Dispepsia; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Dispepsia

Dispepsia merupakan istilah yang sering digunakan oleh tenaga medis untuk menyebut suatu gangguan pada perut atas yang penyebabnya belum dapat dipastikan, atau gejalanya tidak spesifik mengarah ke suatu diagnosis medis tertentu.

GoDok-Pernahkah Anda mendengar istilah ‘dispepsia’? Apa sebenarnya penyakit ini, dan bagaimana cara menanganinya? Cari tahu lewat penjelasan lengkap khas Go Dok berikut ini!

Mengenal dispepsia

Pada dasarnya, dispepsia merupakan istilah yang sering digunakan oleh tenaga medis untuk menyebut suatu gangguan pada perut atas yang penyebabnya belum dapat dipastikan, atau gejalanya tidak spesifik mengarah ke suatu diagnosis medis tertentu. Contoh, seorang pasien mengeluhkan rasa tidak nyaman di perut dan menyebutnya sebagai ‘masuk angin’, maka hal ini akan didiagnosis sementara oleh tenaga medis sebagai dispepsia -sampai penyebab yang mendasarinya dapat dipastikan.

Lantas, apa saja keluhan yang dapat diacu dengan istilah dispepsia? Selain ketidaknyamanan di area perut, penyakit ini juga dapat mencakup rasa nyeri, perih terbakar, kembung, perasaan cepat kenyang hanya dengan asupan makanan yang sedikit, rasa tidak enak setelah makan, mual, kehilangan nafsu makan, mulas, dan bersendawa.

Para ahli percaya bahwa terdapat beberapa kondisi medis yang dapat menjadi pemicunya, seperti:

  • Radang saluran empedu (Kolesistitis)
  • Batu saluran empedu (Kolelitiasis)
  • Penyakit Chron
  • Kanker lambung
  • Infeksi saluran cerna (Gastroenteritis)
  • Kanker kelenjar getah bening (Limfoma)
  • Luka pada lambung (Ulkus peptikum)
  • Refluks asam lambung (GERD), dan masih banyak lagi.
Penyebab

Umumnya, kasus penyakit ini disebabkan oleh radang pada lambung (Gastritis) dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

  1. Gastritis dapat dipahami sebagai peradanganpada lapisan mukosa dan submukosa lambung yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter Pylori. Namun dalam kasus lain, gastritis juga dapat dipicu oleh konsumsi rutin obat pereda nyeri non- steroid. Usut punya usut, obat jenis ini dapat menurunkan produksi lendir pelindung dinding lambun Akibatnya, dinding lambung menjadi lebih mudah teriritasi asam lambung yang sesungguhnya diproduksi oleh sel lambung sendiri.
  2. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah penyakit yang disebabkan oleh naiknya asam lambung sehingga melukai dinding kerongkongan. Perlu diketahui bahwa satu- satunya tempat di dalam tubuh manusia yang dapat bertahan dari asam lambung adalah lambung itu sendiri. Jadi, jikaasam lambung sampai naik dan mengenai dinding kerongkongan, maka dinding ini dapat teriritasi dan lama kelamaan bisa menjadi luka.
Faktor resiko

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terkena penyakit ini:

  1. Pola makan yang tidak baik. Contoh, seringterlambat makan, terlalu banyak mengonsumsi makanan pedas, hingga kebiasaan makan dalam porsi yang besar.
  2. Sering minum kopi dan teh
  3. Infeksi bakteri atau parasit
  4. Pengunaan obat analgetik dan steroid
  5. Usia lanjut
  6. Konsumsi miras berlebih
  7. Stress
  8. Riwayat kondisi medis tertentu, sepertipenyakit refluks empedu, penyakit autoimun, HIV/AIDS, Chron disease, dll.
Gejala

Ternyata, gejala dispepsis sangat bergantung pada penyebab utamanya. Lengkapnya, jika penyakit ini disebabkan oleh gastritis, maka pasien biasanya akan mengeluhkan rasa nyeri dan panas seperti terbakar  pada perut bagian atas.

Namun, jika dispepsis disebabkan oleh GERD, maka pasien umumnya akan mengeluhkan rasa panas dan terbakar di belakang tulang dada atau ulu hati. Selain dapat menjalar ke leher, sensasi tadi juga biasanya diserta dengan muntah dan timbulnya rasa asam di mulut.

Diagnosis

Untuk mendiagnosa kondisi pasien, dokter akan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan juga pemeriksaan penunjang lainnya.

Berikut beberapa pemeriksaan penunjang yang akan disarankan untuk kasus dispepsis akibat gastritis:

  1. Pemeriksaan darah rutin.
  2. Pemeriksaan Ureabreath testdan feses; langkah ini ditujukan untuk mengetahui ada atau tidaknya infeksi Helicobacter pylori.
  3. Rontgendengan barium enema, dan
  4. Endoskopi

Lantas, seperti apa langkah penegakan diagnosis untuk kasus dispepsia akibat GERD? Jika hasil kuesioner GERD terbukti positif, maka dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani tes yang memanfaatkan penggunaan obat golongan PPI (Proton Pump Inhibitor). Standar baku untuk diagnosis definitif GERD sendiri didasarkan pada ditemukannya mucosal break di kerongkongan (esophagus) -namun, tindakan ini hanya dapat dilakukan oleh  dokter spesialis yang memiliki kompetensi.

Penanganan

Untuk menangani penyakit ini, dokter umumnya akan meresepkan obat golongan PPI atau golongan H2 Blocker. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghambat produksi asam lambung. Selain itu, obat jenis lain -seperti Domperidone dan antasida- juga dapat diberikan untuk mempercepat proses penyembuhan.

Selain dengan terapi obat-obatan, penyakit ini juga dapat dicegah dengan cara menghindari faktor pemicunya. Berikut beberapa langkah mudah yang dapat dipraktikkan:

  • Makan tepat waktu
  • Membiasakan diri untukmakan dengan porsi kecil, namun sering.
  • Menghindari bahan pangan yang dapat meningkatkankadar asam lambung, seperti kopi, teh, makanan pedas, dan kol.
  • Menjaga berat badan agar tetap ideal
  • Berhenti merokok
  • Menghentikan asupan zat pengiritan lambung, seperti aspirindan alkohol.
  • Tidur dengan posisi kepala yang lebih tinggi dan miring ke kiri
  • Memberikan jeda 2-4 jam antara waktu makan dan waktu tidur.
Komplikasi

Jika tidak segera ditangani, maka penyakit ini dapat memicu beragam komplikasi, seperti:

  • Pendarahan saluran cerna bagian atas
  • Ulkus peptikum
  • Perforasi lambung  
  • Anemia
  • Inflamasi faring dan laring
  • Aspirasi paru.
  • Kanker esofagus

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.