Dislipidemia; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Dislipidemia

Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak (lipid) yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lemak dalam darah. Beberapa kelainan fraksi lemak yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL dan/atau trigliserid (TGA), serta penurunan kolesterol HDL.

GoDok- Perubahan gaya hidup masyarakat dan transisi nutrisi telah membawa banyak  perubahan pada pola penyakit dimana meningkatnya angka kejadian penyakit tidak menular seperti dislipidemia. Apa itu dan bagaimana cara menanganinya? Simak penjelasan khas Go Dok berikut ini!

Mengenal Dislipidemia

Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lemak (lipid) yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lemak dalam darah. Beberapa kelainan fraksi lemak yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL dan/atau trigliserid (TGA), serta penurunan kolesterol HDL. Lantas, seberapa bahayakah dislipidemia? Nyatanya, kondisi medis ini merupakan faktor risiko kuat terjadinya aterosklerosis (plak pada pembuluh darah) pemicu penyumbatan pembuluh darah yang dapat berujung pada stroke, penyakit jantung koroner, hingga penyakit arteri perifer.

Selain karena faktor keturunan (genetik), penyakit ini juga kerap menimpa mereka yang senang mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak dan/atau kolesterol tinggi. Apalagi jika ditambah dengan kecenderungan malas berolahraga, maka risiko terkena penyakit ini pun akan semakin meningkat.

Penyebab

Dislipidemia -yang mengacu pada kondisi di mana kadar fraksi lemak (terutama kolesterol LDL) dalam tubuh terlampau tinggi- nyatanya dapat dipicu oleh beberapa faktor, seperti:

  • Keturunan (genetika)
  • Bertambahnya usia
  • Menopause pada wanita
  • Obesitas
  • Diet kaya lemak
  • Jarang berolahraga
  • Senang mengonsumsi alkohol
  • Merokok
  • Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik
  • Penyakit kelenjar tiroid yang kurang aktif (hypothyroid)
Gejala

Umumnya, dislipidemia tidak menunjukkan gejala apapun Karenanya, jangan heran jika kebanyakan pasien dengan keluhan ini baru mengetahuinya ketika melakukan pemeriksaan rutin kesehatan (medical check-up). Namun, pada pasien hipertrigliseridemia (trigliserid >1000-2000 mg/dL), biasanya muncul beberapa keluhan umum, seperti:

  • Gangguan sistem pencernaan
  • Nyeri. Biasanya berawak dari ulu hati, namun bisa menjalar ke area lain; semisal dada dan

Lebih jauh lagi, banyak pasien yang menghubungkan sakit kepala dan tegang leher dengan kadar kolesterol yang tinggi. Benarkah seperti itu? Perlu diketahui bahwa hal ini tidak sepenuhnya benar, namun juga tidak sepenuhnya salah.

Nyatanya, nyeri kepala dan tegang leher dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perubahan hormon, gangguan pada postur tubuh, serta tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Karenanya, merupakan hal yang salah apabila kita membenarkan bahwa penyakit ini menyebabkan dua keluhan tadi. Namun, perlu diketahui pula bahwa terdapat korelasi yang kuat antara dislipidemia dengan angka kejadian hipertensi. Beberapa studi menemukan bahwa pasien dyslipidemia yang biasanya mengeluhkan nyeri kepala umumnya merupakan pasien wanita berusia >60 tahun, mengonsumsi obat Lipitor, dan memiliki riwayat hipertensi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa keluhan nyeri kepala dan/atau tegang leher  kebanyakan disebabkan oleh  riwayat hipertensi yang tidak terkontrol, atau riwayat konsumsi obat penurun kolesterol.

Diagnosis

Untuk mendiagnosa, dokter umumnya akan menyarankan tes lipid profil. Tujuannya adalah untuk menganalisa fraksi lemak yang terdapat pada sampel darah. Dengan tes ini, pasien dapat mengetahui kadar kolesterol total, kolesterol jahat (LDL), kolesterol baik (HDL), serta trigliseride di dalam darah. Eits, perlu diperhatikan bahwa sebelum menjalani tes di atas, pasien wajib berpuasa selama minimal 10-12 jam. Hal ini bertujuan agar hasil tes tidak terpengaruh oleh makanan yang sedang dicerna.

Selain pemeriksaan profil lipid, dokter juga memerlukan data berupa riwayat merokok, riwayat penyakit jantung pada orang tua, riwayat hipertensi, usia pasien, dan status gizi pasien untuk menentukan tatalaksana yang harus diberikan.

Penanganan

Setelah mendapat hasil pemeriksaan profil lipid, dokter akan menilai seberapa besar risiko pasien terkena penyakit kardiovaskular -seperti penyakit stroke atau penyakit jantung- dalam kurun waktu 10 tahun kedepan. Penilaian ini dilakukan dengan melakukan scoring yang didasarkan pada angka HDL,  riwayat merokok, riwayat hipertensi, riwayat orang tua dengan penyakit jantung coroner, dan usia. Setelah itu, barulah dokter dapat menetapkan rencana terapi apa yang paling tepat dicoba oleh pasien.

Terdapat 2 opsi terapi yang bisa saja disarankan bagi pasien, yaitu terapi obat-obatan dan/atau perubahan gaya hidup. Untuk terapi obat-obatan, perlu diingat bahwa langkah ini ditujukan untuk menurunkan kadar LDL, BUKAN kolesterol total. Hal ini sangat perlu diperhatikan, mengapa? Karena pengobatan baru boleh dilakukan ketika kadar LDL -BUKAN kolesterol- terbukti sudah melampaui batas normal.

Apabila tidak memerlukan obat, pasien biasanya akan disarankan untuk mengubah gaya hidupnya demi memperbaiki profil lipidnya. Berikut poin lengkapnya:

  • Membiasakan olahraga
  • Menghentikan konsumsi alkohol dan rokok
  • Menghindari konsumsi makanan yang tinggi lemak jenuhnya, seperti makanan bersantan, jeroan, telur burung puyuh, kulit ayam dan bebek, daging merah, goreng-gorengan, dan seafood (cumi, udang, kerang)
  • Meningkatkan konsumsi makanan yang kaya akan lemak tidak jenuh, seperti minyak nabati (minyak wijen, minyak zaitun), kacang-kacangan dan biji-bijian, serta ikan laut -seperti salmon, tengiri
  • Memperbanyak asupan serat yang terkandung di dalam sayuran dan buah-buahan.
Komplikasi

Jika tidak segera ditangani, dislipidemia dapat memicu timbulnya beberapa komplikasi medis, seperti :

  • Penyakit jantung coroner
  • Stroke
  • Penyakit arteri tepi

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari Smartphone. Download aplikasinya di sini.