Bell’s Palsy; Penyebab, Gejala dan Penanganan

Bell’s palsy

 

 

Bell’s palsy adalah kelumpuhan atau kelemahan saraf akut yang terjadi hanya pada satu sisi tubuh. Meski begitu, kelumpuhan ini secara bertahap dan dalam rentang waktu tertentu dapat mengalami perbaikan.

Go Dok- Bell’s palsy- Pernahkah Anda melihat seseorang menderita kelumpuhan yang hanya di salah satu sisi wajahnya? Mungkin Anda kerap berpikir bahwa orang itu pastilah menderita stroke. Namun, hal ini sebenarnya belum tentu. Bisa saja, orang yang Anda lihat menderita Bell’s palsy. Apa itu? Untuk lebih lengkapnya, mari simak penjelasan lengkapnya berikut ini :

Mengenal Bell’s palsy

Bell’s palsy adalah kelumpuhan atau kelemahan saraf akut yang terjadi hanya pada satu sisi tubuh. Meski begitu, kelumpuhan ini secara bertahap dan dalam rentang waktu tertentu dapat mengalami perbaikan. Hingga saat ini  belum diketahui penyebabnya dan merupakan hal yang umum ditemukan pada penderita kelumpuhan di satu sisi wajah. Kerusakan saraf wajah yang mengendalikan otot di satu sisi ini dapat menyebabkan sebelah wajah menjadi lumpuh atau lemah. Hal ini termasuk kelumpuhan indera pengecapan, yang kehilangan fungsinya sehingga produksi air mata dan air liur menjadi berkurang. Penyakit ini terjadi secara tiba-tiba dan dapat mengalami perbaikan dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Meskipun terdengar mirip, namun penyakit ini bukanlah penyakit yang sama dengan stroke.

Sebab, umumnya hanya memengaruhi satu dari saraf wajah dan satu sisi wajah. Namun, pada beberapa kasus yang cukup jarang terjadi, hal ini dapat pula mempengaruhi kedua sisi wajah. Kelumpuhan mendadak ini perlu diperiksa lebih lanjut untuk menentukan penyebab utamanya. Untuk lebih jelas, berikut adalah beberapa fakta dan statistik terkait penyakit ini :

  • Sebagian besar survei menunjukkan terjadinya15-30 kasus penyakit ini per 100.000 penduduk per 
  • Di Amerika Serikat, angka kejadianpenyakit ini diperkirakan sekitar 23 kasus per 100.000 orang per tahunnya.
  • Wanita dalam rentang usia 10-19 tahun lebih rentan terkena penyakit ini dibandingkanpria pada kelompok usia yang sama.
  • Wanita hamil memiliki risiko 3 kali lebih tinggi terkena daripada wanita yang tidak hamil
  • Penderita diabetes memiliki risiko 30% lebih tinggi terkena daripada mereka yang tidak menderita diabetes.
  • Lebih sering terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem imun yang lemah.
  • Individu yang berada pada rentang usia20 – 40 tahun akan lebih rentan terkena penyakit ini.
Penyebab

Bell’s palsy terjadi ketika saraf yang mengendalikan otot wajah membengkak, meradang, atau tertekan, sehingga terjadi kelemahan atau kelumpuhan otot wajah. Meski demikian, penyakit ini belum diketahui secara pasti. Para ahli percaya bahwa infeksi virus seperti meningitis virus, virus pilek, serta virus herpes simpleks merupakan penyebab umum terjadinya penyakit ini. Saraf wajah yang membengkak dan meradang karena infeksi, dapat menyebabkan tekanan pada saraf dan menyebabkan terbatasnya suplai darah serta oksigen ke sel-sel saraf. Selain itu, penyakit ini juga kerap dihubungkan dengan influenza atau penyakit seperti flu, sakit kepala, infeksi telinga tengah yang kronis, diabetes, tekanan darah tinggi, tumor, dan trauma seperti cedera pada wajah.

Gejala

Bell’s palsy merupakan kelumpuhan wajah sementara akibat kerusakan atau trauma pada saraf wajah. Nah, setiap saraf wajah normalnya mengendalikan otot-otot di suatu sisi wajah, seperti untuk berkedip, menutup mata, serta membentuk ekspresi wajah (tersenyum, mengernyit, tertawa). Selain itu, saraf wajah juga bertugas untuk mengendalikan kelenjar air mata, kelenjar air liur, serta  mentransmisikan sensasi rasa pada lidah Anda.

Nah, saat penyakit ini menyerang, fungsi saraf wajah menjadi terganggu. Hal ini akan menyebabkan gangguan pada pengendalian saraf menuju otot wajah. Akhirnya, terjadilah kelemahan atau kelumpuhan wajah.

