ADHD; Penyebab, Gejala dan Penanganan

ADHD

ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah kumpulan gejala yang ditandai dengan kehiperaktifan, kesulitan untuk memusatkan perhatian, serta kecenderungan untuk bertindak impulsif.

GoDok- ADHD- Anda tentu sudah sering sekali mendengar istilah ADHD. Namun, seberapa dalamkah Anda mengenal kondisi medis ini? Yuk, simak penjelasan lengkap khas Go Dok berikut ini!

Mengenal ADHD

Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah kumpulan gejala yang ditandai dengan kehiperaktifan, kesulitan untuk memusatkan perhatian, serta kecenderungan untuk bertindak impulsif. Kondisi ini merupakan kondisi kronis yang memengaruhi jutaan anak di seluruh dunia, dan gejalanya dapat berlanjut hingga usia dewasa.

Terdapat 3 tipe Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), yaitu:

  1. Tipe dengan manifestasi klinis hiperaktif; dicirikan dengan gerakan tubuh berlebih.
  2. Tipe dengan manifestasi klinis kesulitan memusatkan perhatian; dicirikan dengan kesulitan fokus pada satu hal/kegiatan.
  3. Tipe dengan kombinasi keduanya.
Epidemiologi
  • Di dunia, angka kejadian penyakit ini diperkirakan sebanyak 8%-12%.
  • Di Amerika Serikat, setidaknya 1 dari 10 anak usia sekolah yang berumur 4-17 tahundidiagnosis menderita Jumlah totalnya pun terus meningkat, setidaknya itulah yang tergambar dari grafik tahun 1998-2009.
  • Anak laki-laki berisiko menderita ADHD 3-5 kali lebih besar dibanding anak perempuan. Beberapa penelitian menunjukkan perbandingan angka kejadian penyakit ini antara laki-laki danperempuan adalah 5:1.
  • Tipe ADHD dengan gejala kesulitan untuk memusatkan perhatian ternyata lebih banyak ditemukan pada anak perempuan.
  • Angka kejadian penyakit ini pada orang dewasa diperkirakan sebanyak 2% – 7%.
Penyebab

Perlu diketahui bahwa pada masing-masing individu terdapat bagian otak tertentu yang berfungsi untuk mengendalikan kemampuan berkonsentrasi. Nah, pada penderita ADHD, bagian otak ini mungkin kurang aktif dan/atau berkembang lebih lambat. Namun, terlepas dari perkiraan para ahli tersebut, penyebab pasti kondisi ini hingga kini belum diketahui secara pasti.

Berikut beberapa faktor yang menyebabkan seseorang berisiko terkena gangguan ini:

  • Keturunan. Sebanyak 35% anak dengan yang menderita penyakit initerbukti berasal dari keluarga yang memiliki riwayat penyakit serupa (biasanya ADHD turut diderita oleh orang tua atau saudara kandung)
  • Lahir prematur dan memiliki berat lahir rendah
  • Terlahir dari ibu yang merokok, menggunakan obat terlarang, atau senang mengonsumsi miras.
  • Cedera otak.Meskipun terhitung jarang, namun sebagian kasus ADHD nyatanya disebabkan oleh cedera otak.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, gejala ADHD dapat bertahan hingga usia dewasa. Karenanya, jika tidak ditangani sejak dini, dapat memicu timbulnya beragam kesulitan, seperti:

  • Sulit bersosialisasi. Individu dengan ADHD sering mengalami kesulitan dalam membuat dan mempertahankan teman. Mengapa? Sebab, kecenderungan bertingkah hiperaktif ataupun impulsif terbukti dapat membuat merea sulitmenaati aturan, mengendalikan emosi, dan mengatakan hal yang sesuai.
  • Sulit mengontrol diri. Kondisi ini biasanya ditandai dengan gerakan tubuh yang tidak sesuai dengan situasi & kondisi; atau sering berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya.
  • Kesulitan dalam berorganisasi, planning, dan belajar hal-hal baru.Mengapa? Sebab, ADHD umumnya memengaruhi bagian otak yang berhubungan dengan fungsi eksekutif.
  • Kesulitan memahami arah
Gejala

Pada dasarnya, ADHD dicirikan dengan 3 gejala utama, yaitu hiperaktif, kesulitan untuk memusatkan perhatian, dan tingkah laku umpulsif. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Hiperaktif, dicirikan oleh kecenderungan:

  • Berbicara terus – menerus
  • Bergerak tanpa henti, bahkan saat duduk
  • Tidak dapat beraktivitas dengan diam, baik saat makan atau saat melakukan aktivitas lainnya
  • Keinginan untuk mengambil semua yang ada di pandangannya

2. Kesulitan untuk memusatkan perhatian, dicirikan oleh kecenderungan:

  • Sering melamun
  • Terlihat bingung
  • Sulit berkonsentrasi
  • Berganti aktivitas dengan cepat dari satu kegiatan ke kegiatan lain tanpa menyelesaikannya
  • Kesulitan menyelesaikan tugas
  • Kesulitan memperlajarihal – hal baru

3.  Impulsif, dicirikan oleh kecenderungan:

  • Tidak sabar
  • Tidak dapat mengikuti aturan
  • Mengganggu orang lain
  • Bereaksi berlebihan terhadap perasaan atau situasi emosional tertentu
  • Tidak mengerti konsekuensi dari tindakannya
Diagnosis

Jika Anda atau anak terbukti menunjukkan beberapa atau banyak gejala ADHD di atas, maka segera konsultasikan kondisi ini ke dokter. Dengan begini, dokter dapat menentukan penanganan medis seperti apa yang paling cocok untuk diterapkan, hingga kemungkinan untuk merujuk pada ahli lainnya.

Penanganan

Kondisi ini nyatanya dapat ditangani dengan kombinasi terapi obat-obatan dan terapi perilaku. Namun, ingat! Untuk terapi pertama -yaitu terapi obat-obatan-, semuanya harus didasarkan pada resep dan anjuran dokter. Lantas, bisakah kombinasi 2 cara di atas mengobati ADHD secara permanen? Sayangnya tidak. Sebab, terapi ADHD berfungsi untuk meringankan gejala dan memperbaiki kualitas hidup pasien saja (mengurangi tingkah impulsif, membuat pasien lebih tenang, dll).

Baca juga:

Konsultasi kesehatan kini bisa langsung lewat gadget Anda. Download aplikasi Go Dok di sini.