Cerebral Palsy; Gejala, penyebab dan Penanganan

cerebral palsy

Cerebral palsy dapat dipahami sebagai beberapa kelainan pergerakan yang menimbulkan masalah pada postur tubuh, gaya berjalan, tonus otot, dan koordinasi gerakan.

GoDok- Pernahkah Anda mendengar nama penyakit cerebral palsy? Jika masih asing dengan kondisi medis yang satu ini, ada baiknya untuk menyimak penjelasan lengkap khas Go Dok berikut ini!

Mengenal Cerebral Palsy

Sejatinya, cerebral palsy terdiri dari dua kata; yaitu ‘cerebral’ yang mengacu pada otak besar, dan ‘palsy’ yang berarti kelumpuhan gerakan  sukarela di bagian tubuh tertentu. Jadi, cerebral palsy dapat dipahami sebagai beberapa kelainan pergerakan yang menimbulkan masalah pada postur tubuh, gaya berjalan, tonus otot, dan koordinasi gerakan.

Perlu diketahui bahwa penyakit ini umum sekali menimpa anak-anak. Buktinya, lebih dari 10.000 anak di dunia setiap tahunnya dinyatakan menderita penyakit yang satu ini.

Jika ditangani dengan baik, pasiennya tetap dapat hidup dengan normal. Sebaliknya, jika tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat, bisa saja memicu komplikasi lain, seperti gangguan penglihatan dan pendengaran.

Gejala

Anda pastinya sudah paham dengan fakta bahwa otak merupakan organ penting dalam tubuh manusia. Salah satu alasannya adalah karena organ ini berfungsi untuk mengendalikan sistem motorik tubuh.

Jika otak sampai rusak, maka individu terkait akan mengalami kesulitan berjalan, berbicara, atau menyelesaikan tugas sehari-hari secara mandiri. Nah, hal ini pulalah yang terjadi pada pasien cerebral palsy.

Jika ditilik lebih lanjut, maka cerebral palsy dibagi menjadi 4 jenis utama, yaitu:

  • Spastic (70% kasus)

Jenis yang paling umum ini disebabkan oleh kerusakan korteks motorik otak. Gejala khasnya sendiri meliputi gerakan kaku dan berlebihan.

  • Atetoid/dyskinetic (10% kasus)

Disebabkan oleh cedera pada ganglia basalis (bagian otak yang bertugas untuk mengendalikan keseimbangan dan koordinasi), Pada jenis ini umunya ditandai dengan tremor/bergetar dengan tidak disengaja.

  • Ataksia (10% kasus)

Ternyata, ataksis cerebral palsy  disebabkan oleh kerusakan serebelum (otak kecil) yang notabene merupakan bagian otak yang terhubung ke tulang belakang. Akibatnya, pasien akan menunjukkan gejala umum berupa kurangnya koordinasi dan keseimbangan tubuh.

  • Mixed/Campuran (10% kasus)

Perlu diketahui bahwa beberapa kasus diklasifikasikan sebagai campuran. Hal ini terjadi ketika pasien menunjukkan gejala lebih dari satu jenis cerebral palsy.

Selain keempat pembagian di atas, penyakit ini juga dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat keparahan atau lokasi kelumpuhan. Berikut penjelasan lengkapnya:

  • Monoplegia– Kelumpuhan satu tungkai.
  • Diplegia/Paraplegia– Kelumpuhan dua tungkai, biasanya kaki.
  • Hemiplegia– Kelumpuhan di satu sisi tubuh.
  • Quadriplegia– Kelumpuhan seluruh tubuh (wajah, lengan, tungkai, batang tubuh).
  • Double hemiplegia– Kelumpuhan seluruh tubuh.

Terlepas dari jenisnya, penyakit ini umumnya ditandai dengan beberapa gejala khas, seperti:

  • Masalah dengan gerakan di satu sisi tubuh.
  • Otot kaku.
  • Refleks berlebihan; atau tersentak.
  • Gerakan tidak disengaja;atau tremor.
  • Kurangnya koordinasi dan keseimbangan.
  • Mengiler (drooling).
  • Masalah menelan atau mengisap.
  • Kesulitan berbicara (dysarthria).
  • Kejang dan kontraksi otot (otot memendek).
  • Perkembangan motorik yang lambat.
  • Suka mengompol.
  • Masalah pada sistem pencernaan.

