Bromhidrosis; Penyebab, Gejala dan Penanganan

bromhidrosis

Bromhidrosis mengacu pada kondisi di mana bau badan seseorang tidak normal. Hal ini terjadi akibat bakteri pada kulit yang memecah asam pada keringat. Beberapa studi menyatakan bahwa kelenjar keringat berperan cukup banyak pada kondisi ini.

Go Dok – Pernahkah Anda mendengar istilah ‘bromhidrosis’? Jika masih asing dengan nama penyakit ini, maka ada baiknya untuk mulai menyimak penjelasan lengkap khas Go Dok berikut!

Mengenal bromhidrosis

Sejatinya, bromhidrosis mengacu pada kondisi di mana bau badan seseorang tidak normal. Hal ini terjadi akibat bakteri pada kulit yang memecah asam pada keringat. Beberapa studi menyatakan bahwa kelenjar keringat berperan cukup banyak pada kondisi ini.

Perlu diketahui bahwa dalam kondisi normal, keringat tidaklah berbau. Namun, jika terdapat bakteri pada lapisan kulit, maka keringat akan dipecah menjadi asam lemak dan amonia yang menghasilkan bau menyengat dan tidak sedap. Faktanya, keadaan ini dapat dipengaruhi oleh konsumsi makanan (misalnya: bawang putih, kari, atau rempah-rempah), alkohol, kelebihan berat badan, atau kondisi medis tertentu (misalnya: kencing manis, penyakit hati, atau penyakit ginjal).

Nah, penyakit ini sendiri merupakan fase kronis dari kondisi di atas; dan dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya. Selain itu, kondisi ini juga umum terjadi pada individu yang sudah melewati masa pubertas. Beberapa studi melaporkan bahwa pria lebih sering mengalami kondisi bau badan yang tidak normal ini dibandingkan wanita. Hal ini mungkin terjadi karena pria cenderung lebih aktif dalam aktivitas fisik dibandingkan wanita.

Epidemiologi
  • Bromhidrosis lebih sering terjadi di negara – negara Asia.
  • Banyak ahli yang mengaitkannya  dengan tingkat stres dan tekanan individu terkait.
  • Penyakit ini lebih sering terjadi pada individu yang berkulit gelap.
  • Di Asia, bromhidrosis dikaitkan dengan riwayat keluarga.
  • Pria lebih sering mengalaminya dibandingkan dengan wanita.
Penyebab

Saat suhu tubuh kita meningkat, tubuh berusaha untuk mendinginkan diri melalui proses penguapan yang kita kenal dengan keringat. Keringat yang sejatinya terdiri dari air dan garam kemudian akan mencapai permukaan kulit -terutama saat kita sedang dalam keadaan stres atau tertekan secara psikis. Nah, jika terdapat bakteri di permukaan kulit, maka agen ini akan merombak keringat menjadi asam lemak dan amonia. Kombinasi 2 senyawa inilah uang menghasilkan bau menyengat, tajam, dan tidak sedap.

Faktor risiko

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lebih berisiko menderita penyakit ini:

  • Berasal dari keluarga dengan riwayat keluhan yang sama.
  • Jenis kelamin. Terbukti bahwa pria lebih berisiko terkena dibandingkan wanita.
  • Terinfeksi bakteri Corynebacterium.
  • Menderita gangguan metabolisme, seperti gangguan asam amino.
  • Kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu, seperti bawang putih, rempah-rempah, atau kari.
  • Terbiasa minum miras.
Gejala

Bromhidrosis umumnya ditandai oleh:

  • Keringat berbau menyengat, tajam, atau apek.
  • Produksi keringat berlebih.
  • Keringat umumnya mengganggu rutinitas atau aktivitas sehari-hari
Diagnosis

Bagi pasien bromhidrosis, segera konsultasikan kondisi Anda ke dokter atau rumah sakit terdekat. Karena meskipun penyakit ini tidak mengancam nyawa, namun kondisi ini tetap saja dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Ingat! Paparkan keluhan Anda yang secara mendetail, karena dengan begitu dokter dapat dengan mudah menegakkan diagnosa. Selain itu, jangan lupa untuk mengonsultasikan riwayat penyakit, terutama jika Anda terbukti pernah menderita penyakit hati, kencing manis, dan ginjal.

Penanganan

Untuk menangani bromhidrosis, Anda harus mengingat poin-poin penting berikut ini:

  • Jaga jumlah bakteri kulit alami pada tubuh seminimal mungkin. Caranya adalah dengan menggunakan sabun anti-bakteri setiap kali mandi.
  • Jaga area tubuh yang banyak mengandung kelenjar apokrin (ketiak, selangkangan, dll) tetap kering.
  • Jaga kebersihan diri dengan mandi minimal dua kali sehari.

Selain dengan menerapkan cara di atas, Anda juga dapat menerapkan langkah-langkah pencegahan berikut ini:

  • Cukur rambut bawaan secara teratur untuk mencegah terjadinya penumpukan bakteri.
  • Gunakan pakaian yang terbuat dari katun, wol, atau sutera karena dapat mempercepat proses penguapan keringat.
  • Gunakan pakaian yang bersih dan pastikan bahwa Anda selalu mencucinya setiap hari.
  • Batasi konsumsi makanan yang dapat membuat keringat berbau.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.