Akalasia; Penyebab, Gejala dan Penanganan

akalasia

Akalasia disebabkan oleh rusaknya saraf pada dinding kerongkongan; para ahli menduga bahwa kondisi ini didalangi oleh infeksi virus di usia dini.

GoDok- Pernah mendengar nama penyakit ‘akalasia’? Jika belum, yuk, simak penjelasan lengkap tentang penyakit ini -disertai poin lengkap mengenai penyebab, gejala, dan cara menanganinya!

Mengenal akalasia

Akalasia adalah sebuah kondisi medis yang ditandai dengan hilangnya fungsi atau kemampuan gerakan normal kerongkongan untuk mendorong makanan ke perut. Lengkapnya, penyakit ini menyebabkan katup pada kerongkongan gagal terbuka sehingga makanan tidak dapat masuk ke lambung. Akibatnya, makanan akan terjebak dan terdorong kembali ke atas (dimuntahkan). Hingga kini, belum ditemukan obat untuk kelainan ini. Namun, gejala penyakit ini  dapat ditangani dengan terapi minimal invansif, atau operasi.

Epidemiologi
  • Di Amerika Serikat, angka kejadian akalasia diperkirakan sebanyak 1/000 orang per tahun.
  • Perubahan bentuk kerongkongan paling sering menimpa pasien anorexia nervosa dan varises esofagus.
  • Di Belanda, rata-rata kejadian akalasia pada anak-anak adalah sebanyak 0,1/100,000 orang per tahun.
  • Rasio pasien wanita dan pria adalah 1 : 1
  • Akalasia biasa terjadi pada orang dewasa yang berusia antara 25-65 tahun.
Penyebab

Akalasia disebabkan oleh rusaknya saraf pada dinding kerongkongan; para ahli menduga bahwa kondisi ini didalangi oleh infeksi virus di usia dini. Lebih lanjut, para ahli juga percaya bahwa akalasia erat hubungannya dengan kondisi autoimun (keadaan di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel, jaringan dan organ sehat).

Lantas, apakah penyakit ini diturunkan secara genetik? Hingga kini, belum ditemukan hasil studi yang mendukung atau membantah pertanyaan tadi. Walaupun demikian, perlu diingat bahwa penyakit ini dapat menimpa siapa saja; tidak peduli tua atau muda, pria atau wanita.

Gejala

Pada sebagian kasus, pasien biasanya mengeluhkan sulit menelan. Hati-hati! Seiring dengan berjalannya waktu, kondisi ini dapat bertambah parah. Akibatnya, pasien berisiko besar mengalami keluhan lainnya, semisal sakit saat menelan, muntah-muntah, batuk, penurunan berat badan drastis, hingga nyeri dada & rasa terbakar pada dada.

Diagnosis

Akalasia biasanya dapat terdekteksi dari hasil pemeriksaan foto rontgen dada atau pemeriksaan lainnya. Namun, karena gejalanya hampir serupa dengan gangguan pencernaan lainnya, dokter biasanya akan menyarankan pasien untuk menjalani beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Foto rontgen sistem pencernaan atas – pemeriksaan ini dilakukan dengan bantuan cairan yang digunakan untukmelapisi saluran pencernaan atas. Tujuannya? Agar dokter dapat dengan mudah menelaah perut dan usus bagian atas, serta menentukan ada atau tidaknya penyumbatan pada kerongkongan.
  • Pengukuran kerongkongan – dengan menggunakan alat khusus, dokter dapat mengukur kontraksi otot pada kerongkongan. Lengkapnya, tes ini ditujukan untukmenilai koordinasi dan kekuatan otot kerongkongan; serta menelaah seberapa baik cincin otot kerongkongan bekerja pada saat rileks maupun saat Anda
  • Endoskopi – dalam pemeriksaan ini, dokter umumnya akan memasukkanalat berupa tabung (alat ini disertai kamera tipis dan fleksibel) ke kerongkongan dan perut bagian dalam. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengumpulkan sampel jaringan untuk kemudian di uji di lab. Hasil pengujian inilah yang dapat menentukan apakah pasien sudah mengalami komplikasi, atau belum.
Penanganan

Seperti yang telah disinggung di bagian sebelumnya,;akalasia tidak dapat disembuhkan, namun gejalanya dapat diringankan dengan berbagai langkah pengobatan. Berikut penjelasan lengkapnya:

  • Ternyata, beberapa jenis obat-obatan dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kemampuan menelan pasien. Namun, sayangnya langkah ini dianggap kurang efektif. Mengapa? Karena kerongkongan umumnya sudah dalam kondisi kaku. Karenanya, pemberian obat-obatan bisanya harus dibarengi perawatan khusus sesuai anjuran dokter.
  • Peregangan otot.Teknik khusus yang dipraktikkan oleh tim dokter ini dilakukan dengan cara meregangkan otot-otot kerongkongan A Namun, lagi-lagi solusi ini dianggap masih memiliki beberapa kekurangan, salah satunya adalah risiko kerongkongan mengalami kegawatdaruratan.
  • Operasi– dengan melakukan operasi, otot kerongkongan akan diperbaiki agar bisa kembali rileks. Dengan menerapkan langkah ini, kemampuan menelan pasien biasanya akan mengalami perbaikan yang bersifat permanen.
Komplikasi

Berikut beberapa komplikasi medis yang mengintai pasien akalasia jika tidak mendapatkan penanganan dengan segera:

  1. Kanker eofagus
  2. Gastroesophageal reflux disease
  3. Perforasi esofagus

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

Jaga kesehatan Anda dengan gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk diskusikan permasalahan kesehatan Anda. GRATIS! Download aplikasi Go Dok, di sini.