ALS; Penyakit Mematikan yang Mendera Kreator Spongebob Squarepants

GoDok Siapa yang tidak mengenal kartun “Spongebob Squarepants”? Kartun yang berkisah tentang kehidupan berbagai jenis makhluk laut ini sudah belasan tahun menjadi tontonan wajib anak-anak di televisi. Namun, kabar buruk menimpa kreator kartun laris ini. Ya, Stephen Hillenburg divonis dokter tengah menderita penyakit mematikan ALS.

Apa itu ALS; dan bagaimana cara mengobatinya? Yuk, tambah wawasan Anda dengan menyimak penjelasan lengkap berikut ini!

Apa itu ALS?

ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) mengacu pada sebuah penyakit degeneratif yang menyerang sel saraf motorik. Apa itu sel saraf motorik? Singkatnya, sel saraf ini bertanggung jawab atas penyampaian informasi yang berasal dari otak dan menuju ke saraf tulang belakang (medulla spinalis). Terganggunya sel saraf motorik dapat menyebkan kemunduran beberapa fungsi penting tubuh, seperti berjalan, berbicara, dan makan.

ALS -yang juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig- umumnya menimpa mereka yang berumur 40-70 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan jika Anda yang berusia 20-30 tahun juga dapat tertimpa penyakit mematikan yang satu ini.

Ternyata, ALS dipicu oleh beberapa faktor, seperti…

Meskipun penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun para peneliti dari University of Nortwestern meyakini bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang berpeluang tinggi mengidap ALS. Faktor yang dimaksud meliputi:

– Genetik

Tahukah Anda, bahwa 10 persen dari total penderita ALS terbukti berasal dari keluarga dengan riwayat penyakit serupa? Singkatnya, jika orang tua menderita ALS, maka anak-anaknya memiliki risiko 50% lebih besar menderita penyakit ini dibanding orang biasa.

– Umur

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, mereka yang berusia 20-70 tahun berpeluang lebih besar mengidap ALS dibanding kelompok usia lainnya.

– Jenis kelamin

Terakhir, ALS lebih banyak menimpa kaum pria dibanding wanita. Ini dibuktikan oleh data statistik yang menyatakan bahwa 60% penderita ALS adalah laki-laki.

Apa saja gejala ALS yang harus diwaspadai?

Segera konsultasikan kesehatan Anda atau anggota keluarga jika mulai menunjukkan satu atau lebih gejala di bawah ini:

  1. Kesulitan berbicara; selain karena menurunnya kontrol atas otot mulut, penderita ALS stadium akhir umumnya juga mengalami penebalan lidah. Dua hal tadilah yang menyebabkan penurunan atau hilangnya kemampuan berbicara.
  2. Otot sering berkedut; gejala ini sering dianggap remeh oleh penderita ALS di masa-masa awal penyebaran penyakit sebab sering dianggap sebagai gejala dari kondisi kesehatan yang lain.
  3. Sulit menggunakan kaki dan tangan; jangan anggap remeh bila Anda mulai merasakan penurunan fungsi serta kekuatan otot kaki dan tangan. Biasanya, penderita ALS akan merasa kesulitan untuk menulis, berjalan, beridiri, dan akitivitas lainnya yang melibatkan penggunaan kaki serta tangan.
  4. Mudah lelah; hal ini disebabkan oleh semakin menurunnya kekuatan otot tubuh, terutama yang berhubungan dengan fungsi motorik.
  5. Kejang otot; pada penderita ALS, kejang otot akan sering terjadi dan berlangsung dalam durasi yang lama.
  6. Sulit menelan; terakhir, ALS juga menurunkan fungsi otot diafragma. Hasilnya, penderita akan kesulitan menelan sehingga diharuskan untuk mengonsumsi makanan dalam berbentuk cairan.

Meskipun banyak fungsi tubuh yang hilang karena penyakit ALS, namun penderita tetap tidak akan mengalami gangguan pada fungsi kognitif atau mental. Artinya, penderita ALS masih bisa melihat, mendengar, serta mengerti dan memahami hal-hal yang ada di sekitarnya.

Bagaimana cara mengobati ALS?

Kabar buruk bagi para penderita ALS. Sebab, sampai sekarang belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Namun, bukan berarti tidak ada langkah yang dapat dipraktikkan untuk menopang hidup penderita ALS. Berikut beberapa treatment yang banyak dilakukan di dunia medis bagi para penderita ALS:

  • Terapi pernapasan dengan menggunakan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) dan BiPAP (Bi-level Positive Airway Pressure)
  • Terapi fisik. Terapi jenis ini biasanya melibatkan latihan atau pergangan berintensitas rendah yang ditujukan untuk memperlambat penyusutan otot.
  • Pemasangan PEG (Percutaneous Endoscopic Gastronomy), sebuah saluran yang disisipkan ke dalam lambung dan digunakan sebagai saluran masuknya makanan.
  • Terapi bicara
  • Penggunaan kursi roda atau alat bantu jalan untuk bergerak

Semoga bermanfaat!