Demam Tifoid; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Demam tifoid

 

 

Demam tifoid, dikenal pula dengan istilah enteric fever, adalah suatu penyakit yang dapat menyerang seluruh organ tubuh yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella enterica atau Salmonella paratyphi. Demam tifoid merupakan penyakit menular yang dapat mengancam kesehatan di negara-negara berkembang, terutama pada anak-anak.

Go Dok- Tahukah Anda tentang demam tifoid? Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak, dengan gejala demam tinggi disertai sakit perut dan diare. Jika terkena penyakit ini, tubuh si kecil juga akan menggigil hebat. Tak hanya itu, penyakit inijuga bisa berujung pada penyakit yang lebih serius, seperti pneumonia dan pendarahan pada usus. Nah, untuk pencegahan, ada baiknya Anda memahami gejala, penyebab, dan cara penanganannya  berikut ini.

Mengenal demam tifoid

Demam tifoid, dikenal pula dengan istilah enteric fever, adalah suatu penyakit yang dapat menyerang seluruh organ tubuh yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella enterica atau Salmonella paratyphi. Demam tifoid merupakan penyakit menular yang dapat mengancam kesehatan di negara-negara berkembang, terutama pada anak-anak.

Penyakit menular ini masih merupakan masalah kesehatan dunia yang cukup mengkhawatirkan.  Berdasarkan data global, jumlah kasusnya di seluruh dunia mencapai sebanyak 22 juta per tahun dan menyebabkan 216.000 – 600.000 kematian. Sedangkan di Indonesia, pada tahun 2008, jumlah kasus tifoid dilaporkan sebesar 81,7% per 100.000 penduduk, dengan penderita terbanyak adalah pada kelompok usia 2-15 tahun.

Gejala

Gejala yang ditimbulkan biasanya bervariasi, dari yang kadarnya ringan hingga berat. Umumnya, gejala-gejala tersebut akan timbul mulai dari hari ke-6 hingga hari ke-13 setelah Anda terinfeksi.

Nah, setelah infeksi terjadi, kemudian akan muncul tanda dan gejala berikut ini  :

  • Demam tinggi dari 39° sampai 40 °C yang meningkat secara perlahan mulai sore hingga dini hari
  • Tubuh menggigil
  • Denyut jantung melemah
  • Badan terasa lemah atau merasa kelelahan
  • Sembelit atau diare (orang dewasa cenderung mengalami sembelit, sementara anak-anak cenderung mendapatkan diare).
  • Sakit perut
  • Pada kasus tertentu, bisa muncul penyebaran vlek merah muda (“rose spots“)
  • Sakit kepala yang hebat nyeri otot 
  • Kehilangan nafsu makan
Penyebab 

Penyakit ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A, dan Salmonella paratyphi B. Bakteri Salmonella dapat hidup pada suhu ruangan dan suhu yang rendah selama beberapa hari dan dapat bertahan hidup di bahan makanan kering, sampah dan tinja dalam beberapa minggu. Bakteri ini memiliki bentuk menyerupai batang, Gram (-), tidak membentuk spora, motil (memiliki alat gerak), berkapsul dan memiliki flagella (semacam buntut).
Orang yang terinfeksi dapat menularkan bakteri melalui tubuh mereka. Jika orang lain mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi dengan sejumlah kecil kotoran (feses) yang mengandung bakteri tersebut, mereka dapat terinfeksi. Setelah menginfeksi, bakteri ini dapat berkembang dan menyebabkan terjadinya penyakit demam tifoid. Selain melalui feses, penyakit ini dapat pula ditularkan melalui urin, meskipun sangat jarang ditemui kasusnya.

Faktor risiko

Sejatinya, terdapat banyak faktor risiko untuk penyakit ini, yang di antaranya adalah :

  • Tinggal di negara berkembang, seperti India, Asia Tenggara, Afrika, Amerika Selatan dan area lainnya
  • Anak-anak
  • Bekerja atau mengunjungi area dengan wabah demam tifoid
  • Mikrobiologis klinis yang menangani bakteri Salmonella typhi
  • Memiliki kontak dekat dengan orang yang terinfeksi atau baru saja terinfeksi tifus
  • Kepadatan penduduk yang tinggi
  • Sumber air dan sanitasi yang buruk
  • Kurang higienisnyapengolahan makanan
  • Kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat (mencuci tangan, jamban keluarga)
Pemeriksaan

Dokter akan mencurigai adanya demam tifus ini berdasarkan gejala yang sedang dialami dan riwayat dari penyakit terdahulu Anda.

