Demam Kuning (Yellow Fever); Gejala, Penyebab, dan Penanganan

demam kuning

Demam kuning  dikenal karena penderitanya mengalami perubahan warna kulit menjadi kekuningan. Penyebabnya tidak lain karena pasien mengalami  perdarahan yang akhirnya memicu demam tinggi, perdarahan kulit, dan kematian sel di hati dan ginjal.

Go Dok- Pernahkah Anda mendengar istilah ‘demam kuning’? Di dunia medis, penyakit ini dikenal dengan nama ‘yellow fever’. Apa sebenarnya penyakit ini; dan bagaimana cara menanganinya? Simak paparan lengkap khas Go Dok berikut ini!

Mengenal demam kuning

Istilah demam kuning dikenal karena penderitanya mengalami perubahan warna kulit menjadi kekuningan. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Penyebabnya tidak lain karena pasien mengalami  perdarahan yang akhirnya memicu demam tinggi, perdarahan kulit, dan kematian sel di hati dan ginjal. Nah, kematian sel inilah yang ditenggarai sebagai penyebab perubahan warna kulit.

Demam kuning merupakan penyakit sistemik akut; artinya, penyakit ini dapat menyerang secara tiba-tiba dan memengaruhi seluruh tubuh.

Gejala

Perlu diketahui bahwa 3-6 hari pertama setelah virus menginfeksi tubuh (dikenal juga sebagai ‘masa inkubasi’), pasien tidak akan menunjukkan gejala apapun. Namun, setelah itu ia akan memasuki fase akut; kemudian fase toksik yang terbukti mampu merenggut nyawa penderitanya. Tanda dan gejala demam kuning dikategorikan menjadi dua tahap:

1. Tahap awal dan akut, ditandai dengan:

  • Sakit otot, terutama di bagian punggung dan lutut
  • Demam tinggi
  • Denyut nadi melambat
  • Pusing& sakit kepala
  • Kehilangan selera makan
  • Mual dan muntah
  • Menggigil.

Meskipun umumnya gejala di atas akan hilang dalam 7-10 hari; namun, sekitar 15% pasien demam kuning justru mulai  memasuki tahap kedua -atau tahap toksik.

2. Tahap Toksik

Selama fase toksik, tanda dan gejala akut kembali terjadi dan bertambah parah hingga mengancam nyawa. Data menunjukkan setidaknya 20-50% pasien yang mengalami gejala stadium toksik meninggal dalam kurun waktu 2 minggu.

Berikut gejala tahap toksik yang harus diwaspadai:

  • Demam berulang
  • Sakit perut
  • Muntah, kadang disertai dengan keluarnya bercak darah
  • Tubuh mudah lelah dan lesu
  • Kulit dan mata berwarna kuning
  • Frekuensi buang air kecil berkurang
  • Gagal ginjal& hati
  • Perdarahandari hidung, mulut, dan mata.
  • Penurunan kesadaran/delirium, kejang, bahkan koma
  • Detak jantung menjadi lambat atau tidak teratur (aritmia).
Penyebab

Faktanya, demam kuning disebabakn oleh infeksi Flavivirus—virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Flavivirus diyakini sebagai endemik di antara monyet yang hidup di puncak pohon-pohon hutan (area ini sering disebut juga sebagai kanopi hutan di Afrika dan Amerika).

Faktor Risiko

Lantas, adakah faktor yang dapat menyebabkan seseorang berisiko terkena penyakit ini? Menurut beberapa ahli, risiko individu untuk terjangkit demam kuning dapat meningkat ketika ia terbukti sering melancong ke daerah endemik virus demam kuning, seperti Afrika dan Amerika.

Diagnosis & Pemeriksaan

Untuk mendiagnosa kondisi pasiennya, dokter harus mendeteksi tanda & gejala penyakit serta melakukan tes darah. Tes darah diperlukan karena beberapa penyakit lain -seperti demam berdarah dengue, leptospirosis, malaria, typhus, hepatitis virus, serta keracunan- memiliki tanda dan gejala yang serupa dengan demam kuning.

