Bayi Tabung; Cara Dapatkan Buah Hati ala Cynthia Lamusu

bayi tabung

 

Dalam dunia medis, bayi tabung dikenal dengan istilah In Vitro Fertilization (IVF). Ayo, mengenal bayi tabung dan jenis prosedur bayi tabung.

GoDok – Lama tidak terdengar kabarnya di dunia hiburan, Cythia Lamusu beserta suami -Surya Saputra- ternyata tengah menikmati masa-masa indah memiliki momongan. Namun, ada yang mengejutkan dari berita bahagia ini. Ya, fakta bahwa Cynthia dan suami harus melewati prosedur bayi tabung demi mendapatkan keturunan membuat publik terhenyak.

Seberapa dalamkah Anda mengenal prosedur bayi tabung? Berikut Go Dok paparkan penjelasan lengkapnya:

Sekilas tentang bayi tabung

Dalam dunia medis, bayi tabung dikenal dengan istilah In Vitro Fertilization (IVF). Singkatnya, prosedur ini melibatkan pengambilan sel telur yang matang dari indung telur calon ibu untuk kemudian dibuahi oleh sperma calon ayah di dalam medium berbentuk cairan. Jika berhasil, maka embrio akan dimasukkan ke dalam rahim. Inilah yang membuat peluang kehamilan semakin besar dibanding proses normal.

Di Indonesia, prosedur In Vitro Fertilization umumnya menelan biaya sebesar Rp.60-70 juta -sesuai dengan tuturan dr. Ivan Sini Sp.OG., dari RSIA Bunda. Namun, harga ini dianggap sepadan oleh pasangan yang telah mendamba buah hati sejak lama sebab tingkat keberhasilannya yang terhitung tinggi.

Jenis-jenis prosedur bayi tabung

Ternyata, prosedur bayi tabung dibagi ke dalam beberapa jenis, seperti:

1. Stimulasi minimal

Jenis yang pertama adalah stimulasi minimal. Pada jenis ini, calon ibu akan diberikan obat atau suntikan yang tidak terlalu agresif. Tujuannya adalah untuk merangsang ovarium agar dapat memproduksi sel telur yang berkualitas baik.

Jika sel telur yang layak sudah ditemukan, maka akan langsung dipindahkan ke laboratorium untuk kemudian dibuahi oleh sperma calon ayah. Embrio yang terbentuk dari proses ini kemudian akan dipindahkan ke dalam rahim.

2. IVM

IVM (In Vitro Maturation) adalah jenis prosedur bayi tabung yang paling populer. Salah satu alasan mengapa jenis ini paling banyak dipilih -selain karena harganya yang lebih murah- adalah karena minimnya penggunaan obat atau suntikkan yang bisa memicu hiperstimulasi ovarium.

Cara kerjanya sendiri adalah dengan mengambil sel telur dari rahim untuk kemudian dimatangkan di laboratorium. Jika sel telur sudah siap, maka akan langsung dibuahi oleh sperma agar terbentuk embrio. Embrio inilah yang akan dimasukkan ke rahim ibu agar dapat berkembang layaknya janin normal.

(Baca: Water Birth, Tren Baru di Dunia Persalinan)

3. Pembekuan embrio

Jenis selanjutnya adalah pembekuan embrio. Singkatnya, sel telur akan dibuahi oleh sperma melalui bantuan tenaga medis hingga terbentuklah embrio sebanyak 9-10. Ketika sebagian diuji cobakan agar dapat berkembang menjadi janin, sebagian lainnya akan disimpan di sebuah bank embrio. Tujuannya tidak lain untuk mengganti embrio yang gagal berkembang sehingga calon ayah dan ibu masih memiliki kesempatan untuk memiliki momongan.

4. ICSI

Kependekan dari Intra-Cytoplasmic Sperm Injection, ICSI merupakan metode inseminasi yang memungkinkan suami dengan jumlah sperma yang sangat sedikit untuk tetap memiliki momongan.

Normalnya, sperma harus menempuh perjalanan jauh agar dapat membuahi sel telur. Namun, dengan jumlah yang sedikit serta kualitas yang buruk, proses pembuahan akan sulit dilakukan. Inilah yang dapat diatasi oleh prosedur ICSI, di mana sperma akan disuntikkan langsung ke sel telur. Jadi, kemungkinan sel sperma mati sebelum membuahi lebih rendah persentasenya.

(Baca: Bunda, Waspadai Komplikasi Kehamilan Berikut)

Faktor penentu keberhasilan bayi tabung

Ternyata, terdapat beberapa faktor yang menentukan apakah prosedur bayi tabung dapat berhasil atau tidak, seperti:

  • Umur calon ibu
  • Berat badan
  • Kebiasaan merokok atau minum alkohol
  • Kualitas serta jumlah embrio yang ditanamkan

Jadi, apakah Anda setuju dan tertarik ingin mempunyai buah hati dengan salah satu cara di atas? Jika iya, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan ya!

(Baca juga: Menunda Kehamilan dengan Pil KB, Amankah?)