Bakteri Salmonella menyerang kandung empedu, sistem empedu, dan jaringan limfatik usus. Di sini, mereka berkembangbiak dan masuk ke dalam saluran usus sehingga bisa diidentifikasi dalam sampel tinja. Jika hasil tes tidak jelas, sampel darah akan diambil untuk membuat diagnosis. Sampel darah akan diperiksa peningkatan kekuatan antibodi terkait tifoid dengan tes Widal atau dengan tes Tubex.

Selain itu, identifikasi S. typhi juga dilakukan dengan pemeriksaan kultur darah, tinja, urin, atau cairan tubuh dan jaringan lainnya. Tak hanya itu, akan dilakukan pula pemeriksaan DNA tifoid guna menentukan diagnosa jika dibutuhkan.

Komplikasi

Komplikasi -penyakit turunan- paling serius yang bisa terjadi karena demam tifoid adalah pendarahan usus atau lubang (perforasi) di usus. Hal ini dapat terjadi pada minggu ketiga penyakit dan ditandai dengan gejala seperti sakit perut parah, mual, muntah dan infeksi saluran darah (sepsis). Komplikasi yang mengancam jiwa ini membutuhkan perawatan medis segera.

Tak hanya itu, komplikasi dapat pula terjadi di luar saluran pencernaan dapat berupa : Tifoid toksik (Tifoid ensefalopati), syok septik , Hepatitis tifosa, Pankreatitis tifosa, Pneumonia, myocarditis, endocarditis, infeksi ginjal atau kandung kemih, meningitis, masalah psikiatrik seperti delirium, halusinasi. Pasien tifoid dapat berkembang menjadi kronis (sekitar 3% -5% dari mereka yang terinfeksi), dan seringkali dilakukan pengangkatan kandung empedu yang merupakan tempat terjadinya infeksi kronis tersebut.

Penanganan

Karena disebabkan oleh infeksi bakteri, satu-satunya cara efektif untuk mengatasi penyakit ini adalah antibiotik. Umumnya, antibiotik yang digunakan adalah kloramfenikolciprofloksasin, ampicillin, kotrimoksasol, ceftriakson, dan sebagainya. Selain itu, penderita juga dianjurakn untuk meminum banyak cairan guna mencegah dehidrasi akibat demam dan diare yang berkelanjutan.  Jika perlu, akan diberikan pula obat untuk mengurangi gejalanya, seperti obat penurun panas, obat mual, obat batuk. Terakhir, penderita juga dianjurkan untuk megonsumsi makanan bertekstur lembut.

Pencegahan

Untuk mencegah terjadinya demam tifoid, hal yang terpenting adalah menjaga kebersihan makanan dan minuman yang kita konsumsi dengan cara berikut ini:

  • Mencuci tangan dengan air mengalir yang bersih
  • Merebus air untuk minum sampai mendidih
  • Hindari minum air yang belum diolah
  • Hindari minum dengan es batu yang tidak jelas asal airnya
  • Hindari buah dan sayuran mentah
  • Pilih makanan yang dihidangkan panas-panas

Intinya, kebersihan lingkungan menjadi faktor yang sangat penting untuk meminimalisir risiko terjadinya penyakit ini, seperti halnya membuang sampah pada tempatnya, jangan kencing sembarangan, tidak buang air besar sembarangan. Untuk mencegah penularan tifoid, saat ini telah tersedia 2 jenis vaksin tifoid yang bisa Anda gunakan, yaitu vaksin inaktif (suntikan) dan vaksin yang berisi virus yang telah dilemahkan (oral).

Untuk pemberiannya, vaksin tifoid dianjurkan pada beberapa keadaan di bawah ini, yaitu :

  • Orang yang akan berpergian ke daerah yang rawan terhadap infeksi tifoid
  • Orang yang berkontak dengan penderita tifoid
  • Para petugas kesehatan atau tenaga pekerja laboratorium klinik yang memproses bahan2 biologi dan feses juga urine penderita penyakit typhoid

Vaksin typhoid ini perlu diulang setiap 3 tahun sekali, dan  umumnya diberikan pada mereka yang tergolong berisiko tinggi terkena demam tifoid.

Nah, itu tadi serba-serbi demam tifoid yang harus Anda ketahui. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Dapatkan tips-tips kesehatan lainnya dari Tim dokter, langsung dari Smartphone. Yuk, Download aplikasi Go Dok.