Dari hasil tes darah, dokter akan mendiagnosis penyakit ini melalui:

  • Turunnya sel darah putih (leukopenia) yang dapat mengungkapkan indikasi terinfeksi virusdan tanda infeksi lainnya pada darah.
  • Antibodi yang dihasilkan tubuh saat virus menginfeksi tubuh. Antibodi ini diperiksa dengan menggunakan metode Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) dan Polymerase Chain Reaction (PCR).
Penanganan

Perlu diketahui bahwa sebenarnya tidak ada obat antiviral yang efektif untuk mengobati demam kuning. Karenanya, pasien dianjurkan untuk melakukan perawatan suportif di rumah sakit, meliputi:

  • Terapi cairan dengan infus intravena
  • Oksigen
  • Menjaga tekanan darah pasien
  • Transfusi darah (jika terjadi perdarahan) 
  • Transfusi plasma darah untuk mengganti protein yang membantu pembekuan
  • Dialisis ginjal jika terjadi gagal ginjal
  • Pengobatan infeksi sekunder jika ada
  • Menjauhkan pasien dari nyamuk agar tidak menular pada orang lain.

Ingat! Pasien sebaiknya menghindari konsumsi Aspirin dan obat anti inflamasi non steroid (NSAID) karena keduanya dapat memicu terjadinya pendarahan.

Lantas, adakah cara yang efektif untuk mencegah penyakit ini? Simak penjelasan lengkap berikut ini!

1. Vaksinasi

Pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dosis tunggal yang mampu melindungi Anda dari infeksi demam kuning selama minimal 10 tahun. Ingat! Anda yang akan mengunjungi daerah endemik wajib mendapatkan vaksin ini; setidaknya 10-14 hari sebelum bepergian.

Efek samping vaksin meliputi:

  • Sakit kepala
  • Demam ringan
  • Nyeri otot dan nyeri di tempat suntikan
  • Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, bayi dan orang tua dapat mengalami reaksi yang lebih serius akibat vaksin, seperti ensefalitis.

Meskipun vaksin ini aman bagi mereka yang berusia  9 bulan-60 tahun; namun, terdapat beberapa kelompok orang yang tidak dianjurkan melakukan vaksinasi, yaitu:

  • Anak-anak < 9 bulan
  • Wanita hamil
  • Ibu menyusui
  • Individu yang alergi terhadap telur
  • Individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya pasien HIV atau individu yang kerap menjalani sesi kemoterapi/
  • Lansia > 60 tahun; mereka harus mendiskusikan keputusan vaksinasi terlebih dahulu dengan dokter.

2. Perlindungan dari nyamuk

Untuk mengurangi resiko digigit nyamuk, lakukanlah langkah-langkah berikut ini:

  • Bila memungkinkan, hindari kegiatan di luar ruangan saat pagi & sore hari.
  • Tutupi kulit tubuh semaksimal mungkin dengan mengenakan kaos lengan panjang dan celana panjang.
  • Rumah sebaiknya memiliki AC dan kawat nyamuk jendela/pintu.
  • Oleskan obat nyamuk yang mengandung perimetrin ke pakaian, sepatu, peralatan berkemah, dan kelambu (tidak secara langsung pada kulit).
  • Lotion penolak serangga  yang mengandung DEET (Diethyl Meta Toluamide) atau Picaridin. Jangan gunakan DEET di tangan anak/bayi yang berusia <2 bulan. Sebagai gantinya, tutup kereta dorong  bayi dengan kelambu saat berada di luar rumah.
  • Minyak lemon dan Eucalyptus; namun, dua bahan ini tidak sesuai untuk anak <3 tahun.

Nah, itu tadi penjelasan mengenai penyakit demam kuning berserta gejala, penyebab dan penanganannya. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Dapatkan tips-tips kesehatan lainnya dari Tim dokter, langsung dari Smartphone. Yuk, Download aplikasi Go Dok.