Bagi para orangtua, Anda juga perlu mewaspadai beragam kondisi yang umumnya menyertai penyakit ini, seperti:

  • Epilepsi.
  • Gangguan penglihatan, pendengaran, atau berbicara.
  • Autisme.
  • Sakit kronis lainnya.
  • Hiperaktif /Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
  • Gangguan kesehatan mental.
Penyebab

Dokter dan ahli mengemukakan bahwa penyebab utama penyakit ini adalah kerusakan neurologis yang menimpa janin/bayi sebelum lahir, selama proses kelahiran, atau dalam lima tahun pertama setelah kelahiran.

Berikut beberapa factor pemicu kerusakan neurologis yang dimaksud:

  • Infeksi bakteri dan virus, termasuk rubella dan CMV (cytomegalovirus).
  • Pendarahan pada otak (hemorrhage).
  • Kurangnya oksigen ke otak sebelum, selama,atau setelah kelahiran (asfiksia)
  • Paparan pra-lahir terhadap obat-obatan terlarang, alkohol, merkuri dari ikan, dan toksoplasmosis dari daging yang masih mentah/kurang matang.
  • Cedera kepala yang terjadi selama proses kelahiran, atau pada beberapa tahun pertama masa kanak-kanak.
  • Hiperbilirubin; kondisi medis yang disebabkan oleh terlampau tingginya jumlah bilirubin (pigmen kimiawi yang disaring oleh hati). Biasanya ditandai dengan kulit bayi yang terlihat menguning, banyak orangtua kemudian tidak sadar bahwa anaknya tengah mengalami hiper bilirubin. Padahal, jika dibiarkan terus berlanjut, jumlah bilirubin akan semakin meningkat dan beracun bagi otak.
Faktor Risiko

Berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko individu menderita penyakit ini:

  • Lahir prematur. Data menunjukkan bahwa 10-305 penderita cerebral palsy terbukti lahir prematur.
  • Berat badan lahir rendah (BBLR).
  • Kelahiran abnormal, seperti kelahiran sungsang (kaki lebih dulu keluar).
  • Diabetes maternal atau tekanan darah tinggi.
  • Kesehatan ibu buruk.
Diagnosis dan Pemeriksaan

Untuk mendiagnosa kondisi pasien, dokter biasanya akan menyarankan beberapa macam tes pencitraan, seperti:

  • Magnetic Resonance Imaging (MRI).
  • Computed Tomography scan (CT-scan).
  • Electroencephalogram (EEG).
  • Ultrasonografi kranial.

Jika Anda sebagai orangtua khawatir buah hati menderita kondisi medis ini, maka dianjurkan untuk langsung berkonsultasi dengan spesialis cerebral palsy demi mendapatkan hasil analisa observasional dan tes diagnostik dengan segera.

Penanganan

Sangat disayangkan bahwa hingga kini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan cerebral palsy. Tenang! Tetap ada cara yang dapat Anda praktikkan demi membantu anak-anak atau orang dewasa dengan cerebral palsy agar dapat menjalani kehidupan dengan optimal. Cara yang dimaksud meliputi:

  • Pengobatan dini; dimulai tepat setelah diagnosa ditegakkan
  • Manajemen seumur hidup.

Demi mendapatkan hasil yang optimal, orangtua juga dapat berkonsultasi dengan tim multidisiplin yang terdiri dari:

  • Dokter Spesialis Anak.
  • Dokter Specialis Saraf.
  • Dokter Bedah Ortopedi.
  • Terapis fisik.
  • Terapis pernafasan.
  • Terapis bicara.
  • Ahli gizi.
  • Terapis okupasional.
  • Psikolog (untuk menilai kemampuan dan perilaku).

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Gunakan aplikasi Go Dok untuk dapatkan ragam layanan kesehatan gratis, langsung dari Smartphone. Download aplikasinya di sini.