Bagaimana Respon Tubuh terhadap Minuman Berenergi?

Respon tubuh terhadap minuman berenergi

GoDok- Respon tubuh terhadap minuman berenergi- Minuman berenergi kerap kali diiklankan sebagai penolong di saat tubuh Anda perlu tenaga ekstra untuk pekerjaan yang lebih berat dan keras. Sajian visual kaleng dengan bulir-bulir embun yang menandakan dinginnya minuman tampak semakin menggoda untuk ditenggak.

Sebenarnya bagaimana respon tubuh terhadap minuman berenergi jika Anda mengonsumsinya?

Minuman berenergi memang dibuat untuk memberikan Anda tenaga ‘ekstra’ untuk beraktivitas. Campuran air dan elektrolitnya sering dikira sebagai sumber tenaga. Namun, banyak ahli yang mempercayai, energi tersebut sebenarnya, berasal dari dua kandungan utama, yaitu gula dan kafein yang terkandung dalam setiap kemasannya.

Seperti namanya, minuman berenergi memang dimaksudkan untuk mendorong performa tenaga Anda. Dalam hal tersebut, kafein dan gula sangat membantu. Kafein, yang bersifat stimulan, berfungsi untuk menghambat efek adenosin, substansi di otak yang terlibat dalam kebutuhan tidur Anda. Ketika kafein menolak adenosin tersebut, maka neuron di otak Anda akan ‘membara’.

Dalam situasi tersebut, respon tubuh terhadap minuman berenergi ini akan menganggapnya sebagai keadaan darurat, di mana kelenjar pituitari akan memulai respons “fight or flight” dan melepaskan adrenalin ke dalam tubuh. Hormon tersebutlah yang akan membuat jantung berdetak lebih cepat.

Dalam waktu bersamaan pula, hati kemudian melepaskan gula tambahan ke dalam peredaran darah untuk energi. Kafein juga memengaruhi tingkat dopamin, sebuah zat yang berada dalam pusat kesenangan di dalam otak. Reaksi tubuh tersebutlah yang kemudian membuat Anda lebih berenergi.

Berdasar pernyataan Dr. John Higgins, kardiologis dari McGovern Medical School di University of Texas Health Science Center Amerika Serikat, kebanyakan minuman berenergi juga mengandung vitamin B dan beberapa stimulant legal, seperti tumbuhan guarana asal Amazon; taurine, asam amino yang terdapat pada daging dan ikan; serta L-carnitine, substansi dalam tubuh manusia yang dapat mengubah lemak menjadi energi.

Seorang Ahli Diet dari Mayo Clinic, Minnesota, Amerika, meyakini bahwa fungsi  asam amino, vitamin, dan tumbuh-tumbuhan tersebut meningkat ketika bertemu dengan kafein.

Butuh atau Hindari?

Minuman berenergi sebenarnya dibuat dalam dosis yang tepat dan menjadi bagian dari nutrisi tambahan. Secara umum, minuman berenergi adalah minuman yang aman. Namun, konsumsi yang berlebihan tetaplah tidak baik bagi kesehatan.

Hal tersebut dikarenakan adanya kandungan kafein yang bersifat stimulan. Meminum terlalu banyak kafein dapat menyebabkan jantung berdebar-debar, rasa gelisah, dan insomnia. Mengonsumsi terlalu banyak kafein bahkan dapat menimbulkan kegelisahan yang membuat Anda mudah tersinggung.

Respon tubuh terhadap minuman berenergi pada beberapa kasus di mana orang mengalami gagal jantung setelah mengonsumsi lebih dari satu minuman berenergi. Setelah diteliti, tidak ada hal yang aneh selain tingginya level kafein dan taurin yang menyebabkan keracunan.

American Academy of Pediatrics kemudian membatasi pengonsumsian minuman berenergi, seperti pelarangan bagi anak-anak. Mayo Clinic membatasi penggunaan 400 milligram kafein per harinya untuk orang dewasa. Yang berarti, orang dewasa pun dibatasi hanya satu kaleng minuman berenergi setiap harinya.

Jadi, setelah mengetahui respon tubuh terahadap minuman berenergi ini masih mau banyak-banyak mengonsumsi minuman berenergi? Coba Anda pikirkan lagi konsumsi minuman berenergi Anda dan utamakan kesehatan Anda!

Baca juga:

Konsultasi dokter kini bisa lewat fitur ‘Tanya Dokter’. Download aplikasinya Go Dok di sini.