Berikut ini adalah gejala dari terjadinya penyakit ini :

  • Kelumpuhan pada wajah bagian atas dan bawah di salah satu sisi wajah yang mencapai puncaknya pada waktu 48 jam
  • Keluarnya air mata pada satu sisi yang keluar berlebihan hingga dapat menjadikan mata kering.
  • Sensitivitas berlebihan terhadap suara
  • Gangguan pengecapan
  • Kesulitan dalam berbicara
  • Kelopak mata tidak dapat menutup sempurna
  • Mati rasa pada pipi atau mulut
  • Penglihatan kabur
  • Kesulitan untuk makan maupun minum
  • Nyeri pada telinga walaupun jarang terjadi
  • Nyeri pada bagian mata
Diagnosis

Diagnosis dari penyakit ini akan dilakukan oleh dokter berdasarkan riwayat penyakit Anda secara menyeluruh dan pemeriksaan fisik. Tak hanya itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang diagnostik bila diperlukan. Penampilan wajah yang lemah pada satu sisi dan ketidakmampuan untuk menggerakkan otot pada sisi wajah dapat memperlihatkan suatu kelainan pada saraf, meskipun penyebabnya belum diketahui. Saat penderita muncul dengan kelemahan otot wajah yang tiba-tiba, kemungkinan diagnosis lainnya akan dieliminasi terlebih dahulu, satu per satu,  sebelum mendiagnosisnya

Pada kondisi dan situasi tertentu, kemungkinan beberapa tes juga akan dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis lainnya. Berikut adalah beberapa tes penunjang diagnostik yang mungkin perlu dilakukan :

  • Tes darahyang dapat membantu dalam menegakkan diagnosis dan mencari penyebab lainnya, seperti diabetes dan infeksi tertentu.
  • Tes elektromiografi, yang dapat menunjukkan ada atau tidaknya kerusakan pada saraf serta menentukan tingkat keparahannya.
  • Pemindaian dengan Magnetic Resonance Imaging(MRI) atau Computerized Tomography (CT scan), yang dapat menghilangkan kemungkinan penyebab lainnya terkait kelumpuhan saraf wajah.
Penanganan

Penderita Bell’s palsy diketahui memiliki angka kesembuhan yang cukup baik, karena didukung pemulihan penderita yang umumnya terjadi secara spontan. Meski begitu, penderita tetap memerlukan pengobatan guna memperbaiki dan mengurangi kerusakan saraf pada wajah. Tak hanya itu, pengobatan juga dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi dari penyakit ini. Berikut adalah beberapa obat yang umumnya diresepkan dokter pada penderita:

  • Pengobatan ini adalah pengobatan yang paling umum digunakan untuk penderitanya. Namun, sampai saat ini penggunaan kortikosteroid masih diperdebatkan keefektifannya, karena sebagian besar penderita justru dapat sembuh dengan sendirinya.
  • Obat antivirus.Penggunaan obat antivirus diperkirakan dapat sedikit membantu pemulihan penderita penyakit ini, baik dalam terapi tunggal maupun kombinasi.

Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat dilakukan penderitanya untuk membantu memulihkan perlahan-lahan kondisi tubuh menjadi lebih baik. Langkah langkah yang dapat dilakukan, yaitu

  1. Lakukan latihan pada wajah. Pada saat saraf di wajah sudah dapat berfungsi lagi melakukan latihan sederhana umumnya membantu perbaikan otot wajah. Mengencangkan dan melemaskan otot wajah dapat membuat otot-otot pada wajah menjadi lebih kuat.
  2. Lakukanperawatan mata. Penderita penyakit ini umumnya tidak dapat mengedipkan atau menutup matanya secara sempurna. Hal ini akan membuat mata menjadi kering sehingga bisa saja menimbulkan luka dan gangguan penglihatan. Penggunaan obat tetes mata (air mata buatan) dapat membantu mencegah keringnya mata. Meski begitu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anda terkait jenis tetes mata apa yang akan Anda
  3. Gunakan plester penutup mata saat tidur. Hal ini dapat membuat mata tetap lembap dan tidak kering , serta mencegah benda asing masuk ke dalam mata saat Anda tengah tertidur.
  4. Lakukan Perawatan mulut. Penderita yang  kehilangan kemampuan pengecapan (lidah)  dan hanya menghasilkan sedikit air liur, dapat menyebabkan makanan tersangkut pada gigi. Kondisi ini dapat menyebabkan penyakit pada gusi maupun kerusakan gigi. Menyikat dan membersihkan gigi cukup membantu untuk mencegah masalah ini.
  5. Berlatih. Latihlah daya telan Anda dengan mengunyah makanan secara perlahan. Latihan ini akan membantu Anda dalam menguatkan otot-otot yang digunakan untuk mengunyah. Mengonsumsi makanan lembut juga dapat Anda lakukan guna memperbaiki otot-otot ini.

Nah, itu dia serba-serbi penyakit Bell’s palsy yang harus Anda ketahui. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.