Diare; Gejala, Penyebab dan Penanganan

Diare

 

 

Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari biasanya (>3x perhari), yang disertai dengan perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan atau tanpa darah dan/atau lendir.

GoDok- Diare – Apakah Anda atau si buah hati mengalami buang air besar lebih dari 3 kali sehari diiringi dengan perubahan tekstur feses menjadi cair? Jika iya, berarti Anda atau si kecil sedang terkena diare. Pastinya Anda sering mendengar istilah ini; tapi, akrabkah Anda dengan penanganannya? Jika belum, maka ada baiknya untuk menyimak gejala, penyebab, serta penanganannya  berikut ini:

Mengenal diare

Diare adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari biasanya (>3x perhari), yang disertai dengan perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), dengan atau tanpa darah dan/atau lendir.

Saat seseorang buang air besar lebih dari 3 kali dalam sehari dan disertai dengan perubahan tinja menjadi cair (umumnya berlangsung selama 1 minggu), maka individu terkait dikatakan menderita diare akut.

Khusus untuk bayi yang masih mendapoatkan ASI eksklusif, kondisi di mana ia buang air besar lebih dari 3-4 kali per hari masihlah terhitung normal, dan belum dikategorikan sebagai  diare. Apalagi jika berat badannya tetap bertambah, maka perubahan frekuensi BAB bisa jadi hanya merupakan gejala intoleransi laktosa saja. Lain kasusnya pada anak-anak; saat mereka buang air besar kurang dari 3 kali dalam sehari, namun konsistensinya menjadi cair, maka keadaaan ini sudah dapat disebut diare.

Penyebab

Dewasa ini, melalui kemajuan bidang laboratorium, telah diidentifikasi ±25 jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit ini. Umumnya, penyebab infeksi utama timbulnya diare adalah segolongan virus, bakteri, dan parasit. Dua tipe dasar dari diare akut oleh karena infeksi adalah non-inflamatory dan inflammatory. Enteropatogen dapat menimbulkan non-inflamatory diare melalui produksi enterotoksin oleh bakteri, destruksi sel permukaan vili pada usus oleh virus, perlekatan oleh parasit, perlekatan dan atau translokasi dari bakteri. Sebaliknya, inflammatory diare  biasanya disebabkan oleh bakteri yang menginvasi usus secara langsung atau memproduksi sitotoksin.

Cara penularan

Diare umumnya ditularkan melalui fekal oral, yaitu makanan atau minuman yang tercemar oleh enteropatogen, atau kontak tangan secara langsung dengan penderita maupun barang-barang yang telah tercemar tinja penderita. Penularan bisa pula terjadi secara tidak langsung melalui lalat (4F= field, flies, fingers, fluid).

Faktor risiko

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko penularan enteropatogen antara lain adalah :

  • Tidak memadainya ketersediaan air bersih,
  • Pencemaran air minum atau mandi oleh tinja,
  • Kurang layaknya sarana kebersihan atau MCK,
  • Tingkat kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk,
  • Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak higienis, dan
  • Cara penyapihan yang tidak baik pada bayi,
  • Ibu tidak memberikan ASI secara penuh selama 4-6 bulan pertama kehidupan bayi.

Selain hal-hal tersebut, beberapa faktor pada penderita dapat meningkatkan kecenderungan untuk terkena penyakit ini, antara lain adalah keadaan gizi yang buruk, imunodefisiensi, berkurangnya keasaman lambung, menurunnya motilitas usus, serta bayi menderita campak dalam 4 minggu terakhir.

Gejala

Gejala dari gangguan pencernaan bisa berupa diare, kram perut, dan muntah. Sedangkan manifestasi sistemik bervariasi tergantung pada penyebabnya. Menurut level dehidrasinya, penyakit ini dibagi menjadi diare akut tanpa dehidrasi, diare akut dehidrasi ringan, diare akut dehidrasi sedang, dan diare akut dehidrasi berat.

Infeksi di luar pencernaan, yang berkaitan dengan bakteri enteric pathogen antara lain : vulvovaginitis, infeksi saluran kemih, endokarditis, osteomyelitis, meningitis, pneumonia, hepatitis, peritonitis, dan septic tromboplebitis. Gejala neurologik (terkait sistem saraf) dari infeksi usus bisa berupa parestesia (akibat makan ikan, kerang, monosodium glutamate), hipotoni, dan kelemahan otot.

