vital di dalam rongga dada.

Berikut beberapa macam penanganannya yang dapat dicoba:

1. Tangani penyakit yang mendasarinya

  • Hemotoraks

Jika darah memasuki rongga pleura hempotoraks, maka dokter akan mengeluarkannya melalui sebuah selang. Jika perdarahan terus berlanjut atau jika darah tidak dapat dikeluarkan melalui selang, maka perlu dilakukan tindakan pembedahan

  • Chylotoraks

Penanganan chylotoraks umumnya ditujukan untuk memperbaiki kerusakan pada saluran getah bening. Caranya? Selain melalui pembedahan, dokter juga bisa meresepkan obat anti-kanker untuk tumor yang menyumbat aliran getah bening.

  • Empiema

Pada kasus empiema, dokter umumnya akan melakukan prosedur pengeluaran nanah sekaligus meresepkan antibiotik.

  • Pleuritis TB

Terakhir, pasien pleuritis TB umumnya ditangani dengan pemberian obat-obat antituberkulosis (Rimfapisin, INH, Pirazinamid/Etambutol/Streptomisin) yang memakan waktu 6-12 bulan.

2. Chest tube

Jika cairan yang menumpuk terlampau banyak, maka pasien umumnya disarankan untuk memasang selang dada (chest tube) demi mengeluarkan cairan seluruhnya.

3. Pleurodesis

Pleurodesis dimaksudkan untuk menutup rongga pleura agar cairan tidak lagi menumpuk.

Komplikasi

Berikut beberapa komplikasi yang munkin timbul :

1. Infeksi

Menumpuknya cairan dalam ruang pleura terbukti dapat mengakibatkan
infeksi. Untuk menanganinya, pasien dapat dianjurkan untuk menjalani prosedur drainase dan terapi antibiotik.

2. Fibrosis

Fibrosis ternyata dapat membatasi pengembangan paru-paru sekaligus mengurangi ventilasi.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.