Benign Prostatic Hyperplasia (BPH); Gejala, Penyebab dan Penanganan

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)– merupakan pembesaran kelenjar prostat yang dapat menimbulkan gejala tidak nyaman, terutama saat buang air kecil.

GoDok-  Para pria, akrabkah Anda dengan kondisi medis bernama Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) ? Eits, jangan anggap sepele! Karena jika tidak ditangani dengan segera, BPH dapat mengancam kesehatan Anda. Karenanya, yuk, kenali BPH lebih dalam lewat penjelasan khas Go Dok berikut ini!

Mengenal Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Pada pria, membesarnya kelenjar prostat seiring dengan bertambahnya usia memang merupakan kondisi yang umum terjadi. Namun, Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)- merupakan pembesaran kelenjar prostat yang dapat menimbulkan gejala tidak nyaman, terutama saat buang air kecil. Apabila tidak diobati, kondisi ini dapat menghambat aliran sekresi urine dari kandung kemih sehingga menyebabkan masalah pada kandung kemih maupun ginjal.

Gejala

Meskipun gejala Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) pada masing-masing pria sangatlah beragam, namun mayoritas kasus menunjukkan bahwa kondisi ini umumnya ditandai oleh:

  • Buang air kecil yang sering dan tergesa-gesa
  • Meningkatnya frekuensi buang air kecil di malam hari (nokturia)
  • Kesulitan mulai buang air kecil
  • Aliran air kencing yang lemah
  • Ketidakmampuan untuk benar-benar mengosongkan kandung kemih
  • Bisa disertai dengan infeksi saluran kemih
  • Darah dalam urin
Penyebab

Sayangnya, hingga kini penyebab pasti BPH belum dapat diketahui. Namun, banyak ahli dan dokter yang meyakini bahwa kondisi medis ini disebabkan oleh perubahan keseimbangan hormon seks seiring dengan bertambahnya usia pada pria.

Faktor risiko

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan seseorang lebih rentan terkena Benign Prostatic Hyperplasia (BPH):

  • Pembesaran kelenjar prostat jarang menyebabkan gejala pada pria berusia di bawah 40 tahun. Namun, kondisi ini dapat berubah ketika usia >60 tahun; karena sekitar 1/3 pria mengalami gejala sedang sampai parah pada usia 60 tahun, dan sekitar separuhnya mengalaminya pada usia 80 tahun.
  • Riwayat keluarga. Memiliki ayah atau saudara laki-laki dengan masalah prostat terbukti meningkatkan risiko pria menderita BPH.
  • Riwayat penyakit. Studi menunjukkan bahwa diabetes, penyakit jantung, dan penggunaan beta blocker ternyata dapat meningkatkan risiko BPH.
  • Gaya hidup. Pria dengan berat badan berlebih (obesitas) terbukti lebih beresiko terkena BPH dibanding individu normal.
 Diagnosis

Untuk mendiagnosa kondisi pasien, dokter umumnya akan menyarankan beberapa macam pemeriksaan fisik, seperti:

  • Pemeriksaan rektum. Dalam pemeriksaan ini, dokter akan memasukkan jari ke dalam rektum pasien. Tujuannya adalah untuk memeriksa prostat dan menentukan apakah terjadi pembesaran atau tidak.
  • Pemeriksaan urin. Hasil sampel urin dapat membantu menyingkirkan infeksi atau kondisi lain yang bisa saja menyebabkan gejala serupa.
  • Pemeriksaan Prostat Spesifik Antigen (PSA).PSA dapat meningkat bila seseorang mengalami pembesaran prostat.

Jika hasil pemeriksaan di atas dirasa masih kurang komprehensif, maka dokter dapat menganjurkan tes penunjang lain, semisal:

  • USG transrektal. Alat USG dimasukkan ke dalam rektum untuk mengukur dan mengevaluasi prostat.
  • Biopsi prostat.Dengan menggunakan USG transrektal, contoh jaringan (biopsi) prostat dapat diambil dan ditelaah lebih lanjut.
Penanganan

Sebelum menentukan langkah penanganan BPH, dokter biasanya akan mempertimbangkan beberapa hal, seperti:

  • Ukuran pembesaran prostat
  • Usia
  • Kesehatan pasien secara keseluruhan
  • Tingkat ketidaknyamanan terhadapa gejala yang ada

Jika gejala dapat ditoleransi, dokter mungkin saja menunda tindakan operasi dan menitikberatkan pengobatan pada terapi obat-obatan. Berikut beberapa jenis obat yang mungkin digunakan:

  • Obat golongan penghambat alfa. Obat ini berfungsi untuk mengendurkan otot leher kandung kemih dan serat otot di prostat demi memudahkan buang air kecil. Efek samping yang harus diwaspadai meliputi pusing serta kondisi seperti air mani kembali ke kandung kemih, bukan di ujung penis (ejakulasi retrograde).
  • Obat golongan 5-alpha reductase inhibitor. Dengan cara mencegah perubahan hormonal, obat-obatan ini dipercaya dapat mengecilkan ukuran prostat. Namun, Anda harus mewaspadai efek sampingnya, yaitu ejakulasi retrograde.

Terapi invasif -atau bedah minimal- dianjurkan jika konsumsi obat-obatan tidak menunjukkan hasil apapun, atau jika BPH sudah terlanjur parah. Berikut beberapa jenis terapi minimal invasif yang dimaksud:

a. Reseksi transurethral pada prostat (TURP)

Setelah menjalani prosedur TURP, gejala BPH biasanya akan berkurang dengan cepat dan pasien pun dapat buang air kecil dengan lancar. Namun, pasca terapi dilaksanakan pasien umumnya akan bergantung pada penggunaan kateter yang ditujukan untuk menguras kandung kemih. Selain itu, pasien juga dilarang untuk melakukan  aktivitas berat sampai dinyatakan sembuh.

b. Insisi prostat transurethral (TUIP)

Operasi ini dapat menjadi opsi jika pasien terbukti: memiliki kelenjar prostat kecil, kelenjar prostat terus membesar, atau jika pasien ternyata memiliki riwayat penyakit yang membuat tindakan operasi lain terlalu berisiko.

c. Termoterapi microwave transurethral (TUMT)

Operasi jenis ini umumnya dianjurkan untuk pasien BPH dengan ukuran prostat yang kecil. Satu hal yang perlu diingat dari tindakan operasi ini adalah TUMT memerlukan perawatan ulang.

d. Ablasi jarum transurethral (TUNA)

Umumnya, dokter akan menganjurkan prosedur ini jika pasien mudah berdarah atau memiliki masalah kesehatan tertentu. Namun, seperti halnya TUMT, TUNA hanya efektif untuk menghilangkan gejala BPH saja -dan mungkin perlu waktu sebelum pasien melihat hasilnya.

e. Terapi laser

Terapi laser dapat dicoba oleh pasien yang rutin mengonsumsi obat pengencer darah.

f. Prostatektomi terbuka

Prostatektomi terbuka umumnya dilakukan jika pasien memiliki ukuran prostat yang besar, mengalami kerusakan kandung kemih, atau terbukti menderita faktor rumit lainnya.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.