Bila pada saat  terdapat demam, maka kemungkinan hal ini terjadi karena proses peradangan atau akibat dehidrasi. Sejatinya, demam cukup umum terjadi pada penderita dengan inflammatory diare. Nyeri perut yang lebih hebat dan tenesmus -nyeri akibat peregangan pada pergerakan usus- biasanya terjadi pada perut bagian bawah serta rektum, yang menunjukan terkenanya usus besar. Mual dan muntah adalah gejala yang tidak spesifik, namun terjadinya muntah kemungkinan besar disebabkan oleh mikroorganisme yang menginfeksi saluran cerna bagian atas, seperti enteric virus, bakteri yang memproduksi enteroroksin, giardia, dan cryptosporidium.

Diagnosis

Untuk mendiagnosis apakah seseorang terkena diare atau tidak, umumnya dokter akan menanyakan hal-hal terkait jangka waktu diare, frekuensi, volume, konsistensi, warna, dan bau feses, serta ada/tidaknya lendir dan darah. Bila diare juga disertai muntah, maka dokter juga akan mananyakan perihal volume dan frekuensinya. Frekuensi buang air kecil pada seseorang selama diare, apakah biasa, berkurang, jarang atau tidak kencing dalam 6-8 jam terakhir, juga akan ditanyakan beserta makanan dan minuman yang dikonsumsi selama menderita.

Selain itu, dokter juga mungkin akan menanyakan perihal ada/tidaknya demam dan penyakit lain yang menyertainya, seperti batuk, pilek, otitis media, dan campak. Jika diare terjadi pada bayi, balita, atau anak-anak, dokter juga akan menanyakan perihal tindakan yang telah diambil oleh sang ibu selama anak diare, misalnya memberi oralit, membawa berobat ke tempat penanganan medis. Informasi tentang obat-obatan yang telah diberikan. serta riwayat imunisasi anak juga akan diperlukan.

Selain melalui wawancara, dokter juga akan melakukan pemeriksaan terkait berat badan, suhu tubuh, frekuensi denyut jantung, pernapasan serta tekanan darah penderita. Selanjutnya, dokter perlu mencaritahu mengenai tanda-tanda tambahan lainya, seperti ubun-ubun besar cekung atau tidak dan apakah mata penderita cowong atau tidak. Terakhir, dokter juga akan memeriksa keadaan bibir, mukosa mulut, lidah yang kering atau basah, serta ada/tidaknya air mata pada penderita.

Bila diperlukan, dokter juga akan menyarankan penderita untuk melakukan pemeriksaan laboratorium terkait :

  • Darah : Tes darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa darah, kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotika
  • Urin : Tes urin lengkap, kultur dan tes kepekaannya terhadap antibiotika
  • Tinja: Pemeriksaan makroskopik dan pemeriksaan mikroskopik
Komplikasi

Jika tidak ditangani segera, diare dapat pula menyebabkan terjadinya hal-hal berikut :

  1. Gangguan elektrolit; hypernatremia, hiponatremia, hyperkalemia, hipokalemia
  2. Edema
  3. Asidosis metabolik
  4. Ileus paralitik
  5. Kejang
  6. Malbasorbsi dan intoleransi laktosa
Penanganan

Terdapat 4 pilar penting dalam penanganan penyakit ini, yaitu rehidrasi, dukungan nutrisi, pemberian obat sesuai indikasi, dan edukasi pada orang tua. Sejatinya, penanganan dan pengobatan  lebih ditujukan untuk :

  • Mencegah dehidrasi,
  • Mengatasi dehidrasi yang telah terjadi,
  • Mencegah kekurangan nutrisi dengan memberikan makanan selama dan setelahnya, serta
  • Mengurangi lama dan beratnya diare, serta berulangnya episode diare, dengan memberikan suplemen zinc

Tujuan pengobatan di atas dapat dicapai dengan mengikuti rencana terapi yang telah diberikan oleh dokter. Rencana terapi ini terdiri dari rencana terapi A, rencana terapi B, dan rencana terapi C.

Rencana terapi A :penanganan di rumah

Pada pelaksanaan terapi ini, dokter akan menjelaskan kepada Anda untuk  :

  • Beri cairan tambahan (sebanyak yang anak mau)
  • Pada bayi muda, pemberian ASI adalah langkah pemberian cairan tambahan yang utama. Dalam hal ini, berikan anak ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian.
  • Jika anak memang sudah memperoleh ASI eksklusif, maka beri ia oralit atau air matang sebagai tambahan.
  • Jika anak tidak dapat memperoleh ASI eksklusif, maka beri ia salah satu atau lebih cairan berikut ini: oralit, cairan makanan (kuah sayur, air tajin) atau air matang.
  • Dalam pemberian oralit, minumkan cairan ini sedikit demi sedikit, namun dengan sering lewat mangkuk/ cangkir/gelas.
  • Jika anak muntah saat sedang diberi asupan cairan, tunggulah selama 10 menit sebelum melanjutkan lagi pemberian cairan dengan frekuensi yang lebih lambat.
  • Lanjutkan pemberian oralit hingga diare berhenti
  • Lanjutkan pemberian makanan

Rencana terapi B

Pada rencana terapi B, pertama-tama dokter akan menjelaskan tentang jumlah oralit yang perlu untuk dikonsumsi, yaitu 75 ml/kgBB. Selain itu, dokter juga akan menegaskan agar penderita tetap diberikan cairan sesuai kebutuhan. Untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang tidak menyusui, harus diberikan 100-200 ml air matang. Mulailah memberi makan segera setelah anak ingin makan, lalu lanjutkan dengan pemberian ASI. Terakhir, dokter juga akan memberikan tablet zinc untuk dikonsumsi selama 10 hari.

Rencana terapi C

Rencana terapi C ini akan dilakukan oleh dokter/petugas kesehatan dengan pemberian cairan intravena (infus) dan pemeriksaan lanjutan yang diperlukan, seperti pemeriksaan elektrolit. Prinsip pemberian terapi cairan pada gangguan cairan dan elektrolit ditujukan untuk :

  1. Kebutuhan akan rumatan (maintenance) dari cairan dan elektrolit
  2. Mengganti cairan kehilangan yang terjadi
Pengaturan pola makan

Dulu, penanganan diare termasuk dengan mengharuskan penderita untuk berpuasa, dan hanya diberikan air teh. Namun, kini hal tersebut sudah tak dilakukan lagi karena hanya akan memperbesar kemungkinan terjadinya hipoglikemia -turunnya kandungan gula darah secara abnormal. Sebagai pegangan dalam mengatur diet selama diare, digunakan rentetan langkah yang disingkat menjadi O-B-E-S-E (Oralit, Breast feeding, Early Feeding, Simultaneously with Education).

Dengan mengikuti cara tersebut, pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah sembuh. Tujuannya adalah menambah asupan nutrisi sebanyak mungkin, selama anak mampu menerimanya. Sebagian besar anak dengan diare cair, nafsu makanya timbul kembali setelah dehidrasi teratasi. Hal ini akan mempermudah pemberian makanan yang tetap harus diteruskan demi mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal, termasuk kemampuan menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrisi. Melalui cara ini, memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling tidak dikurangi.

Sebaliknya, pembatasan makanan justru akan berakibat turunnya berat badan sehingga diare berlangsung lebih lama dan kembali normalnya fungsi usus juga akan menjadi lebih lama. Umumnya, makanan yang tepat untuk anak diare sama dengan yang dibutuhkan oleh anak sehat. Bayi yang minum ASI harus tetap diberikan ASI sesering mungkin dan selama anak mau. Sementara bayi yang tidak minum ASI harus diberi susu biasa, dengan frekuensi minum setidaknya setiap 3 jam. Pengenceran susu atau penggunaan susu rendah/bebas laktosa mungkin akan diperlukan untuk sementara, bila pemberian susu biasa justru menyebabkan diare bertambah hebat

Terapi medikamentosa

Dalam upaya penyembuhannya, berbagai macam obat telah digunakan untuk mengobati diare, yang di antaranya adalah obat antibiotika, antidiare, adsorben, antiemetic, dan obat yang mempengaruhi mikroflora usus. Beberapa obat memiliki lebih dari satu mekanisme kerja, dan banyak di antaranya yang juga memiliki efek toksik sistemik, sementara sebagian besar tidak direkomendasikan untuk anak yang berumur kurang dari 2-3 tahun. Secara umum, telah dinyatakan bahwa obat-obat tersebut sebenarnya tidak diperlukan untuk pengobatan diare akut.

Pencegahan diare

Dalam mencegah terjadinya diare, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu :

  1. Mencegah penyebaran kuman patogen penyebab diare, dengan :
  2. Pemberian ASI yang benar
  3. Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendamping ASI
  4. Menggunakan air bersih
  5. Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis buang air besar dan sebelum makan
  6. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga
  7. Membuang tinja bayi yang benar
  8. Memperbaiki daya tahan tubuh

Cara-cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus mengurangi risiko diare, adalah :

  1. Memberi ASI paling tidak sampai usia 2 tahun
  2. Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberi makan dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki status gizi anak.
  3. Melakukan imunisasi campak
  4. Memberikan vaksin rotavirus

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.